Kembali Terjadi, Kasus Bunuh Diri Anak di Demak
Kasus bunuh diri kembali terjadi di wilayah Demak, Jawa Tengah. Kali ini, korban adalah seorang anak perempuan berusia 12 tahun. Kejadian tersebut menambah daftar panjang kasus bunuh diri pada anak usia dini di Indonesia. Berdasarkan hasil visum dan rekaman CCTV, pihak kepolisian memastikan tidak ada unsur pembunuhan dalam kejadian ini.
Sebelumnya, kasus serupa juga terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Kasus tersebut diduga dipicu oleh akumulasi tekanan yang melibatkan faktor ekonomi keluarga. Di NTT, seorang siswa SD berinisial YBR (10 tahun) mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Polisi menyebut bahwa salah satu faktor penyebabnya adalah ketidakmampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan sekolah seperti buku dan pulpen.
Peristiwa di Demak
Dalam kasus di Demak, korban diduga merasa sakit hati terhadap ibunya. Korban sempat mengunggah percakapan melalui pesan WhatsApp yang diduga berisi makian. Tangkapan layar percakapan itu diunggah beberapa hari sebelum peristiwa tragis terjadi. Unggahan tersebut kemudian tersebar luas di media sosial, termasuk dibagikan oleh akun Instagram @infodemakraya.
Kasat Reskrim Polres Demak, Iptu Anggah Mardwi Pitriyono, membenarkan adanya unggahan tersebut. Menurutnya, rekaman CCTV menunjukkan bahwa ibu korban pulang ke rumah pada pukul 18.01 WIB. Beberapa menit setelah itu, ibu korban keluar rumah dan berteriak meminta pertolongan. Korban kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Wongsonegoro Semarang menggunakan mobil milik ibunya yang dikemudikan tetangga.
Hasil Pemeriksaan Forensik
Hasil visum dokter forensik menemukan tanda-tanda kematian akibat gantung diri. Ada luka akibat kekerasan tumpul berupa jejas atau lecet gantung pada leher. Korban diduga meninggal dunia karena lemas. Dari hasil pemeriksaan forensik dan rekaman CCTV, kepolisian membantah dugaan bahwa korban dibunuh oleh ibunya.
Anggah menjelaskan bahwa rentang waktu antara ibu korban masuk dan keluar rumah hanya sekitar 1,5 hingga 2 menit. Hal ini membuat tidak mungkin bagi ibu korban melakukan pembunuhan. Selain itu, aktivitas terakhir di HP korban yaitu pukul 16.25 WIB. Selama rentang waktu itu hingga ibu korban pulang, tidak terlihat ada orang lain yang masuk ke rumah.
Faktor-Faktor Lain
Meskipun sebelumnya sang ibu beberapa kali mengirim pesan bernada marah dan mengandung kata-kata kasar kepada korban, Anggah menegaskan bahwa penyebab pasti tindakan korban tidak dapat disimpulkan hanya dari percakapan tersebut. Ada banyak faktor-faktor lain yang harus dilakukan pendalaman.
“Memang sebelumnya ibunya itu sempat beberapa kali chat marah-marah dan ada kata-kata kasar. Tetapi penyebab korban gantung diri tidak bisa kita simpulkan karena hal itu, karena masih banyak faktor-faktor lainnya yang harus dilakukan pendalaman,” ujar Anggah.
Komentar dari Kepolisian
Anggah mengimbau para orang tua untuk lebih bijak dalam berkomunikasi dengan anaknya. Selain itu, ia menyarankan agar selalu memperhatikan dan mengawasi aktivitas media sosial anak-anaknya. Dengan demikian, anak akan merasa bahwa ada orang tua yang selalu hadir dan mendengarkan dirinya.
Kasus di NTT
Sebelumnya, kasus bunuh diri juga terjadi di NTT. Siswa SD berinisial YBR (10 tahun) di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT, mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. YBR ditemukan meninggal dunia setelah mengakhiri hidupnya di kebun dekat pondok bambu yang menjadi tempat tinggalnya bersama sang nenek di Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT, Kamis, 29 Januari 2026.
Polres Ngada mengungkap ada sejumlah faktor yang melatarbelakangi YBR mengakhiri hidup. Salah satunya adalah keterbatasan ekonomi keluarga, termasuk ketidakmampuan korban membeli buku dan alat tulis sekolah. Kapolres Ngada, AKBP Andrey Valentino, menyampaikan bahwa ada banyak faktor yang menyebabkan anak ini mengakhiri hidupnya.
“Jadi, ada banyak faktor yang menyebabkan anak ini mengakhiri hidupnya,” kata Andrey. “Banyak faktor penyebabnya. Salah satunya terkait alat tulis.”
Penyelidikan Polisi
Berdasarkan hasil penyelidikan, polisi memastikan tidak ditemukan unsur kekerasan dalam kasus siswa SD di NTT yang mengakhiri hidup ini. Hal itu diperkuat dengan hasil visum yang tidak menunjukkan adanya tanda-tanda kekerasan fisik pada tubuh korban. Penyelidikan juga tidak menemukan indikasi perundungan di lingkungan sekolah yang dapat memicu kondisi psikologis korban.
“Kesimpulan sementara, tindakan tersebut dilakukan atas kehendak korban sendiri,” tegas Andrey.
Informasi Penting
Berita ini tidak bertujuan untuk menginspirasi tindakan bunuh diri. Apabila Anda saat ini mengalami depresi atau keinginan bunuh diri, jangan putus asa, jangan ragu bercerita, berkonsultasi atau memeriksakan diri ke psikiater, psikolog atau klinik kesehatan jiwa. Depresi dan gangguan kejiwaan dapat pulih dengan bantuan profesional kesehatan mental.
Temukan informasi mengenai bagaimana menjaga kesehatan mental dan menghubungi layanan profesional di laman Pencegahan Bunuh Diri Into The Light Indonesia di www.intothelightid.org/tentang-bunuh-diri.











