"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Ini pekerjaan ayah siswi yang dihina guru Agus Saputra, menangis karena gaji disinggung

Peristiwa Pengeroyokan Guru Agus Saputra di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur

Agus Saputra (38), seorang guru mata pelajaran Bahasa Inggris di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur, menjadi sorotan setelah dikeroyok oleh sejumlah siswanya pada 13 Januari 2026. Kejadian ini memicu berbagai peristiwa yang terjadi sebelumnya antara Agus dan beberapa muridnya.

Berdasarkan keterangan dari rekan kerja Agus, sebelum pengeroyokan terjadi, ada beberapa insiden yang menimbulkan ketegangan. Salah satunya adalah saat pintu kelas tertutup ketika Agus hendak mengajar. Insiden ini membuat Agus tersinggung dan akhirnya meminta lima hingga tujuh siswanya untuk membuat pernyataan maaf.

“Pernyataan maaf ini cukup sulit, sebab para murid harus bikin video bersama orangtua serta menulis surat pernyataan maaf di atas materai,” ujar seorang guru yang tidak ingin disebutkan identitasnya.

Beberapa waktu setelah kejadian tersebut, dua siswi dilihat menangis. Salah satu dari mereka menangis karena Agus menyebut-nyebut pekerjaan ayah dari siswi tersebut.

Keesokan harinya, ayah dari siswi yang menangis datang ke sekolah. Rupanya, ia bekerja sebagai tukang kebun di sekolah tempat siswinya belajar. Namun, oleh rekan guru lain, ayah siswi tersebut tidak dipertemukan dengan Agus demi mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Pada siang hari, sejumlah siswa datang kepada Agus untuk meminta keringanan soal permintaan maaf. Namun, Agus justru membahas hal lain yang membuat para siswa kecewa. Tak lama kemudian, pengeroyokan yang viral terjadi.

Menangis Karena Singgungan Gaji Ayah

Seorang siswa, Jm, memberikan kronologi terjadinya pengeroyokan. Menurutnya, siswi yang menangis, inisialnya Ag, awalnya marah karena pintu kelas tertutup. Agus bertanya siapa yang menutup pintu, dan Jm menjawab bahwa itu dilakukan oleh Ag, tetapi ia yang menyuruhnya.

Jm juga mengungkapkan bahwa Agus sempat menyentuh latar belakang keluarga Ag, termasuk pekerjaan ayahnya sebagai petugas kebersihan sekolah. Pembicaraan bahkan sampai pada topik gaji orang tua dan dana komite sekolah.

“Ag diam saja di kelas. Setelah kami keluar, dia menangis di kantin,” kata Jm.

Esok harinya, Selasa, Jm menceritakan kejadian lain. Saat belajar-mengajar berlangsung, ada siswa yang berteriak di dalam kelas. Agus kebetulan melintas dan merasa tersinggung. Ia lalu masuk ke kelas dan menanyakan siapa yang berteriak.

“Salah satu siswa langsung mengaku, lalu ditampar,” ungkap Jm. Siswa yang berteriak dan ditampar itu berinisial MLF. Berdasarkan keterangan MLF, saat kegiatan belajar mengajar hampir selesai, suasana di kelas ribut. Ia kemudian menegur teman-temannya agar diam.

“Saya bilang, woi, diam. Tidak tahu kalau beliau lewat depan kelas,” kata MLF dalam video wawancara yang diperoleh Tribun Jambi, Sabtu (17/1/2026).

Setelah penamparan tersebut, Jm menuturkan, sejumlah guru dan siswa berusaha menengahi agar tidak pecah keributan. Namun, emosi sejumlah siswa disebut memuncak hingga terjadi kekerasan fisik. Videonya viral di media sosial.

Guru Agus Laporkan Rekan Kerja dan Kepsek

Agus mengungkapkan bahwa pihak sekolah melakukan pembiaran sehingga kasus ini berlarut-larut. “Karena saya menuntut keadilan di sini, sudah dibicarakan secara musyawarah, namun mereka membiarkan hal ini berlanjut,” ujarnya.

Menurutnya, pihak sekolah sudah mengetahui soal perundungan yang dialaminya oleh siswa selama ini. Sebelumnya, Agus mengaku mendapat perundungan dari para siswa di sekolah tersebut selama bertahun-tahun.

Agus menduga sikap bungkam kepala sekolah dan rekan kerjanya itu karena alasan keamanan. “(Pihak sekolah sudah tahu perundungan berlangsung lama) tapi mereka memang membungkam karena topologi atau geografis penduduk, mereka tinggal di sana,” jelasnya.

Ia merasa menjadi satu-satunya guru yang bersikap kritis dan vokal dalam membentuk karakter siswa. Hal itu justru membuatnya dianggap sebagai beban atau ancaman bagi ketenangan semu di lingkungan tersebut.

“Mereka menjaga mulut dan telinga mereka agar tidak terlalu seperti saya, saya satu-satunya orang yang di sana, terlalu vokal mungkin dianggap atau terlalu kritis membentuk karakter mereka menjadi lebih baik, sehingga mereka merasa ini tidak perlu.”

“Namun kenyataannya di lapangan mereka membiarkan ini berlarut-larut,” tandasnya.

Lebih jauh, Agus mengungkap adanya intimidasi yang membuat para guru menutupi perilaku siswanya.

Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *