"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Waspadalah, Bestie! Pelecehan Seksual di Kereta Benar-Benar Terjadi!



JAKARTA,

Ketika berbicara tentang transportasi umum, khususnya kereta, kita sering membayangkan suasana yang tenang dan nyaman. Namun di balik itu, banyak cerita dari penumpang muda yang justru membuat merinding. Mulai dari tatapan tidak sopan hingga sentuhan yang tidak diinginkan, kejadian-kejadian ini bisa membuat perjalanan yang seharusnya aman menjadi pengalaman traumatis.

Generasi muda atau Gen Z, yang lebih sadar terhadap isu ini, mungkin memiliki tingkat kewaspadaan yang cukup tinggi. Namun, apakah mereka benar-benar cukup waspada? Atau masih banyak yang enggan untuk menyampaikan keluhan mereka?

Dari wawancara dengan beberapa pengguna KRL, terlihat bahwa Gen Z memang lebih sadar akan risiko pelecehan seksual. Aura, salah satu pengguna KRL aktif, menjelaskan bahwa kereta tidak bisa dianggap 100% aman, terutama saat kondisi gerbong penuh sesak. Di situasi seperti ini, pelaku lebih mudah melakukan tindakan tidak senonoh. Ia pernah melihat seseorang dengan sikap mencurigakan, termasuk cara berdiri yang terlalu dekat dan ekspresi gelisah.

Meski begitu, Aura percaya bahwa Gen Z sekarang lebih sigap. Mereka cenderung cepat mengenali hal-hal yang tidak wajar dan lebih berani untuk menyampaikan pendapat. “Kalau lihat hal janggal, kita langsung waspada. Kalau perlu, bantu korban,” ujarnya.

Sementara itu, Nusa menambahkan bahwa Gen Z sangat aware karena sudah terbiasa hidup dalam dunia digital. Jika ada kejadian pelecehan, mereka biasanya merekam sebagai bukti dan melaporkannya ke petugas keamanan. Bahkan, beberapa kasus viral di media sosial agar pelaku mendapatkan sanksi sosial.

Cerita paling menggemparkan datang dari Aisyah, seorang saksi yang pernah menghadapi kejadian pelecehan secara langsung. Kejadian tersebut terjadi di jam pulang kerja, ketika kereta sedang penuh. Aisyah melihat seorang pria dengan penampilan mencurigakan. Ketika seorang ibu meninggalkan anak perempuannya sejenak, pria itu duduk terlalu dekat dengan sang anak.

Di tengah kepadatan, pelaku melakukan tindakan cabul dengan mendekatkan tubuhnya dan menyentuh bagian tubuh si anak. Aisyah bahkan melihat pelaku membuka resleting celananya. Tanpa ragu, ia langsung berteriak “pelecehan!” dan membuat penumpang lain sadar. Pelaku kabur ke toilet, tetapi akhirnya ditahan oleh petugas di stasiun berikutnya.

Kejadian ini menjadi pengingat bahwa pelecehan di kereta nyata terjadi, bahkan di tengah keramaian.

Berdasarkan masukan dari beberapa narasumber, beberapa langkah yang bisa ditingkatkan antara lain:

  • Menambah gerbong khusus wanita, terutama pada jam-jam sibuk
  • Petugas harus lebih rajin melakukan kontrol dan patroli di dalam gerbong
  • Menggunakan CCTV secara aktif untuk pemantauan keadaan
  • Mengurangi overcapacity dan meningkatkan frekuensi perjalanan

Gen Z mungkin semakin sadar, tetapi sistem keamanan tetap perlu diperbaiki. Pelecehan bisa terjadi kapan saja, dan keberanian untuk menyampaikan keluhan sangat penting.

Jaga diri, jaga teman, dan jangan ragu melaporkan jika ada hal yang janggal. Naik kereta seharusnya aman, bukan membuat was-was.

Meski katanya Gen-Z tidak suka membaca, artikel ini dibuat dengan bahasa yang mudah agar kamu bisa memahami pentingnya kesadaran akan isu ini.

Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *