"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Sosok Novel Baswedan yang Tuduh Penyiraman Air Keras Andrie Yunus Terorganisir, Pelaku Harus Dalam Selidiki

Penyiraman Air Keras terhadap Andrie Yunus Dianggap sebagai Kejahatan Terorganisasi

Novel Baswedan, mantan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), menyatakan bahwa penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus adalah kejahatan terorganisasi. Menurutnya, tindakan tersebut bertujuan untuk membunuh korban. Ia juga meminta Presiden Prabowo Subianto untuk memberikan perhatian khusus pada kasus ini.

Novel Baswedan menilai bahwa penyiraman air keras ini merupakan tindakan yang direncanakan dengan matang. Ia mengungkapkan bahwa pelaku tidak bekerja sendirian, melainkan terorganisir dan memiliki simbol-simbol tertentu dalam aksinya. Hal ini menunjukkan bahwa serangan tersebut dilakukan secara terencana dan bukan sekadar tindakan spontan.

“Ada simbol-simbol yang dia lakukan di lapangan sehingga ketika menyerang itu begitu terorganisir. Ini suatu yang direncanakan untuk menyerang,” ujarnya.

Pola kejahatan ini diduga tidak berkaitan dengan masalah pribadi terhadap Andrie. Oleh karena itu, Novel menekankan pentingnya pengusutan kasus ini secara menyeluruh dan melibatkan berbagai pihak.

Ia juga mendesak agar semua orang yang terlibat dalam kasus ini diusut hingga tuntas. “Semua orang yang terlibat harus diusut. Aktor intelektualnya harus disentuh, harus dijangkau dan diberikan pertanggungjawaban yang berat,” katanya.

Novel menegaskan bahwa pelaku tidak boleh hanya diberi sanksi ringan. Ia khawatir jika hal itu terjadi, maka akan ada orang-orang lain yang berani meniru perbuatan serupa. “Bayangkan kalau pelaku-pelaku yang sebrutal ini, sebiadab begini, hanya diberikan sanksi yang ringan, maka orang-orang berani meniru perbuatan itu,” tambahnya.

Siapa Novel Baswedan?

Novel Baswedan lahir di Semarang pada 22 Juni 1977. Ia aktif menjadi anggota polisi sejak tahun 1999 hingga 2014. Selama masa kerjanya di Polri, ia memiliki rekam jejak karier yang cemerlang. Setelah lulus dari Akademi Kepolisian pada tahun 1998, ia ditugaskan di Bareskrim Mabes Polri selama dua tahun.

Di Akpol, Novel satu angkatan dengan putra eks Kapolri Da’i Bachtiar, Brigjen Pol Adi Vivid Agustiadi Bachtiar. Ia juga pernah menjabat beberapa posisi strategis, termasuk sebagai Kasat Reskrim di Polres Bengkulu pada tahun 2004.

Pada tahun 2007, Novel ditugaskan sebagai penyidik di KPK. Pada 2014, ia memutuskan untuk meninggalkan Polri dan tetap bekerja di KPK. Karier di KPK-nya sangat baik, ia terlibat dalam pembongkaran berbagai kasus besar.

Pada tahun 2011, ia berhasil membongkar kasus korupsi dan membawa pulang Muhammad Nazaruddin dari pelariannya di Kolombia. Tidak lama berselang, ia kembali membongkar kasus korupsi Wisma Atlet SEA Games 2011 yang menyeret aktris Angelina Sondakh.

Penyiraman Air Keras terhadap Novel Baswedan

Nama Novel Baswedan menjadi sorotan publik setelah menjadi korban penyerangan oleh orang tak dikenal. Serangan terjadi pada 11 April 2017, saat ia disiram air keras di dekat kediamannya di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Serangan tersebut terjadi saat ia sedang menyelidiki kasus korupsi pengadaan KTP Elektronik yang melibatkan Ketua DPR Setya Novanto.

Akibat serangan itu, keesokan harinya, Novel diterbangkan ke Singapura untuk menjalani operasi dan perawatan matanya. Ia kembali ke Indonesia pada Februari 2018. Sayangnya, serangan itu menyebabkan kebutaan permanen pada mata kirinya akibat air keras mengenai wajah.

Polri membentuk tim gabungan pencari fakta yang terdiri dari penyidik KPK, anggota kepolisian, Komnas HAM serta akademisi pada Januari 2019 untuk menyelidiki kasus ini. Pada 26 Desember 2019, Polri menyatakan pelaku penyerangan Novel berhasil ditangkap. Mereka adalah Ronny Bugis dan Rahmat Kadir yang merupakan dua anggota aktif kepolisian.

Namun, Novel menyatakan bahwa kedua pelaku tersebut hanyalah orang suruhan dan meminta kepolisian mengungkap dalang utama di balik kedua pelaku.

Kronologi Penyiraman Air Keras Andrie Yunus

Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya, membenarkan kejadian tragis tersebut. Ia menjelaskan bahwa serangan tersebut dilakukan oleh Orang Tidak Dikenal (OTK) saat korban tengah mengendarai sepeda motor.

“Telah mengalami serangan penyiraman air keras oleh Orang Tidak Dikenal (OTK) yang mengakibatkan terjadinya luka serius di sekujur tubuh terutama pada area tangan kanan dan kiri, muka, dada, serta bagian mata,” kata Dimas.

Berdasarkan informasi awal, Andrie Yunus saat itu melintasi Jalan Salemba I – Talang, Jakarta Pusat. Tiba-tiba, dua orang pelaku yang mengendarai motor matic (diduga Honda Beat tahun 2016-2021) menghampiri dengan cara melawan arah di Jembatan Talang.

“Pelaku merupakan 2 orang laki-laki yang melakukan operasinya dengan menggunakan satu motor, masing-masing berperan menjadi pengemudi dan penumpang,” ucap Dimas.

Pasca kejadian, Andrie segera dilarikan ke rumah sakit. “Dari hasil pemeriksaan, Andrie mengalami luka bakar sebanyak 24 persen,” tuturnya.

Menariknya, tidak ada barang berharga milik korban yang hilang, sehingga kuat dugaan ini adalah serangan terencana. “Kami menilai bahwa tindakan penyiraman air keras ini merupakan upaya untuk membungkam suara-suara kritis masyarakat khususnya pembela HAM,” tegas Dimas.

Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *