"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Pria Nekat Datangi Sepupu Minta Jatah Warisan Rp 1 Miliar

Konflik Warisan Picu Pembunuhan oleh Keluarga Sendiri

Sebuah peristiwa tragis terjadi di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatra Selatan (Sumsel), yang berawal dari konflik warisan senilai Rp1 miliar. Seorang pria bernama Sugiansyah (36) alias Yansyah tewas setelah ditusuk lima kali oleh sepupunya sendiri, Farij Pardian Mahadrika (26). Peristiwa ini terjadi pada Jumat (10/4/2026) saat korban sedang memantau pembangunan rumah barunya di Kota Lubuklinggau.

Korban dibunuh di hadapan anak dan istrinya sendiri. Menurut informasi yang diperoleh, Farij bersama keluarganya, Ariansyah, Ranawati, dan Fedril, datang ke lokasi pembangunan rumah korban untuk meminta bagian 20 persen dari uang warisan tersebut. Namun, korban menolak permintaan tersebut, sehingga memicu cekcok yang berujung pada penusukan.

“Sebelumnya memang pernah ribut karena masalah itu (warisan). Infonya pelaku minta 20 persen, tak diberi,” kata seorang kerabat korban yang enggan disebut namanya.

Istri korban, Ria, menyampaikan harapannya agar semua pelaku dapat diringkus. “Pelakunya itu 4 orang, saya minta semuanya ditangkap, jangan hanya 1 orang,” ujarnya.

Penangkapan Satu Pelaku

Setelah kejadian tersebut, polisi langsung melakukan penyelidikan. Salah satu pelaku, Farij, berhasil ditangkap oleh Tim Macan, Sat Intelkam, dan Polsek Lubuklinggau Utara. Saat ini, tersangka sudah diamankan di Polres Lubuklinggau untuk penyelidikan lebih lanjut.

Menurut Kanit Reskrim Polsek Lubuklinggau Utara, Ipda Benny Kurniawan, proses penyelidikan dilakukan dengan cepat setelah mendapat laporan. “Setelah mendapat laporan, Tim Macan, Sat Intelkam, dan Polsek Lubuklinggau Utara langsung melakukan penyelidikan,” ungkap Benny.

Kisah Lain: Anak Artis Menolak Warisan Besar

Selain kasus di Sumsel, ada kisah lain yang juga mencuri perhatian publik. Seorang anak artis Jepang, putra dari Miho Nakayama, menolak menerima warisan senilai sekitar Rp212 miliar. Miho Nakayama, yang meninggal dunia pada 6 Desember 2024 di usia 54 tahun, dikenal sebagai aktris dan penyanyi legendaris di Jepang.

Putra sang aktris, lahir dari Miho dan mantan suaminya, Hitonari Tsuji, seorang musisi, hidup terpisah dari ibunya selama bertahun-tahun setelah perceraian orang tuanya. Ia pindah ke Prancis dan hanya bertemu kembali dengan ibunya sekitar 10 tahun setelah kematiannya.

Meskipun menjadi ahli waris sah, putra Miho memilih untuk melepaskan hak warisnya. Alasan utamanya adalah struktur pajak warisan yang tinggi di Jepang. Di Jepang, harta warisan di atas ambang batas tertentu dikenakan pajak hingga 55 persen, dan harus dibayar tunai dalam waktu 10 bulan sejak proses warisan dimulai.

Profil Miho Nakayama

Miho Nakayama adalah salah satu bintang papan atas di Jepang pada tahun 1980-an dan 1990-an. Ia memulai debutnya pada tahun 1985 dengan drama ‘I always make a fuss’. Selain akting, ia juga aktif sebagai penyanyi dan meraih Penghargaan Artis Baru Terbaik di Japan Record Awards.

Di Korea, Miho dikenal sebagai Fujii Itsuki dalam film Love Letter (1999) karya Iwashunji. Adegan di taman salju di Hokkaido, di mana ia berteriak “Saya baik-baik saja”, masih menjadi momen yang terkenal hingga saat ini.


Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *