Kasus Kematian Pratu Farkhan Syauqi Marpaung, Penganiayaan Senior TNI di Papua
Kasus kematian Pratu Farkhan Syauqi Marpaung, anggota Yonif 113/Jaya Sakti Aceh, yang diduga akibat penganiayaan oleh senior saat bertugas di Papua menimbulkan kekecewaan besar dari keluarga dan masyarakat. Peristiwa ini kembali mengangkat isu kekerasan dalam lingkungan militer, terutama di wilayah rawan seperti Papua.
Pratu Farkhan, yang berasal dari Aceh, dikenal sebagai prajurit muda yang baru saja lulus Sekolah Calon Tamtama (Secaba) sekitar tahun 2023-2024. Ia ditempatkan di Batalyon Infanteri 113/Jaya Sakti (Yonif 113/JS), satuan militer TNI AD yang berada di bawah Kodam Iskandar Muda (Kodam IM) wilayah Aceh. Namun, nasib malang menimpa dirinya ketika ia pulang dalam kondisi tak bernyawa, bukan gugur di medan perang, melainkan diduga tewas akibat penganiayaan oleh senior.
Keluarga Menyampaikan Rasa Kecewa
Ayah korban, Zakaria Marpaung, menyatakan bahwa ia tidak pernah membayangkan anaknya akan meninggal dalam situasi seperti ini. Menurutnya, Pratu Farkhan sempat sakit dan menghangatkan badan di dekat perapian. Seorang senior berpangkat sersan datang menanyakan kondisinya dan memberikan dukungan awal.
Namun, situasi berubah drastis ketika seorang senior lain dengan pangkat kopral tiba dan diduga melakukan tindakan kekerasan. Pratu Farkhan dipukul menggunakan ranting dan dipaksa melakukan sikap tobat. Menurut keterangan keluarga, setelah tunduk pada sikap tobat, ia ditendang dan melawan. Zakaria mengungkapkan rasa bangga terhadap anaknya karena berani membela diri meskipun menghadapi senior.
Ibu Korban Menangis Histeris
Ibu Pratu Farkhan, Marsinah Wati Silalahi, tampak sangat histeris saat menceritakan kepergian sang anak. Tangisannya pecah saat ia mengingat telepon terakhir dari putranya yang menyebutkan bahwa ia merasa sakit, mungkin terkena tipes atau malaria. Namun, Marsinah tidak menyangka bahwa anaknya akan meninggal dalam kondisi seperti ini.
Dengan kedua tangan, ia memeluk erat bingkai foto Pratu Farkhan, yang mengenakan seragam loreng TNI. Setiap tarikan napasnya terdengar berat, menggambarkan amarah, pilu, dan ketidakpercayaan atas kepergian sang anak. Marsinah juga menyampaikan bahwa ia tidak percaya bahwa anaknya akan dipukul dan dianiaya oleh seorang kopral.
Peristiwa Serupa Menggema
Peristiwa ini tidak hanya menjadi duka bagi keluarga Pratu Farkhan, tetapi juga menjadi sorotan publik. Belum lama ini, kasus serupa juga terjadi dengan Prada Lucky Namo, prajurit TNI yang tewas diduga dianiaya seniornya. Kini, kasus Pratu Farkhan kembali memicu pertanyaan tentang bagaimana sistem pengawasan dan perlindungan di lingkungan militer.
Zakaria menyampaikan kekecewaannya terhadap tindakan senior yang justru menjadi penyebab hilangnya nyawa anaknya. Ia menilai sesama prajurit seharusnya saling menjaga, terlebih saat bertugas di wilayah rawan seperti Papua. Ia menegaskan bahwa perbuatan tersebut tidak bisa ditoleransi dan harus diinvestigasi secara mendalam.
Kritik terhadap Sistem Militer
Penganiayaan yang dilakukan oleh senior terhadap junior dalam lingkungan militer telah menjadi isu yang sering kali diabaikan. Kasus-kasus seperti ini menunjukkan adanya celah dalam sistem pengawasan dan pelatihan untuk menghindari kekerasan antar prajurit. Diperlukan langkah-langkah tegas agar tidak ada lagi korban yang jatuh akibat tindakan tidak manusiawi dari sesama prajurit.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











