"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Anak SD Akhiri Hidup, Komnas Anak Bandar Lampung Beri Peringatan

Keprihatinan atas Kematian Bocah SD di NTT

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Bandar Lampung, Ahmad Aprilindi Passa, menyampaikan rasa prihatinnya atas kematian seorang bocah SD yang mengakhiri hidupnya di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Insiden ini menjadi peringatan penting bahwa pemenuhan hak anak harus menjadi prioritas utama.

YBR, seorang bocah kelas empat SD berusia 10 tahun, ditemukan meninggal dunia dengan cara tidak wajar pada Kamis (29/1/2026). Ia diduga mengakhiri hidupnya karena putus asa akibat kondisi ekonomi keluarganya. YBR tinggal bersama ibu tunggal yang memiliki lima anak. Keluarga tersebut termasuk dalam kategori kurang mampu, sehingga permintaannya untuk dibelikan buku dan pulpen tidak dapat dipenuhi.

Ahmad menegaskan bahwa pemenuhan hak pendidikan anak, terutama bagi mereka yang hidup dalam kondisi ekonomi sulit, sangat penting. Ia menuntut pemerintah agar lebih hadir dan proaktif dalam menangani isu-isu kemiskinan yang berdampak pada hak anak.

“Kami sangat miris dan prihatin atas kejadian ini. Pemenuhan hak-hak dasar anak, terutama dalam pendidikan, seharusnya menjadi prioritas pemerintah. Negara harus hadir memastikan anak-anak dari keluarga miskin tidak telantar dan mendapatkan hak pendidikan yang layak,” ujar Ahmad Rabu (4/2/2026).

Pentingnya Pendataan yang Akurat

Ahmad menekankan bahwa pemerintah perlu melakukan pendataan yang lebih akurat dan menyeluruh terkait anak-anak dan keluarga miskin di seluruh wilayah Indonesia, termasuk daerah pelosok. Tujuannya adalah agar bantuan dan intervensi dapat tepat sasaran dan mencegah peristiwa tragis seperti yang dialami YBR.

“Penjangkauan terhadap keluarga miskin di pelosok negeri harus dilakukan secara menyeluruh. Database anak dan keluarga miskin perlu diperbarui dan dikelola dengan baik agar bantuan bisa langsung diberikan kepada mereka yang membutuhkan,” tambahnya.

Tekanan Psikologis pada Anak

Selain masalah ekonomi, Ahmad juga mencatat adanya tekanan psikologis yang dialami anak-anak dalam keluarga miskin. Dalam kasus YBR, beban keluarga yang berat, tekanan dari teman-teman sebayanya di sekolah, dan mungkin juga dari pihak pengajar, dapat menjadi faktor tambahan yang memperburuk keadaan mental anak.

“Anak-anak yang hidup dalam kondisi sulit sering kali merasa terisolasi dan tidak mendapatkan dukungan yang cukup. Tekanan di rumah dan sekolah bisa menjadi beban berat. Oleh karena itu, orang tua dan guru harus lebih peka terhadap kondisi emosional anak-anak,” jelas Ahmad.

Peran Orang Tua dan Guru

Ahmad juga mengingatkan pentingnya komunikasi yang baik antara orang tua dan anak. Dalam kasus YBR, sang ibu berperan ganda sebagai ibu dan pencari nafkah. Dia harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Meskipun menghadapi banyak tantangan, perhatian dan kasih sayang orang tua sangat penting bagi perkembangan psikologis anak.

Masalah Kenakalan Remaja di Bandar Lampung

Meskipun kejadian serupa belum pernah terjadi di Bandar Lampung, Ahmad menyebutkan bahwa sejumlah masalah kenakalan remaja mulai marak. Kenakalan tersebut meliputi hubungan seks di usia muda, penggunaan narkoba, hingga keterlibatan dalam dunia prostitusi.

Ahmad menilai hal ini berakar dari kurangnya perhatian orang tua terhadap anak-anak mereka, baik dalam pengasuhan langsung maupun pengasuhan alternatif yang melibatkan kakek-nenek atau keluarga lainnya.

