Pendidikan sebagai Fondasi Karakter dan Budaya
Pendidikan bukan hanya sekadar transfer pengetahuan akademis atau pembekalan keterampilan teknis. Lebih dari itu, pendidikan memiliki peran fundamental sebagai benteng pertahanan karakter dan pembentuk moralitas bangsa. Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan sosial yang cepat, pendidikan nilai dan budi pekerti menjadi semakin krusial. Tanpa landasan nilai yang kuat, kecerdasan intelektual saja berisiko menjadi kekuatan yang disalahgunakan.
Hal ini mengemuka dalam pertemuan Yayasan Global Cahaya Bangsa (YGCB) dengan Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (D.I. Yogyakarta), KGPAA Paku Alam X di Gedhong Pareanom, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta pada 21 November 2025. KGPAA Paku Alam X secara khusus menekankan pentingnya setiap institusi pendidikan untuk menempatkan nilai dan budi pekerti sebagai fondasi utama pembelajaran.
“Namun yang terpenting adalah pendidikan yang mengedepankan nilai dan budi pekerti, karena hal itu yang akan mencetak generasi unggul dalam ilmu, moral, dan budaya,” lanjutnya. Paku Alam juga mengingatkan bahwa di era digital, siswa harus memanfaatkan teknologi sebagai sarana untuk memanusiakan manusia, bukan sebaliknya.
“Secara hard skill, anak-anak itu luar biasa. Pandai sekali. Cuman yang masih lemah itu soft skill-nya, seperti manners dan attitude. Ini menjadi tanggung jawab kita bersama,” jelas Paku Alam X. “Harapan saya, nanti ke depan, di sekolah yang bapak/ibu perjuangkan ini ada muatan yang mengajarkan atau menanamkan mengenai nilai-nilai karakter dan budaya, karena sekarang ini makin terkikis,” tambahnya.
Peran Teknologi dalam Pendidikan
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, seperti hadirnya kecerdasan buatan (AI), Paku Alam pun menilai para generasi muda penting untuk dikenalkan dengan dunia digital sedari dini. Dengan demikian mereka dapat memanfaatkan kecerdasan teknologi yang ada dengan optimal, juga bijaksana.
Audiensi ini juga menyinggung warisan pendidikan di lingkungan Paku Alam yang memiliki perhatian besar terhadap dunia pendidikan sejak masa lampau. Hal ini diperkuat dengan fakta sejarah bahwa tokoh pendidikan nasional, Ki Hajar Dewantara, merupakan salah satu cucu dari Paku Alam III. Fakta ini menjadi catatan penting yang menegaskan relevansi Yayasan GCB dalam melanjutkan visi pendidikan yang sejalan dengan nilai-nilai luhur dan budaya khas Yogyakarta.
Pendidikan Nilai dan Budi Pekerti
Pembina Yayasan Sekolah Global Cahaya Bangsa, Aryanto Sukoco mengungkapkan, terkadang dirinya pun prihatin apabila menemui anak-anak pintar namun memiliki etika yang masih lemah. “Untuk itu, kami ajarkan juga di sini. Bagaimana siswa yang berkarakter tetapi mampu berkancah di global. Jadi karakter Indonesianya jangan hilang. Bagaimana menghormati orang tua, bersopan santun. Hal-hal seperti itu yang kami tekankan juga,” tutur Aryanto.
Dalam pemaparan visi dan misinya, Yayasan Global Cahaya Bangsa menegaskan komitmen menghadirkan pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga mengedepankan karakter, budaya, dan nilai-nilai luhur. Tujuannya adalah melahirkan generasi muda yang berakhlak mulia, unggul, serta siap berperan sebagai warga negara global.
Program Pendidikan Karakter
Kepala SMA Kesatuan Bangsa, Nur Wijayanto yang turut hadir dalam kesempatan tersebut juga menekankan pentingnya pendidikan yang mengedepankan nilai dan budi pekerti. Hal itu akan mencetak generasi unggul dalam ilmu, moral, dan budaya. “Hal yang terpenting adalah pendidikan yang mengedepankan nilai dan budi pekerti sehingga kelak para siswa akan menjadi generasi penerus bangsa yang mampu berdiri kokoh sebagai global citizen dan senantiasa menjunjung tinggi akar budaya Indonesia,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, sekolah adalah lembaga yang secara berkesinambungan mendidik, membimbing dan membina generasi penerus bangsa agar kelak dapat berkontribusi positif pada jamannya nanti. “Oleh karenanya YGCB berkomitmen menghadirkan pendidikan yang mengedepankan karakter, budaya, dan nilai-nilai luhur. Pendidikan karakter diintegrasikan di berbagai jenjang,” jelas Nur Wijayanto.
Integrasi budi pekerti dan nilai dalam kurikulum diimplementasikan dalam beberapa program, di antaranya Social-Emotional Learning (SEL), Value-Based Education, Konseling dan Mentorship, serta Kegiatan kolaboratif (project-based learning, problem-based learning). “Hal ini sejalan dengan visi sekolah untuk mewujudkan generasi unggul yang berkarakter Pancasila, adaptif terhadap perkembangan global, serta mampu menghasilkan dampak positif bagi kehidupan masyarakat,” pungkasnya.
Rencana Strategis Pendirian Lembaga Pendidikan
Dalam audiensi dengan Paku Alam X, pihak Yayasan Global Cahaya Bangsa menyampaikan rencana strategis pendirian lembaga pendidikan terpadu mulai dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) Global Cahaya Bangsa di D.I. Yogyakarta. Wakil Gubernur D.I. Yogyakarta, KGPAA Paku Alam X, menyambut positif rencana ini dan menyatakan kesiapan pemerintah daerah untuk memberikan dukungan serta berencana hadir dalam acara peresmian sekolah yang dijadwalkan pada 6 Desember 2026.
“Saya percaya bahwa dengan kurikulum yang disiapkan, fasilitas modern, serta tenaga pendidik yang mumpuni, sekolah ini dapat menjadi salah satu sekolah terbaik di Yogyakarta,” tutup KGPAA Paku Alam X.











