"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Kakek Ahwa Meninggal Usai Rumah Dibongkar, Tetangga Tak Berani Intervensi

Kakek 68 Tahun dan Saudara Kandungnya Terkena Pembongkaran Paksa di Surabaya



Surabaya, kasus pembongkaran rumah secara paksa yang dilakukan oleh organisasi masyarakat (ormas) juga menimpa seorang kakek asal Surabaya, Ahwa (68) dan saudara kandungnya, Teng Lind Djay. Mereka menyewa sebuah rumah di Jalan Kepatihan 7, RT 06, RW 02, Kecamatan Bubutan, Surabaya.

Diduga, pembongkaran tersebut terjadi karena adanya sengketa tanah dengan pihak penyewa, H Husain. Saat ini, kondisi rumah yang sedang dibangun kembali pasca-pembongkaran terlihat jelas. Selain itu, beberapa barang seperti lemari, meja, dan kursi dibiarkan tergeletak di pinggir kampung.

Ketua RW 02, Kecamatan Bubutan, Suyono mengaku sempat melihat bahan-bahan material yang diletakkan di depan gang sebelum aksi pembongkaran paksa terjadi. “Yang saya tahu beberapa waktu sebelum kejadian itu ada material-material yang ditaruh di ujung kampung situ,” kata Suyono saat ditemui. Namun, ia tidak mengetahui alasan pasti di balik pembongkaran tersebut.

Ia mengatakan telah meminta ketua RT dan pihak kepolisian untuk memediasi kedua pihak. “Saya sudah minta ketua RT-nya untuk mediasi karena itu wilayah mereka dan kemarin pun juga sudah dimediasi di kepolisian, saya enggak mau ribet.”

Pihak Penyewa Mengajukan Permohonan ke RT

Ketua RT 05, Hermansyah mengatakan bahwa sekitar dua minggu sebelum kejadian, pihak penyewa sempat mendatangi RT-RT lain meminta tanda tangan saksi untuk pembangunan ulang rumah. “Kan saya sempat dimintai tanda tangan katanya mau buat bangun ulang rumah-rumah itu. Saya tanya ada sertifikatnya enggak? Katanya ada, ada IMB-nya enggak? Katanya ada,” ujar Hermansyah.

Pada hari pembongkaran pada 11 November 2025, ketua RT setempat sedang tidak ada di rumah. Oleh karena itu, Hermansyah berusaha menengahi antara ormas dan pihak keluarga. “Waktu itu RT-nya memang lagi enggak ada di tempat, akhirnya ya saya tengahi dan Alhamdulillah-nya mereka mau berhenti, karena jangan sampai kericuhan ini juga mengganggu warga di daerah saya.”

Menurutnya, saat itu, beberapa anggota bhabinkamtibmas hanya mengambil foto, tanpa melerai konflik. “Waktu itu saya lihat juga ada bhabinkamtibmas, tapi cuma difoto-foto saja terus cabut.”

Pengalaman Tetangga Saat Pembongkaran

Sementara itu, tetangga sekitar, Indah Tristia mengungkapkan bahwa Teng Lind Djay sempat berlari mendatangi dirinya untuk meminta tolong saat peristiwa pembongkaran pada 11 November terjadi. “Cece (Teng Lind Djay) sudah lari sambil gemetar ke tempat saya, ‘Tolongin Ndah rumahku dibongkar, rumahku dibongkar’,” ungkapnya mengenang saat kejadian kala itu.

Akhirnya, ia pun segera menelepon kedua ponakan kakek Ahwa untuk segera datang ke lokasi. “Akhirnya saya telepon kan kokonya buat datang ke rumah, seengaknya kan ada cowok yang bisa menghentikan ini.”

Indah menjelaskan jumlah anggota ormas yang datang pertama kali mulanya hanya berjumlah 6 orang. Lalu, semakin lama semakin banyak orang yang berdatangan hingga berjumlah sekitar 40 orang. “Orang-orang yang ngebongkar itu sambil teriak-teriak bilang ‘hancurin terus, hancurin’,” ucapnya.

Menurutnya, sekelompok orang tersebut memakai baju merah bertuliskan “MADAS”, serta satu mobil bertuliskan “DPC Madas Kenjeran”. “Banyak banget orang-orangnya sampai sepanjang gang sini penuh, ada 40 orang mungkin, bahkan ada mobilnya juga yang parkir di sana,” ujarnya.

Tidak Ada Warga yang Berani Menghentikan Aksi

Saat itu juga tidak ada warga sekitar yang berani menghentikan aksi pembongkaran. “Ya enggak ada yang berani, Mbak. Soalnya kan ormas-ormas gitu apalagi mereka banyak datang bergerombol, warga sekitar enggak ada yang berani,” ucapnya.

Kala itu, RT setempat sedang tidak ada di rumah sehingga menjadikan perseteruan semakin panas. “Kalau yang (pembongkaran) tanggal 31 itu ada (RT-nya), tapi kalau yang tanggal 11 itu kebetulan orangnya enggak ada di rumah,” kata dia.

Usai kejadian tersebut, kakek Ahwa meninggal dunia pada 12 November 2025 usai dilarikan ke RSUD dr Soewandie, setelah sempat tidak sadarkan diri saat tengah memindahkan barang-barang.

Bayu Purnomo

Penulis yang terbiasa meliput isu-isu pemerintahan, ekonomi, hingga gaya hidup ringan. Ia gemar bersepeda sore dan merawat tanaman hias di rumah. Rutinitas sederhana itu membantunya menjaga fokus dan kreativitas. Motto: "Berpikir jernih menghasilkan tulisan yang kuat."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *