Kasus Pengeroyokan Guru oleh Siswa di Jambi: Langkah Tegas Pemprov dan Proses Hukum yang Berjalan
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jambi telah mengambil langkah tegas menyikapi kasus pengeroyokan guru oleh siswa di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur. Insiden ini menimpa guru berinisial AS atau Agus Saputra, yang kini dipastikan dimutasi dari sekolah tersebut. Selain itu, ia juga diwajibkan menjalani tes kejiwaan untuk menilai kelayakannya sebagai tenaga pendidik.
Langkah ini ditegaskan langsung oleh Gubernur Jambi Al Haris. Ia menyatakan bahwa pemindahan guru tersebut adalah kebijakan yang tidak bisa ditawar demi meredam konflik yang terus berkembang di lingkungan sekolah maupun masyarakat. “Yang pasti guru itu kita pindahkan dari situ. Enggak mungkin dia tetap di situ, mesti harus dipindah,” ujar Al Haris.
Selain mutasi, Gubernur juga memerintahkan Dinas Pendidikan Provinsi Jambi untuk melakukan assessment psikologis terhadap Agus Saputra. Hasil pemeriksaan tersebut akan menentukan apakah yang bersangkutan masih layak menjalankan tugas sebagai pendidik. “Saya minta pemeriksaan kejiwaannya juga. Apakah beliau masih layak seorang guru. Kalau misalnya tidak layak, ya kita pindahkan ke jabatan bukan guru lagi, staf biasa,” tegas Al Haris.
Dugaan Pemicu: Singgungan Profesi Orang Tua Siswa
Insiden pengeroyokan yang menimpa Agus Saputra terjadi pada 13 Januari 2026 dan sempat viral di media sosial. Agus merupakan guru mata pelajaran Bahasa Inggris di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur. Berdasarkan keterangan sejumlah guru dan siswa, insiden ini diduga dipicu oleh ucapan Agus yang menyinggung latar belakang orang tua salah satu siswi.
Ayah siswi tersebut diketahui bekerja sebagai tukang kebun sekaligus petugas kebersihan di sekolah. Sebelum terjadinya pengeroyokan, ada beberapa peristiwa yang terjadi antara Agus dengan beberapa pelajarnya. Salah satu guru yang meminta tidak disebutkan identitasnya mengatakan bahwa Agus sempat tersinggung ketika pintu kelas tertutup ketika ia hendak mengajar.
Teguran ini berujung pada desakan Agus kepada lima hingga tujuh muridnya untuk membuat pernyataan maaf. “Pernyataan maaf ini cukup sulit, sebab para murid harus bikin video bersama orangtua serta menulis surat pernyataan maaf di atas materai,” kata guru tersebut.
Beberapa waktu setelah insiden pintu tertutup, beberapa guru melihat ada dua siswi menangis. Satu dari siswi itu menangis karena Agus membawa-bawa pekerjaan ayah dari siswi tersebut. Keesokan harinya, ayah dari siswi yang menangis ini datang ke sekolah. Rupanya, ia bekerja sebagai tukang kebun di sekolah tempat siswinya menimba ilmu. Namun, oleh guru yang lain, ayah siswi itu tidak dipertemukan dengan Agus demi mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
Peristiwa yang Memicu Emosi Siswa
Siang hari, sejumlah murid menemui Agus untuk meminta keringanan soal permintaan maaf. Namun, Agus malah membahas hal lain yang bikin para murid kecewa. “Tak lama kemudian, terjadilah pengeroyokan yang viral itu,” kata guru ini.
Menurut siswa inisial Jm, siswi yang menangis inisialnya Ag. Sebelum ia menangis, Agus terlebih dahulu marah karena pintu kelas tertutup. Agus lantas bertanya, siapa yang menutup pintu. “Saya jawab, Ag yang menutup pintu, tetapi saya yang menyuruh dia,” kata Jm.
Jm mengungkapkan, Agus juga menyinggung latar belakang orangtua Ag yang bekerja sebagai petugas kebersihan sekolah sekaligus tukang kebun. Bahkan, menurut Jm, pembicaraan sempat mengarah soal gaji orangtua dan dana komite sekolah. “Ag diam saja di kelas. Setelah kami keluar, dia menangis di kantin,” ujar Jm.
Esok harinya, Jm menceritakan kejadian lain. Saat belajar-mengajar berlangsung, ada siswa yang berteriak di dalam kelas. Guru Agus kebetulan melintas dan merasa tersinggung. Dia lalu masuk ke kelas dan menanyakan siapa yang berteriak. “Salah satu siswa langsung mengaku, lalu ditampar,” ungkap Jm.
Siswa yang berteriak lalu mengaku dan ditampar itu berinisial MLF. Berdasarkan keterangan MLF, saat kegiatan belajar mengajar hampir selesai, suasana di kelas ribut. Ia kemudian menegur teman-temannya agar diam. “Saya bilang, woi, diam. Tidak tahu kalau beliau lewat depan kelas,” kata MLF dalam video wawancara yang diperoleh Tribun Jambi, Sabtu (17/1/2026).
Setelah penamparan tersebut, Jm menuturkan, sejumlah guru dan siswa berusaha menengahi agar tidak pecah keributan. Namun, emosi sejumlah siswa disebut memuncak hingga terjadi kekerasan fisik. Videonya viral di media sosial.
Laporan ke Polisi dan Proses Hukum
Pasca kejadian, Agus Saputra melaporkan pengeroyokan itu ke Polda Jambi pada Kamis (15/1/2026). Ia mengaku mengalami tekanan mental dan luka lebam yang telah divisum. Agus didampingi kakaknya, datang ke Polda Jambi sekitar pukul empat sore dan melakukan pembuatan laporan polisi hampir empat jam.
Kakak kandung Agus, Nasir mengatakan bahwa langkah hukum ini diambil karena adiknya merasa dirugikan terlebih secara mental setelah kasus ini viral di sosial media. “Kondisi adik saya sedikit pusing, kita bikin laporan dari jam empat sore. Adik saya dirugikan secara mental dan psikis terlebih di medsos. Karena kita warga negara kita berhak melapor,” kata Nasir pada Kamis (15/1/2026) malam.
Di sisi lain, siswa yang terlibat juga melapor balik. Salah satu siswa berinisial LF didampingi keluarga dan kuasa hukumnya mendatangi Polda Jambi pada Senin (19/1/2026) malam untuk membuat laporan resmi. Kabid Humas Polda Jambi Kombes Pol Erlan Munaji membenarkan adanya laporan dari kedua belah pihak. Ia menyatakan kepolisian masih melakukan penyelidikan dan pendalaman kasus sesuai prosedur hukum yang berlaku. “Kita akan tindak lanjuti pelaporan tersebut sesuai aturan yang berlaku,” kata Erlan.
Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”











