Cerita Unik Aksi Pencurian Burung Trucukan di Semarang
Aksi pencurian burung trucukan yang terjadi di Semarang beberapa waktu lalu memang menyisakan cerita tak terduga. Tidak hanya mengundang perhatian masyarakat, kejadian ini juga menunjukkan sisi kemanusiaan dari korban.
Lokasi dan Peristiwa Pencurian
Peristiwa berlangsung di Jalan Plamongan Permai Raya, Kelurahan Pedurungan Kidul, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang. Kejadian terjadi pada Rabu (28/1/2026) dini hari, sebelum waktu salat Subuh. Seorang pria mengenakan jaket hitam dan celana panjang mencoba memanjat tembok rumah warga untuk mengambil sangkar burung trucukan yang digantung di atap teras.
Setelah berhasil mengambil burung tersebut, pria itu mencoba kabur dengan melompat dari ketinggian sekitar 1,5 meter. Di bawahnya terdapat selokan yang membentang di pinggir jalan perumahan. Namun, upaya pelarian itu berujung petaka. Kaki pelaku tidak sampai menginjak bibir selokan seperti yang diharapkan. Dia justru terperosok ke dalam selokan, sementara tubuhnya menghantam keras tepi selokan dengan posisi menghadap ke bawah.
Dada pelaku membentur pinggiran beton, sedangkan sangkar burung terlepas dan hancur. Benturan keras itu membuat burung trucukan di dalam sangkar terbang bebas. Pelaku tampak terdiam beberapa saat di dalam selokan, sebelum akhirnya bangkit dengan tertatih, mengambil sandal yang terlepas, lalu meninggalkan lokasi.
Rekaman CCTV dan Penjelasan Warga
Ketua RW 4 setempat, Sumartopo, menjelaskan bahwa kejadian tersebut baru diketahui warga setelah terdengar suara benda jatuh di depan rumah. “Jadi kejadiannya itu sebelum Subuh, warga dengar suara ‘brak’ seperti benda jatuh. Setelah dicek, ternyata ada sangkar burung di pinggir jalan dan kondisinya rusak,” kata Sumartopo ketika ditemui, Jumat (30/1/2026).
Curiga dengan kejadian itu, warga kemudian memeriksa rekaman CCTV yang terpasang di lingkungan perumahan. Dari situlah terungkap adanya aksi pencurian burung yang gagal total. “Dari CCTV kelihatan dia datang naik motor sama temannya. Mereka muter-muter dulu di perumahan, lalu yang satu manjat tembok, temannya nunggu di motor,” jelas dia.
Menurut Sumartopo, pemasangan CCTV di hampir setiap sudut perumahan dilakukan sebagai langkah antisipasi tindak kejahatan. Dia bersyukur kejadian tersebut berlangsung sebelum warga keluar rumah untuk salat Subuh. “Kalau sampai ketangkap basah warga, malah takutnya jadi sasaran massa,” ungkapnya.
Burung Kabur, Lalu Pulang Sendiri
Hal menarik justru terjadi beberapa jam setelah peristiwa tersebut. Mardi (68), orang tua pemilik rumah, menceritakan burung trucukan yang sempat kabur ternyata kembali ke rumah pada pagi harinya. “Sekitar jam tujuh, burung itu nangkring di atas kanopi, di bawah AC teras rumah,” kata Mardi.
Melihat burung peliharaannya kembali, keluarga pun langsung mengamankannya dan memasukkan ke sangkar baru. “Ternyata burungnya balik lagi, akhirnya dimasukkan ke sangkar yang baru,” imbuhnya. Meskipun demikian, lanjut Mardi, burung itu sudah dua hari terakhir tak mau berkicau. Dia menduga bahwa burung itu masih mengalami stres akibat pencurian dan terjatuhnya sangkar yang dibawa pencuri.
Pemilik Rumah Malah Kasihan
Meski rumahnya jadi sasaran pencurian, Mardi justru mengaku merasa iba melihat kondisi pelaku yang terjatuh cukup keras. “Itu burung trucuk, kalau dijual harganya paling sekitar Rp100 ribu. Sebenarnya kasihan juga pencurinya, jatuhnya sepertinya keras, seperti kebanting, kena dadanya,” tuturnya.
Dia bahkan mengatakan tak keberatan membantu jika pelaku datang dengan cara baik-baik. “Kalau dia minta uang buat makan, kemungkinan saya kasih. Tidak perlu mencuri,” ungkapnya. Mardi juga mengungkapkan bahwa rumah tersebut sudah beberapa kali menjadi sasaran kejahatan. Tahun lalu, dua ekor burung kenari miliknya sempat dicuri, masing-masing bernilai sekitar Rp 400 ribu. Selain itu, sepeda motor dan sepeda juga pernah raib dari rumah tersebut.

Seorang penulis berita online yang mengutamakan kecepatan dan ketelitian dalam menyampaikan informasi terkini kepada pembaca. Aktif mengikuti perkembangan isu sosial dan digital. Memiliki hobi membaca artikel sejarah, bersepeda pagi, serta memotret momen sederhana yang menarik. Baginya, proses menulis adalah ruang untuk melihat dunia lebih dekat. Motto hidupnya: "Informasi yang jujur adalah fondasi kepercayaan."











