"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Kronologi penembakan sekolah di Thailand, kepsek tewas, siswa disandera

Insiden Penembakan di Sekolah Phatongprathan Kiriwat

Insiden penembakan yang terjadi di Sekolah Phatongprathan Kiriwat di Hat Yai, Songkhla, menjadi perhatian besar setelah seorang pemuda berusia 18 tahun melakukan aksi tersebut. Aksi ini dimulai saat pelaku merampas senjata dari mobil patroli polisi dan menembaki staf serta siswa sekolah.

Peristiwa Awal dan Eskalasi

Kejadian bermula saat polisi menerima laporan tentang seorang pemuda bersenjata parang yang mengamuk di daerah Thung Lung sekitar pukul 14.54 waktu setempat. Situasi memanas ketika seorang petugas kepolisian yang didampingi oleh kepala desa setempat diserang oleh tersangka. Tersangka kemudian berlari sejauh 200 meter menuju kendaraan patroli polisi yang tiba dan berhasil merampas senjata milik petugas.

Setelah itu, pelaku melepaskan tembakan ke arah staf dan siswa, serta menyandera beberapa orang. Pada pukul 16.00, tersangka mengendarai sepeda motor menuju Sekolah Phatongprathan Kiriwat dan melepaskan tembakan yang mengenai kepala sekolah serta melukai dua siswa.

Penyanderaan dan Negosiasi

Pria bersenjata itu kemudian menyandera dua anggota staf sekolah dan satu orang siswa di dalam gedung sekolah. Pada pukul 17.40, polisi mengonfirmasi bahwa tersangka, yang diidentifikasi sebagai Khem (18 tahun), menyandera seorang staf sekolah perempuan di dalam ruang humas di lantai dasar. Ia menggunakan sistem pengeras suara untuk mengancam bahwa ia akan menembak seorang anak jika polisi melepaskan tembakan.

Petugas kemudian mengetahui dari saudara perempuan tersangka bahwa ia memiliki kondisi medis tertentu. Sosoknya membantu polisi menurunkan eskalasi dengan mencoba membujuk agar pelaku menyerah dan membebaskan para sandera.

Pada pukul 18.20, situasi genting belum mereda setelah pelaku menuntut untuk bertemu dengan salah seorang guru laki-laki yang dikenalnya dan memberi polisi waktu sepuluh menit untuk membawa guru tersebut kepadanya.

Polisi dan petugas Songkhla melanjutkan negosiasi, dan pada pukul 18.30, guru tersebut muncul di lokasi. Setelah menemui sang pelaku, guru tersebut keluar dari ruangan penyanderaan bersama sang pelaku sambil mengamankan senjata yang ada. Lalu, tersangka menyerahkan diri, sehingga petugas dapat membawanya ke dalam tahanan.

Korban dan Respons Pihak Berwenang

Dua orang terluka dan satu orang tewas dalam insiden tersebut. Kepala sekolah, Sasipatchara Sinsamosorn, menjadi korban tewas setelah tertembak di dada pada kejadian tersebut. Meski sempat dilarikan ke Rumah Sakit Hat Yai dalam kondisi kritis, Sasipatchara kemudian diumumkan meninggal dunia pada hari Kamis ini (12/2/2026) sekitar pukul 03.00 dini hari waktu setempat.

Kematiannya sang kepala sekolah juga dikonfirmasi oleh Yayasan Mitraphap Samakkhi di Hat Yai serta Kantor Wilayah Layanan Pendidikan Menengah Songkhla dan Satun. Selain sang kepala sekolah, seorang siswi berusia 15 tahun juga tertembak di bagian pinggang dan dibawa ke Rumah Sakit Songklanagarind, di mana ia dilaporkan dalam kondisi aman. Satu siswi lainnya mengalami luka di dagu dan leher setelah melompat dari gedung sekolah saat mencoba menyelamatkan diri.

Tersangka juga mengalami luka-luka dan dibawa ke Rumah Sakit Hat Yai untuk menjalani perawatan.

Respons Menteri Pendidikan Thailand

Sehari setelah kejadian, Menteri Pendidikan Thailand Narumon Phinyosinwat mengunjungi para siswa dan Sekolah Phatongprathan Kiriwat. Dalam kunjungannya tersebut, Narumon menekankan pemberian perawatan medis dan dukungan psikologis secara penuh. Ia mengungkapkan bahwa Perdana Menteri Anutin Charnvirakul turut menyatakan keprihatinan dan telah memerintahkan pengalokasian dana dari Kantor Perdana Menteri untuk membantu keluarga mendiang kepala sekolah yang telah berkorban.

Narumon juga menjenguk siswa yang menjalani perawatan di Rumah Sakit Songklanagarind akibat tembakan pelaku. Di kesempatan tersebut, Narumon memuji ketenangan dan keteguhan hati siswa yang dirawat tersebut selama krisis berlangsung.

“Insiden ini sangat menyedihkan. Kementerian Pendidikan tidak tinggal diam. Saya datang untuk memberi semangat kepada anak-anak dan keluarga mereka, serta memuji keberanian dan ketenangan para siswa yang berhasil mengendalikan diri dengan baik dalam situasi kritis ini.” ungkap Narumon seperti yang dikutip dari Thairath.

Narumon juga menegaskan bahwa Kementerian Pendidikan Thailand akan memprioritaskan pemulihan psikologis bagi para siswa dan guru sebelum mereka kembali melanjutkan kegiatan belajar mengajar dengan normal. Pasca-insiden tersebut, Kementerian Pendidikan Thailand juga berkoordinasi dengan pengelola sekolah, komite sekolah, dan instansi setempat untuk mendampingi kesehatan mental para guru, siswa, dan orang tua secara intensif. Mereka telah menyiapkan konselor dan psikolog untuk memberikan rehabilitasi psikologis berkelanjutan.

Nurlela Rasyid

Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *