Fokus Petani Sidomulyo pada Pengendalian Hama Daripada Kekeringan
Petani di Kampung Sidomulyo, Kecamatan Punggur, Kabupaten Lampung Tengah, lebih memperhatikan ancaman hama daripada kekeringan yang disebabkan oleh fenomena El Niño. Meskipun El Niño ‘Godzilla’ menjadi topik utama dalam berbagai diskusi, kondisi cuaca di wilayah ini masih didominasi oleh hujan ringan hingga sedang.
El Niño ‘Godzilla’ adalah istilah populer yang digunakan untuk menggambarkan fenomena El Niño yang ekstrem. Namun, para petani di Sidomulyo tidak terlalu khawatir dengan ancaman kekeringan. Mereka justru lebih waspada terhadap serangan hama seperti sundep dan tikus.
Menurut Wanto, seorang petani setempat, hama sundep pada awal tanam dan tikus menjelang panen menjadi perhatian serius. “Jika irigasinya lancar, ancaman utama yang tetap diwaspadai bukanlah kekeringan, tapi serangan hama, terutama hama sundep dan tikus,” ujarnya.
Meskipun prediksi El Niño menyebutkan kemarau panjang, dampaknya di Sidomulyo masih relatif minim. Para petani saat ini sedang memasuki fase krusial dalam Musim Tanam 2 (MT2). Kondisi lahan yang baik serta pasokan air yang melimpah memberikan optimisme bagi mereka.
“Cuaca di Sidomulyo dalam beberapa pekan terakhir masih didominasi hujan ringan hingga sedang, yang membantu menjaga kelembaban tanah. Sejauh ini, kami belum merasakan tanda-tanda kekeringan,” tambah Wanto.
Irigasi menjadi kunci utama untuk menjaga kestabilan air di sawah. Sistem pengairan yang terkelola dengan baik, seperti yang ada di daerah ini, mendukung petani dalam menjaga tanaman meskipun cuaca mulai menunjukkan tanda-tanda kemarau.
Beberapa sumber air penting di daerah ini, seperti Sistem Sungai Way Sekampung dan Daerah Irigasi Punggur Utara, memainkan peran besar dalam menjaga distribusi air yang optimal. Namun, meski irigasi lancar, Wanto mengingatkan bahwa masalah hama bisa berpotensi merusak hasil panen.
Pengendalian hama dilakukan dengan aktif melalui penggunaan racun tikus dan metode gropyokan yang dilakukan bersama oleh para petani. Di sisi lain, bila pasokan air mulai menipis, mereka sudah menyiapkan langkah-langkah antisipasi seperti penggunaan pompa air alkon, meskipun ini membutuhkan biaya tambahan untuk bahan bakar.
“Kami terus mengikuti pola tanam yang ditentukan pemerintah, yang disesuaikan dengan distribusi irigasi dan musim kemarau yang diperkirakan,” jelasnya.
Meski tantangan hama dan potensi kekeringan tetap menjadi perhatian, Wanto tetap optimistis bahwa dengan dukungan irigasi yang baik dan bantuan dari dinas pertanian, petani Sidomulyo dapat melewati musim tanam dengan baik.
“Kami berharap pemerintah tetap memberikan perhatian khusus terhadap sektor pertanian, terutama jika kemarau ekstrem benar-benar terjadi. Keberlanjutan produksi pangan sangat bergantung pada pengelolaan air yang bijak dan perlindungan terhadap tanaman dari hama,” tutup Wanto.