“Di Bandar Lampung, kami memang belum menghadapi kasus serupa, tetapi kenakalan remaja semakin sering ditemui. Anak-anak yang tidak mendapatkan perhatian yang cukup dari orang tua rentan terjerumus dalam perilaku negatif. Kami mengingatkan agar setiap orang tua lebih peduli terhadap perkembangan anak-anak mereka,” ungkapnya.

Gangguan Mental pada Anak-Anak

Selain kenakalan remaja, Ahmad juga mencatat bahwa gangguan mental pada anak-anak, seperti trauma akibat kekerasan fisik dan seksual, semakin banyak terjadi di Bandar Lampung. Kasus-kasus tersebut sering kali tidak terdeteksi karena kurangnya perhatian dari masyarakat dan pihak terkait terhadap kondisi anak-anak yang mengalami kekerasan.

“Trauma yang dialami anak-anak akibat kekerasan seksual dan fisik memengaruhi perkembangan mental mereka. Oleh karena itu, kami mendesak pemerintah dan masyarakat untuk lebih aktif dalam memberikan perlindungan kepada anak-anak agar kejadian-kejadian serupa tidak terulang lagi,” tegas Ahmad.

Deteksi Dini dan Peran Guru

Psikolog Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi Lampung, A Retno Ariyani, menduga penyebab utama bocah SD mengakhiri hidup karena kesulitan ekonomi keluarganya. “Masalah ini tentu bukan hal yang sepele, terutama karena ini melibatkan anak-anak. Pada usia 10 tahun, tekanan yang mereka rasakan bisa sangat memengaruhi psikologisnya,” ujarnya, Rabu (4/2/2026).

Retno menambahkan, kasus ini bisa disebabkan berbagai faktor. Selain masalah ekonomi, ketidakmampuan mengungkap kesulitan kepada orang tua atau guru juga turut berperan. Menurutnya, tak jarang anak-anak merasa terisolasi karena kurangnya komunikasi yang baik dengan orang tua atau guru.

“Anak-anak yang merasa tidak didengar atau tidak mendapatkan dukungan emosional yang cukup sering kali mengalami kesulitan dalam mengatasi masalah yang mereka hadapi. Rasa inferior karena di-bully di sekolah atau berada dalam lingkungan yang tidak sehat juga bisa menjadi pemicu keinginan untuk mengakhiri hidup,” beber Retno.

Periksa 4 Saksi

Penyidik Polres Ngada masih menyelidiki kasus meninggalnya YBS, anak berusia 10 tahun, karena diduga mengakhiri hidup. “Pertama-tama kami menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada keluarga korban atas peristiwa duka tersebut,” kata Kabid Humas Polda NTT Kombes Hendry Novika Chandra, Rabu (4/2/2026).

Menurut Hendry, saat ini proses penyelidikan masih terus berjalan. Penyidik telah melakukan serangkaian langkah, termasuk olah tempat kejadian perkara, pengumpulan barang bukti, serta pengambilan keterangan terhadap para saksi. “Sampai dengan saat ini, sebanyak empat orang saksi telah dimintai keterangan untuk mendukung proses penyelidikan,” ujar dia.

Sebagai wujud kepedulian Polri terhadap keluarga korban, kata Hendry, Kapolda NTT telah memerintahkan Kapolres Ngada untuk hadir langsung di rumah duka guna menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban. Selain itu, Kapolres juga menyerahkan tali asih kepada keluarga korban serta memberikan pendampingan psikologis melalui Biro SDM Polda NTT guna membantu pemulihan kondisi psikologis keluarga yang ditinggalkan.

Adriatno Majid

Seorang penulis berita online yang mengutamakan kecepatan dan ketelitian dalam menyampaikan informasi terkini kepada pembaca. Aktif mengikuti perkembangan isu sosial dan digital. Memiliki hobi membaca artikel sejarah, bersepeda pagi, serta memotret momen sederhana yang menarik. Baginya, proses menulis adalah ruang untuk melihat dunia lebih dekat. Motto hidupnya: "Informasi yang jujur adalah fondasi kepercayaan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *