"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Kelakuan Ayah Nizam Usai Kematian, Tubuh Penuh Luka Terbongkar KPAI

Penyelidikan KPAI Terhadap Kasus Kematian Nizam

Kasus kematian Nizam Syafei atau NS (13), bocah asal Sukabumi, Jawa Barat, terus menjadi perhatian publik. Selain dugaan penganiayaan oleh ibu tiri, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga menyoroti sikap ayah kandungnya, Anwar Satibi, setelah pemakaman.

Nizam diketahui dimakamkan pada 18 Februari 2026. Namun hingga 25 Februari 2026, saat KPAI melakukan kunjungan ke makam, ayah kandungnya disebut belum pernah datang berziarah. Hal ini menjadi sorotan utama dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU) bersama DPR RI pada Senin (2/3/2026).

Komisioner KPAI, Diyah Puspitarini, menjelaskan bahwa temuan yang didapatkan berasal dari aduan tetangga dan keluarga besar korban. Ia mengungkap bahwa ayah kandung Nizam, Anwar Satibi, juga diduga melakukan kekerasan terhadap anaknya sendiri. Peristiwa ini terjadi sejak Nizam berusia sembilan tahun.

Sebelumnya, kasus ini sempat menggegerkan masyarakat setelah dugaan penyiksaan oleh ibu tiri Nizam, Teni Ridha, yang akhirnya resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Sukabumi pada 24 Februari 2026. Namun, informasi terbaru menunjukkan bahwa kekerasan terhadap Nizam tidak hanya dilakukan oleh ibu tiri, melainkan juga oleh ayah kandungnya.

Diyah menjelaskan bahwa keluarga dan tetangga sempat mengingatkan Anwar tentang perilaku kekerasan yang dialami Nizam. Namun, respons yang diterima justru mengejutkan. “Ketika saya tanya kepada keluarga dan tetangga, apakah tidak ada yang mengingatkan? Keluarga besar berkata (sudah) mengingatkan. Tetapi jawaban dari ayah ‘itu anak saya, itu urusan saya’,” ujar Diyah.

Bentuk kekerasan yang diduga dialami Nizam antara lain pemukulan dan penamparan. Dalam beberapa kali kekerasan terjadi, keluarga besar kembali mengingatkan Anwar, namun jawaban yang diberikan tetap sama, yakni menganggap hal tersebut sebagai urusan pribadi.

Selain soal dugaan penganiayaan, KPAI juga menyoroti sikap ayah korban setelah pemakaman. Nizam diketahui dimakamkan pada 18 Februari 2026. Namun hingga 25 Februari 2026, saat KPAI melakukan kunjungan ke makam, ayah kandungnya disebut belum pernah datang berziarah.

Diyah juga menyebut bahwa sebelum meninggal, Nizam sempat sakit selama lima hari sepulang dari pondok, tetapi tidak dibawa berobat ke dokter. Ia juga menjelaskan bahwa ada kemiripan dengan video yang beredar, yang menunjukkan perlakuan terhadap korban.

Berdasarkan rangkaian temuan tersebut, KPAI menduga kasus ini mengarah pada filisida, yakni tindakan orangtua yang dengan sengaja menghilangkan nyawa anaknya sendiri.

Detik-Detik NS Wafat

Kasus kematian Nizam Syafei atau NS (12) menjadi sorotan publik setelah muncul dugaan penganiayaan di balik luka bakar yang ditemukan di sekujur tubuhnya. Awalnya, kematian bocah tersebut disebut akibat sakit panas tinggi. Namun, keterangan medis justru mengarah pada dugaan kekerasan fisik.

Anwar Satibi, ayah kandung Nizam, mengaku awalnya mempercayai penjelasan istrinya terkait kondisi anaknya. Dalam wawancara di podcast Denny Sumargo, Anwar menceritakan bahwa ia tidak langsung menaruh curiga ketika istrinya menyebut luka melepuh di tubuh Nizam sebagai dampak panas tinggi.

Saat pertama kali membawa Nizam ke Rumah Sakit Jampang Kulon, Anwar masih berpegang pada keterangan tersebut. Ia bahkan menirukan langsung penjelasan istrinya kala itu.

“Istri saya menjawab, ‘Ya, ini kan sakit panas ya, si Raja. Jadi kalau sakit panas memang suka panas, kalau panasnya berlebihan suka melepus seperti ini, seperti kesiram air panas katanya gitu’,” ujar Anwar.

Alibi itulah yang awalnya diyakini Anwar sebagai penyebab kondisi putranya. Ia menerima penjelasan tersebut tanpa banyak pertanyaan, karena disampaikan dengan seolah masuk akal.

Keyakinan itu runtuh ketika dokter perempuan yang menangani Nizam memberikan penegasan berbeda, bahkan di hadapan istrinya. Hati bak hancur tahu fakta jika ada dugaan istrinya penyebab sang anak meninggal dunia.

“Dia cek, cek, cek itu di depan istri saya. Dia ngomong di depan istri saya, ‘Bu, kita ini medis ya. Kita tahu mana yang sakit panas, mana yang bukan. Ini bukan karena sakit, tapi ini dianiaya.’ Itu dokternya yang ngomong. Di depan istri saya yang dokter perempuan itu ya. Dokter perempuan itu ngomong lantang loh,” tegas Anwar.

Pernyataan tersebut menjadi titik balik bagi Anwar. Ia mengaku baru menyadari ada kejanggalan setelah mendengar langsung penjelasan medis itu.

“Oh saya ini kan Bang udah enggak muda. Maksudnya udah agak lama ya. Saya baru kali ini melihat orang sakit panas sampai pada melepuh gitu kulitnya. Apalagi dikuatkan dengan pernyataan doktor ke saya. Ini bukan karena sakit. Ada luka bakar. Luka bakar,” ungkapnya.

Setelah pemeriksaan, Nizam dipindahkan ke ruang ICU untuk mendapatkan penanganan intensif. Namun sekitar dua jam kemudian, nyawanya tak tertolong. Sebelum mengembuskan napas terakhir, dokter sempat memanggil Anwar agar mendampingi putranya.

“Justru saya nge-dzikirin, ‘tolong dituntun, katanya anaknya’. Dituntun berdoa gitu, dzikir. Udah gitu anak saya lewat. Udah enggak ada napas,” kenangnya pilu.

Saat dokter menanyakan kemungkinan tindakan CPR, Anwar memilih menolak.

“Dokter kan nanya ini mau, mau di apa? Kata saya jangan, jangan. Kasihan kata saya,” ucapnya.

Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *