Kasus Penganiayaan di Ruang ASN Soppeng Membuat Publik Geger
Peristiwa yang terjadi di ruang kerja Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, telah memicu gelombang reaksi dari masyarakat. Video pengakuan korban yang viral di media sosial menunjukkan luka-luka serta cerita dramatis yang membuat publik kaget.
Kasus ini melibatkan Ketua DPRD Kabupaten Soppeng, Andi Muhammad Farid, yang dilaporkan ke polisi setelah diduga menganiaya pejabat BKPSDM, Rusman. Peristiwa tersebut terjadi pada hari Selasa, 24 Desember 2025 sekitar pukul 16.00 WITA di ruang kerja Rusman. Korban mengaku menerima pukulan, tendangan, hingga dilempar kursi.
Rusman mengungkapkan bahwa dirinya sudah melaporkan kejadian tersebut ke Polres Soppeng. Ia menyebut bahwa ada ancaman dan penganiayaan yang dialaminya. Selain itu, ia juga menunjukkan bekas luka yang disebut akibat tindakan tersebut. “Sudah ada hasil visum,” ujarnya singkat.
Kronologi Kejadian
Waktu: Selasa, 24 Desember 2025, sekitar pukul 16.00 WITA.
Lokasi: Ruang kerja Rusman di kantor BKPSDM Soppeng, berjarak ±750 meter dari kantor DPRD.
Ketua DPRD Soppeng, Andi Muhammad Farid, masuk ke ruangan Rusman bersama seorang pria bernama Abidin. Kedatangan mereka untuk mempertanyakan penempatan Abidin sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu.
Rusman menjelaskan bahwa penempatan tersebut dilakukan berdasarkan persetujuan teknis BKPSDM Provinsi Sulawesi Selatan. Namun, penjelasan tersebut tidak diterima oleh Farid, sehingga situasi berkembang menjadi adu argumen.
Dalam suasana tegang, Rusman mengaku dilempar kursi, ditendang, dan dipukul. “Dia masuk ke ruangan saya tanyakan soal administrasi pegawai. Saya dilempar kursi saat itu, bahkan sempat ditendang juga,” ujar Rusman.
Beberapa video pengakuan Rusman beredar luas di media sosial, memperlihatkan dirinya menceritakan dugaan penganiayaan tersebut. Namun, hingga kini, belum ada respons dari Ketua DPRD Soppeng maupun pihak kepolisian.
Belum Ada Respons Resmi
Ketua DPRD Soppeng, Andi Muhammad Farid, belum memberikan keterangan meskipun telah dihubungi melalui telepon dan WhatsApp. Begitu pula dengan Kasat Reskrim Polres Soppeng, AKP Dodie Ramaputra, yang belum menyampaikan pernyataan resmi.
Media masih menunggu klarifikasi dari pihak terlapor dan kepolisian. Publik pun menantikan jawaban atas dugaan penganiayaan yang terjadi di ruang ASN tersebut.
Profil Andi Muhammad Farid: Politisi Muda yang Cepat Naik
Andi Muhammad Farid, S.Sos, adalah politisi muda dari Partai Golkar yang langsung mencuri perhatian publik Soppeng. Baru pertama kali mencalonkan diri sebagai anggota DPRD pada Pemilu 2024, ia berhasil terpilih dari Daerah Pemilihan I Kecamatan Lalabata dan langsung menduduki kursi Ketua DPRD Soppeng periode 2024–2029.
Lahir di Soppeng pada 19 Mei 1998, ia merupakan putra dari H. A. Kaswadi Razak, S.E. dan Hj. Nurjannah. Pendidikan dasarnya ditempuh di SD Negeri 3 Lemba, lalu berlanjut ke SMP Nusantara dan Bosowa School Makassar. Semangat belajarnya mengantarkan Farid ke Universitas Hasanuddin, tempat ia meraih gelar Sarjana Sosial di bidang Sosiologi.
Selain menekuni dunia akademik, Farid aktif dalam berbagai organisasi kepemudaan dan kemasyarakatan, seperti BPC HIPMI Soppeng, DPD II AMPI Soppeng, IOF Pengcab Soppeng, dan AMPG Soppeng. Aktivitas ini membuat namanya semakin dikenal luas sebagai sosok muda yang karismatik, ramah, dan bersahaja.
Kemenangan politiknya di Pemilu 2024 sekaligus menegaskan reputasinya sebagai figur baru yang cepat naik ke panggung legislatif. Kini, sorotan publik terhadap dirinya semakin tajam setelah namanya terseret dalam kasus dugaan penganiayaan terhadap pejabat BKPSDM Soppeng.
Bikin Geger Pemkab Soppeng
Kasus dugaan penganiayaan ini mengguncang publik Soppeng dan langsung menjadi sorotan nasional setelah video pengakuan korban viral di media sosial. Suasana kerja Pemkab Soppeng ikut terguncang karena melibatkan pejabat legislatif dan ASN di instansi kepegawaian.
Motif penempatan pegawai bernama Abidin menambah dimensi birokrasi dalam kasus ini. Publik menilai peristiwa tersebut sebagai ujian serius bagi integritas DPRD Soppeng.
Bogem dan kursi terbang di ruang ASN bukan sekadar keributan kantor, melainkan potret nyata ketegangan politik dan birokrasi di daerah.











