Tim Pencarian Pesawat ATR 42-500 Menemukan Black Box di Pegunungan Bulusaraung
Pada hari kelima operasi pencarian pesawat ATR 42-500, tim Search and Rescue Unit (SRU) 1 berhasil menemukan black box yang masih terpasang di bagian ekor pesawat. Penemuan ini menjadi langkah penting dalam proses penyelidikan kecelakaan pesawat tersebut.
Achmad Kadim, seorang anggota organisasi Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) 45 Universitas Bosowa (Unibos) Makassar, menjadi salah satu dari banyak anggota tim yang turut serta dalam operasi pencarian. Ia mengatakan bahwa saat ditemukan, black box masih terpasang erat di bagian ekor pesawat. Posisi ekor pesawat tersebut tersangkut di pohon dengan ketinggian sekitar lima meter dari permukaan tanah.
Perjalanan menuju lokasi penemuan dimulai dari Posko SAR Gabungan di Kantor Desa Tompobulu sekitar pukul 07.30 Wita. Perjalanan menuju pos 9 memakan waktu hingga pukul 10.00 Wita. Dari pos tersebut, tim melanjutkan perjalanan menuju titik penemuan dan tiba sekitar pukul 12.00 Wita. Black box berhasil dievakuasi sekitar pukul 13.30 Wita.
Salah satu tantangan utama dalam proses evakuasi adalah tidak membawa alat perkakas untuk membuka baut yang menempelkan black box ke bagian ekor pesawat. Berbekal pengalaman memanjat saat aktif di Mapala, Achmad kemudian berinisiatif memanjat pohon untuk melepaskan black box. Ia membawa sebuah parang berukuran sejengkal yang sejatinya merupakan perlengkapan dasar untuk membuka jalur dan memotong semak-semak.
Sesampainya di atas, Achmad menggunakan parang tersebut untuk memotong bagian perekat black box. Ia mengayunkan parang ke arah perekat sambil menahan badan black box dengan satu tangan. “Sekitar sepuluh menit saya memotongnya, alhamdulillah akhirnya terlepas,” kata Achmad.
Ia menjelaskan, black box harus ditahan agar tidak terjatuh ke bawah. Jika terlepas, black box berpotensi jatuh ke jurang yang berada tepat di bawah lokasi dengan kemiringan sekitar 90 derajat. Achmad mengakui, tindakan tersebut terbilang nekat. Jika ekor pesawat bergoyang saat proses pemotongan, ia berisiko ikut terjatuh ke jurang. “Modal nekat, tapi alhamdulillah bisa dituntaskan,” ujarnya.
Setelah berhasil dilepaskan, black box kemudian dibawa ke Posko SAR Gabungan oleh personel TNI. Sementara itu, Achmad bersama anggota SRU 1 lainnya kembali melanjutkan penyisiran untuk mencari korban. Achmad mengaku bangga dapat terlibat dalam operasi pencarian tersebut. Ia juga bangga menjadi bagian dari tim penemu black box dan bisa memegang langsung benda tersebut.
“Baru saya tahu posisinya di mana, bagaimana bentuknya. Selama ini hanya lihat di TV. Ternyata ini barang yang disebut sangat penting di pesawat,” ucapnya. Ia mengaku baru pertama kali terlibat dalam operasi pencarian pesawat. Namun sebelumnya, ia pernah mengikuti sejumlah operasi pencarian dan evakuasi, di antaranya evakuasi korban banjir di Aceh, gempa bumi di Mamuju, serta banjir bandang di Masamba.
Achmad merupakan alumni Universitas Bosowa, Fakultas Teknik, angkatan 2009. Ia bergabung dengan Mahasiswa Pencinta Alam sejak tahun yang sama dan mengambil divisi panjat tebing. Achmad bercerita, Gunung Bulusaraung merupakan lokasi pendidikan dan latihan Mapala 45 sehingga medan di kawasan tersebut sudah sangat familiar baginya. “Boleh dibilang, kita sudah tahu seluk-beluknya, kondisi medan, dan strukturnya,” ucapnya.
Dalam kesahariannya, Achmad bekerja sebagai pembersih gedung tinggi di Makassar. Selain Achmad, sebanyak delapan anggota Mapala 45 Makassar turut terlibat dalam operasi pencarian pesawat ATR 42-500 tersebut. “Kalau di Mapala, setiap ada kegiatan evakuasi kami pasti ikut karena itu sudah menjadi panggilan jiwa,” ujarnya.
Achmad Kadim lahir di Enrekang pada 24 April 1986 dan berdomisili di Jalan Batua Raya 5 Nomor 38, Makassar.











