"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"
Bisnis  

Harga Timah Global Naik, Saham TINS Melonjak 187% Ytd, Bagaimana Masa Depannya?

Harga saham PT Timah Tbk (TINS) yang merupakan emiten pelat merah mengalami kenaikan signifikan sebesar 187,85% sepanjang tahun ini. Kenaikan ini terjadi seiring dengan meningkatnya harga timah global. Prediksi dari Bloomberg menunjukkan bahwa harga timah pada tahun 2025 diperkirakan akan berada dalam kisaran US$ 32.254 hingga US$ 34.181 per ton. Permintaan dari industri elektronik menjadi salah satu pendorong utama peningkatan konsumsi timah.

Permintaan timah global, terutama dari sektor tin solder dan tin chemical, masih kuat dan didorong oleh pasar Jepang dan Cina. Data Kementerian Perdagangan menunjukkan bahwa ekspor logam timah Indonesia hingga September 2025 mencapai 37.946 metrik ton, naik 28% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Ketatnya pasokan timah global disebabkan oleh terbatasnya produksi dari beberapa negara seperti Indonesia, Myanmar, Malaysia Smelting Corporation (MSC), dan Republik Demokratik Kongo. Faktor-faktor seperti regulasi, konflik, dan aktivitas pemeliharaan produksi turut memengaruhi ketersediaan pasokan.

Dari sisi keuangan, TINS mencatatkan laba bersih sebesar Rp 602,42 miliar hingga September 2025, turun 33,71% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 908,78 miliar. Capaian ini setara dengan 78% dari target laba yang ditetapkan perseroan, yaitu Rp 774 miliar. Pendapatan perusahaan tercatat sebesar Rp 6,60 triliun, merosot 20% dari Rp 8,25 triliun pada kuartal ketiga 2024.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko TINS, Fina Eliani, menyampaikan bahwa momentum kenaikan harga timah global serta dukungan pemerintah terhadap perbaikan tata kelola pertambangan timah membantu perseroan mencatatkan laba bersih sebesar Rp 602 miliar hingga semester ketiga 2025, atau dua kali lipat dari laba semester pertama 2025.

Kontribusi penjualan ekspor TINS mencapai sekitar 21% dari total ekspor timah Indonesia dan sekitar 3% dari konsumsi global yang sebesar 278.048 metrik ton menurut CRU Tin Monitor. Konsumsi timah global selama sembilan bulan pertama 2025 diperkirakan mencapai 282.874 ton.

Meski harga menguat, produksi bijih timah TINS hingga September 2025 turun 20% menjadi 12.197 ton Sn dari 15.201 ton Sn pada periode yang sama 2024. Penurunan ini dipengaruhi oleh cuaca buruk, kondisi cadangan tidak menerus (spotted), serta maraknya penambangan ilegal. Akibatnya, produksi logam timah merosot 25% menjadi 10.855 metrik ton, sedangkan penjualan turun 30% menjadi 9.469 metrik ton. Dari total penjualan, 7% dikirim ke pasar domestik, sedangkan 93% diekspor ke enam negara utama yakni Jepang, Singapura, Korea Selatan, Belanda, Italia, dan Amerika Serikat.

Strategi Peningkatan Produksi Capai Target 2025

Manajemen TINS menyampaikan dalam bahan presentasi dalam paparan publik, terdapat berbagai strategi yang telah disusun perseroan untuk dapat mencapai target-target sepanjang tahun ini. Di antaranya:

  1. Meningkatkan sumber daya dan cadangan timah secara organik atau anorganik.
  2. Optimalisasi penambangan dan pengolahan timah primer.
  3. Perbaikan tata kelola kemitraan penambangan.
  4. Mengoptimalisasi produksi melalui percepatan pembukaan lokasi baru.
  5. Mengembangkan monasite-REE.
  6. Meningkatkan pendapatan konsolidasi (peningkatan) kinerja anak perusahaan.
  7. Meningkatkan volume produksi dan penjualan Tin Solder, Tin Chemical, Nikel, Batubara, dan pasir kuarsa.
Faridah Hasna

Reporter berita yang mengulas peristiwa cepat dan trending topic. Ia gemar memantau media sosial, mencoba aplikasi baru, dan membuat konten singkat. Waktu senggangnya dihabiskan dengan mendengarkan podcast opini. Motto: “Kecepatan harus sejalan dengan ketepatan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *