Pengalaman Teror yang Dihadapi Aktivis KontraS
Andrie Yunus, Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), bukan pertama kalinya menghadapi ancaman dari orang tak dikenal. Sebelum kejadian penyiraman air keras pada Kamis malam, 12 Maret 2026, Andrie sempat menjadi korban teror karena intervensi dalam rapat tertutup terkait revisi Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (RUU TNI) tahun lalu di sebuah hotel bintang lima.
Aksi Interupsi dalam Rapat RUU TNI
Pada Sabtu sore, 15 Maret 2025, Andrie dan sejumlah perwakilan Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan memasuki ruang rapat di Hotel Fairmont, Jakarta, untuk menyampaikan penolakan terhadap revisi UU TNI. Mereka merangsek masuk untuk mengganggu rapat yang dihadiri oleh Komisi I DPR RI dan pemerintah. Mereka juga membawa poster yang berisi penolakan terhadap RUU TNI tersebut. Koalisi menolak pembahasan RUU TNI karena dilakukan secara tertutup dan tidak transparan.
Massa aksi teriak “Tolak RUU TNI. Kembalikan tentara ke barak” di depan ruang rapat Hotel Fairmont, Jakarta.
Serangan di Kantor KontraS
Beberapa jam setelah aksi itu, kantor KontraS di Jalan Kramat II, Kwitang, Jakarta Pusat, disambangi tiga orang tak dikenal pada Ahad dini hari, 16 Maret 2026, sekitar pukul 00.16 WIB. Andrie Yunus mengatakan ada tiga pria asing yang menekan bel berkali-kali tanpa tujuan jelas. Salah seorang berbaju hitam menjawab “dari media” sambil terus membunyikan lonceng di pagar kantor. Ketiga pria itu menekan lonceng selama sekitar lima menit.
Dalam waktu yang hampir bersamaan, Andrie juga menerima tiga panggilan telepon dari nomor tak dikenal antara pukul 00.00 hingga 00.15 WIB. Andrie meyakini bahwa kedatangan tiga orang asing tersebut adalah bentuk teror terhadap KontraS. Hal ini dikarenakan beberapa jam sebelumnya, KontraS dan Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan telah menggeruduk rapat pembahasan RUU TNI yang berlangsung secara tertutup di hotel Fairmont, Jakarta Pusat.
“Kami menduga ini adalah tindakan teror pasca kami bersama koalisi masyarakat sipil mengkritisi proses legislasi Revisi UU TNI,” kata Andrie.
Penyiraman Air Keras yang Menimpa Andrie Yunus
Setahun kemudian, pada Kamis malam, 12 Maret 2026, Andrie Yunus mendapat serangan fisik dan tindak kekerasan berupa penyiraman air keras saat berada di Jalan Salemba I-Talang, Jakarta Pusat. Dua orang tak dikenal menyiram larutan berbahaya ke tubuh Andrie. Kedua orang itu mengendarai sepeda motor yang datang dari arah berlawanan dengan Andrie.
Menurut Koordinator KontraS Dimas Bagus Arya, pelaku menyiram air keras ke bagian depan tubuh Andrie. Setelah itu, Andrie ambruk ke jalan. “Korban langsung berteriak kesakitan hingga menjatuhkan sepeda motornya,” kata Dimas, Jumat, 13 Maret 2026.
Dimas menjelaskan, sebelum kejadian, Andrie baru saja menyelesaikan perekaman siaran bertajuk “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia” di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBHI), Jakarta Pusat, sekitar pukul 23.00 WIB. Setelah itu, ia mampir ke stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, lalu melanjutkan perjalanan dengan mengendarai sepeda motor.
Pada sekitar pukul 23.37 WIB, dua orang yang diduga laki-laki dengan mengendarai sepeda motor matic mendekati Andrie. Selanjutnya, kedua orang itu menyiramkan air keras ke arah Andrie. Cairan kimia korosif itu mengenai tubuh bagian kanan Andrie, seperti mata, wajah, dada, dan tangan. Sebagian baju korban juga meleleh akibat terkena air keras.
Hasil pemeriksaan medis menunjukkan Andrie mengalami luka bakar serius sebesar 24 persen. Korban sempat berteriak kesakitan dan menyebut air keras sehingga sejumlah warga berdatangan. Pelaku menjatuhkan gelas berbahan stainless steel saat berusaha kabur. Para pelaku diduga melarikan diri ke arah Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat.
Saat berita ini ditulis, Andrie Yunus masih menerima perawatan intensif di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).
Dian Rahma Fika, Vedro Immanuel Girsang, dan Nandito Putra berkontribusi dalam penulisan artikel ini.
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."











