"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Kami Tak Lagi Kecewa! Surat Terbuka Bonek untuk Azrul Ananda



—Surat terbuka yang ditulis oleh Bonek, suporter Persebaya Surabaya, kepada Presiden klub Azrul Ananda menarik perhatian publik. Nada surat tersebut terasa tegas dan penuh emosi. Isi surat itu menyampaikan satu kalimat yang kini menjadi perbincangan di kalangan penggemar sepak bola.

“Kami sudah tidak lagi kecewa. Kami sudah pada level menahan kemarahan,” tulis Bonek dalam suratnya.

Surat ini muncul setelah Persebaya Surabaya pulang dari pertandingan melawan Bhayangkara Presisi Lampung FC. Tim Green Force kembali dengan satu poin dari laga yang berakhir imbang 1-1 di Stadion PKOR Sumpah Pemuda. Meski hasilnya bisa dibilang cukup, suporter justru merasa lebih banyak pertanyaan daripada rasa lega.

Pertandingan tersebut menunjukkan tekanan yang terus-menerus dilakukan oleh Persebaya sejak babak kedua. Mereka menciptakan beberapa peluang berbahaya, namun efektivitas serangan tetap menjadi masalah utama. Bruno Moreira mencoba membuka skor pada menit ke-49, tetapi tembakannya melebar tipis dari gawang Aqil Savik.

Beberapa kesempatan berikutnya juga gagal dimaksimalkan. Misalnya, saat Mihailo Perovic mengirim umpan cutback untuk Malik Risaldi, tetapi pemain tersebut gagal mengontrol bola. Aqil Savik tampil gemilang dengan blok krusial yang menjaga gawang Bhayangkara tetap aman.

Persebaya kembali mencoba memperkuat serangan lewat umpan Gali Freitas kepada Mihailo pada menit ke-64. Sayangnya, penyelesaian akhir Mihailo masih gagal dan membuat para suporter semakin frustrasi.

Bhayangkara FC merespons dengan sundulan Nehar Sadiki pada menit ke-80. Ernando Ari berhasil menepis bola yang mengarah ke tiang jauh. Dua menit kemudian, Persebaya akhirnya unggul setelah Catur Pamungkas menyambar bola liar yang kemudian masuk ke gawang sendiri akibat upaya clearance Putu Gede.

Namun, keunggulan tersebut buyar pada menit 90+8 ketika Dendy Sulistyawan mencetak gol penyamaan melalui sundulan. Ernando Ari, yang beberapa kali menyelamatkan tim, tidak mampu menjangkau bola yang mengarah tepat ke tiang jauh.

Hasil imbang ini membuat Persebaya Surabaya kembali dengan satu poin dan berada di posisi ke-8 klasemen sementara dengan 17 poin. Namun, reaksi suporter setelah pertandingan jauh lebih keras dibandingkan skor akhir.

Fanbase @onlinepersebaya merilis surat terbuka dari salah satu anggota Bonek yang ditujukan langsung kepada Azrul Ananda. Surat ini berisi kritik tajam dan kegelisahan suporter yang merasa perjalanan klub tidak kunjung menemukan arah yang jelas.

Penulis surat membuka dengan nada menyentil:
“Sadarkah Bapak bahwa segala rencana yang selama ini diagungkan untuk Persebaya justru tak pernah benar-benar berjalan sebagaimana mestinya?”

Kalimat ini mencerminkan rasa jenuh yang menumpuk selama bertahun-tahun. Suporter menilai Persebaya seperti berada dalam lingkaran kesalahan yang berulang. “Musim demi musim, kesalahan yang sama terus berulang, seakan tak pernah dipelajari apalagi diperbaiki,” tulis Bonek.

Kritik juga menyentuh fokus manajemen yang sering kali diarahkan ke hal eksternal. “Janganlah perhatian Bapak hanya tertuju pada kesalahan pihak luar,” tulis Bonek dalam suratnya. Mereka meminta Azrul melihat lebih dalam pada orang-orang kepercayaannya.

“Cobalah sekali saja menoleh ke dalam, apakah orang-orang yang Bapak percayai sungguh menjalankan amanahnya dengan layak?” tulis mereka dalam bagian yang paling menonjol.

Bonek juga menyoroti kebiasaan klub mengganti pelatih tanpa membangun fondasi yang kuat. “Setiap musim pelatih menjadi kambing hitam, silih berganti tanpa ada fondasi kuat yang dibangun,” tulis mereka.

Selain itu, Bonek mempertanyakan kemudahan klub melepas pemain yang bersinar. “Para pemain yang bersinar pun begitu mudahnya lepas, seakan mempertahankan kualitas adalah kemewahan yang tidak mampu dijangkau klub sebesar Persebaya,” ungkap Bonek.

Kekecewaan semakin terasa ketika suporter kembali mengungkit kebutuhan pemain pelapis yang tak pernah dipenuhi. “Bahkan untuk mendatangkan pelapis Rivera saja sebuah kebutuhan yang sudah sangat jelas melemahkan Persebaya musim lalu manajemen tidak mau,” tulis mereka dengan nada penuh kekecewaan.

Bagian paling keras dalam surat ini adalah ketika kalimat Azrul sendiri dikembalikan kepada dirinya. “Kami sudah tidak lagi kecewa. Kami sudah pada level menahan kemarahan,” tulis sang Bonek, mengutip pernyataan yang dulu dilontarkan sang presiden klub.

Namun surat tersebut bukan semata ledakan emosional karena di bagian akhir tetap terselip harapan. “Persebaya tidak butuh janji lagi, yang dibutuhkan adalah perubahan yang nyata,” tulis mereka dengan tegas namun tetap penuh cinta pada klub.

Surat itu ditutup dengan kalimat yang mencerminkan harapan sekaligus peringatan. “Semangat Pak, masih banyak yang percaya,” tandas Bonek.

Kini giliran manajemen Persebaya Surabaya yang harus merespons suara yang tak lagi bisa diabaikan ini. Suporter menunggu tindakan konkret yang mampu membalikkan situasi dan mengembalikan kepercayaan yang terus tergerus dari musim ke musim.

Ratna Purnama

Seorang reporter yang gemar meliput isu publik, transportasi, dan dinamika perkotaan. Ia memiliki kebiasaan membaca opini koran setiap pagi untuk memperluas perspektif. Hobi utamanya adalah jogging, fotografi, dan menikmati senja. Motto: "Kepekaan adalah modal utama seorang penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *