Mantan Penyidik KPK Sebut Serangan Air Keras Terhadap Aktivis Terorganisir
Mantan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan, menyatakan bahwa serangan penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, bukanlah tindakan kekerasan biasa. Ia menduga serangan tersebut dilakukan secara terorganisir dan telah direncanakan sebelumnya.
Menurut Novel, indikasi tersebut terlihat dari pola pergerakan pelaku yang terekam kamera pengawas. Dia menilai ada koordinasi di lapangan yang menunjukkan bahwa pelaku tidak bergerak secara spontan.
“Dari CCTV yang saya perhatikan, saya yakin pelakunya terorganisir. Pelakunya enggak satu motor yang berdua gitu, enggak. Ada simbol-simbol yang dilakukan di lapangan sehingga ketika menyerang itu begitu terorganisir. Ini suatu yang direncanakan,” kata Novel dalam konferensi pers yang disiarkan melalui kanal YouTube resmi Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Jumat (13/3/2026).
Penyelidikan Harus Diarahkan untuk Ungkap Aktor Intelektual
Menurutnya, aparat penegak hukum tidak boleh hanya berhenti pada penangkapan pelaku lapangan. Penyelidikan harus diarahkan untuk mengungkap aktor intelektial yang diduga berada di balik peristiwa tersebut.
“Ini suatu yang direncanakan. Aktor intelektualnya harus disentuh, harus dijangkau dan diberikan pertanggungjawaban yang berat,” ujar Novel.
Tindakan Pelaku Menunjukkan Niat Serius untuk Melukai
Novel juga menilai metode serangan yang digunakan menunjukkan adanya niat serius untuk melukai korban. Dia mengatakan, penyiraman air keras ke area wajah mengindikasikan tujuan pelaku untuk menimbulkan dampak yang sangat berat bagi korban.
“Andrie Yunus orang baik. Dia orang yang berintegritas, kritis, dan berani. Apa yang dialami, serangannya itu saya yakin maksudnya membunuh. Kenapa? Pelakunya ini menyiram air keras di area muka. Paling tidak pelaku ini menghendaki cacat permanen. Begitu jahatnya pelaku ini,” kata dia.
Meski demikian, Novel menegaskan bahwa aksi teror semacam ini tidak akan membuat para aktivis masyarakat sipil mundur atau merasa takut.
“Tujuan pelaku membuat takut kami, salah besar. Kami enggak takut,” ujarnya.

Minta Akuntabilitas Penegakan Hukum kepada Negara
Koordinator KontraS Dimas Bagus Arya mengatakan, teror air keras yang menimpa rekan sejawatnya Andrie Yunus, bukan lagi alarm bagi kebebasan demokrasi di Indonesia, tapi peristiwa ini sebagai jurang demokrasi.
“Jadi saya mau menyampaikan bahwa situasi ini sudah bukan alarm lagi. Teman-teman di sini semua berkumpul, ini bukan menyampaikan bahwa kita ada di alarm bahaya demokrasi. Inilah jurang demokrasi. Inilah titik nadir demokrasi,” ujarnya.
Dimas mengatakan, kasus ini adalah tindakan yang sangat-sangat brutal. KontraS, kata dia, meminta akuntabilitas penegakan hukum kepada negara.
“Kami meminta keseriusan negara untuk serius terhadap perlindungan hak asasi manusia. Kami juga meminta supaya rezim hari ini, yang mau dan juga sudah membuat Kementerian Hak Asasi Manusia, itu mau berdiri bersama para pembela hak asasi manusia,” katanya.

Negara Wajib Ungkap Pelaku Teror dan Tanggung Biaya Pengobatan
Ketua Umum yLBHI Muhammad Isnur, mendesak negara mengusut secara menyeluruh pelaku penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus. Menurutnya, tindakan tersebut merupakan bentuk teror terhadap pembela hak asasi manusia sehingga penanganannya harus dilakukan secara serius dan transparan. Negara dinilai memiliki kewajiban memastikan pelaku segera diidentifikasi, ditangkap, dan diproses secara hukum.
Selain itu, pemerintah juga diminta bertanggung jawab terhadap pemulihan korban, termasuk menjamin seluruh biaya pengobatan akibat serangan tersebut. Isnur menegaskan, kasus ini tidak boleh dibiarkan tanpa kejelasan karena menyangkut perlindungan bagi pejuang HAM di Indonesia.
“Kita juga mendorong negara bertanggung jawab. Andaikan Andri membutuhkan pengobatan yang maksimal ya sampai ke manapun kami minta negara memfasilitasi,” ujarnya.

Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."











