"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Kisah Nisya, Pramugari Palsu yang Ditipu Rp30 Juta saat Seleksi

Pengalaman Pahit Khairun Nisya yang Menjadi Korban Penipuan dan Kehilangan Kepercayaan

Khairun Nisya (23), seorang wanita asal Palembang, pernah menjadi korban penipuan terkait seleksi penerimaan menjadi pramugari. Ia dikenalkan dengan seseorang yang mengaku bisa membantunya diterima sebagai pramugari di salah satu maskapai penerbangan. Namun, upaya tersebut berujung pada kerugian materi hingga Rp30 juta.

Pada saat itu, Nisya diminta untuk membayar uang sebesar Rp30 juta sebagai syarat bisa menjadi pramugari. Sayangnya, janji dari orang tersebut tidak terpenuhi, dan akhirnya ia tidak bisa dihubungi lagi. Hal ini membuat Nisya merasa malu dan tidak percaya diri, terutama terhadap keluarganya di Palembang.

Untuk menutupi rasa malu tersebut, Nisya memutuskan untuk berpura-pura menjadi pramugari. Ia memposting foto di media sosialnya dengan menggunakan atribut lengkap seperti seragam dan kartu identitas sekolah pramugari dari Batik Air. Tujuannya adalah agar keluarganya percaya bahwa dirinya telah berhasil menjadi pramugari.

Tidak hanya itu, Nisya juga sempat berfoto bersama orang tuanya sambil mengenakan pakaian pramugari lengkap. Aksi ini dilakukan agar mereka tidak merasa kecewa atas kegagalannya dalam seleksi. Meski tindakannya itu disengaja, ternyata Nisya tidak memiliki niat jahat, tetapi hanya ingin menjaga kepercayaan diri dan keharmonisan keluarga.

Penyamaran Terbongkar di Bandara Soekarno Hatta

Peristiwa penyamaran Nisya terbongkar ketika ia ikut serta dalam penerbangan Batik Air dengan rute Palembang–Jakarta (ID 70-508) pada tanggal 6 Januari 2026. Ia berhasil lolos pemeriksaan karena membeli tiket penumpang dan diduga disangka sebagai extra crew. Namun, kejanggalan mulai muncul ketika ia tidak mampu menjawab pertanyaan dasar seputar tugas awak kabin.

Kru kabin menyadari adanya perbedaan pada rok yang digunakan oleh Nisya. Mereka merasa curiga karena coraknya berbeda dari seragam resmi pramugari. Setelah itu, kru kabin melaporkan hal tersebut ke petugas keamanan penerbangan (Avsec) di Bandara Soekarno-Hatta.

Setibanya di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, Avsec langsung memeriksa Nisya dan menemukan bahwa ia bukan pegawai Batik Air. Setelah diinterogasi, Nisya mengakui bahwa dirinya bukan karyawan resmi maskapai tersebut. Akhirnya, ia dibawa ke Polres Bandara untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Tidak Ada Tindak Pidana yang Dilakukan

Menurut Kasat Reskrim Polresta Bandara Soekarno-Hatta, Kompol Yandri Mono, tidak ditemukan indikasi tindak pidana apapun terhadap Nisya. Oleh karena itu, pihak Batik Air memilih untuk menyelesaikan masalah secara damai tanpa melakukan penuntutan hukum.

Nisya membuat surat pernyataan bahwa ia tidak akan mengulangi perbuatannya dan menyita semua atribut Batik Air yang dipakainya. Meskipun demikian, ia tetap meminta maaf kepada manajemen maskapai terkait.

Dalam pernyataannya, Nisya mengakui bahwa dirinya memang ikut serta dalam penerbangan Batik Air rute Palembang–Jakarta (ID 70-508) pada tanggal 6 Januari 2026. Ia juga menyampaikan permintaan maaf dan penyesalan atas tindakannya. Dalam video klarifikasi yang dibagikan melalui akun Instagram @sumsel.terciduk, Nisya menegaskan bahwa ia tidak bermaksud menipu atau mencuri identitas.

Motif Penyamaran yang Masih Mencurigakan

Meski telah meminta maaf, Nisya tidak mengungkapkan motif dasarnya melakukan penyamaran menjadi pramugari gadungan. Namun, diketahui bahwa ia menggunakan seragam lengkap serta atribut resmi pramugari agar tampak seperti kru kabin yang sedang bertugas.

Ia tampil begitu meyakinkan dengan mengenakan seragam lengkap layaknya awak kabin resmi, membawa koper maskapai, bahkan berhasil ikut terbang dalam sebuah penerbangan salah satu maskapai nasional. Nisya diduga sengaja membuat ID card palsu dengan nama “Nisya” agar terlihat sebagai pramugari resmi.

Identitas aslinya terungkap setelah pihak berwenang atau maskapai melakukan pengecekan. Nisya menegaskan bahwa dirinya bukanlah bagian dari awak kabin resmi maskapai manapun.

Wahyudi

Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *