"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"
Bisnis  

Pelantikan Pengurus IISIA, Kemenperin Dorong Penguatan Industri Baja Nasional Bersaing Global

Peran Industri Baja dalam Perekonomian Indonesia

Indonesia saat ini menempati peringkat ke-13 produsen baja dunia dengan produksi mencapai sekitar 19 juta ton pada tahun 2025. Dalam enam tahun terakhir, produksi baja nasional tumbuh konsisten dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 14 persen per tahun. Hal ini menunjukkan perkembangan yang pesat dan menandai posisi penting sektor baja dalam perekonomian nasional.

Kementerian Perindustrian menegaskan komitmennya dalam memperkuat industri baja nasional sebagai salah satu sektor strategis penopang perekonomian Indonesia. Pernyataan ini disampaikan dalam acara pengukuhan pengurus The Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) periode 2026–2030 di Jakarta.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa IISIA merupakan mitra strategis pemerintah dalam mendorong penguatan struktur industri nasional, khususnya dalam membangun industri baja yang mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan. “Pemerintah memandang IISIA sebagai mitra penting dalam memperkuat industri baja nasional. Kepengurusan baru diharapkan mampu menjawab tantangan global sekaligus mengoptimalkan peluang strategis ke depan,” ujar Menperin dalam sambutannya di Jakarta, Jumat (10/4/2026).

Menperin menambahkan bahwa sektor industri pengolahan masih menjadi tulang punggung perekonomian nasional dengan kinerja yang terus menunjukkan tren positif. Pada tahun 2025, pertumbuhan industri pengolahan mencapai 5,30 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11 persen. Selain itu, kontribusi sektor ini terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga meningkat menjadi 19,07 persen.

Lebih lanjut, subsektor industri logam dasar, termasuk baja, menjadi salah satu motor penggerak ekonomi dengan pertumbuhan mencapai 15,71 persen pada tahun 2025. Capaian tersebut didorong oleh meningkatnya permintaan dari sektor infrastruktur, manufaktur, dan industri hilir bernilai tambah.

Namun demikian, Menperin menyoroti masih adanya tantangan struktural, seperti rendahnya utilisasi industri baja yang berada di kisaran 52,7 persen, serta defisit pada produk antara dan hilir akibat tingginya impor bahan baku. Selain itu, tekanan global berupa kelebihan kapasitas baja dunia dan potensi praktik dumping juga menjadi perhatian serius pemerintah.

“Untuk itu, pemerintah telah menyiapkan berbagai strategi penguatan industri baja nasional, antara lain melalui perlindungan pasar, penerapan SNI wajib, kebijakan energi melalui HGBT, penguatan hilirisasi, serta pemberian insentif fiskal untuk meningkatkan investasi,” tegasnya.

Visi IISIA untuk Masa Depan Industri Baja

Pada kesempatan yang sama, Chairman IISIA Muhamad Akbar menyampaikan komitmen pengurus baru untuk memperkuat peran IISIA sebagai wadah kolaborasi industri baja nasional. “Kami ingin IISIA menjadi rumah yang solid bagi seluruh pelaku industri baja, sekaligus menjadi mitra strategis pemerintah dalam mendorong kemajuan industri nasional. Industri baja bukan hanya sektor ekonomi, tetapi fondasi pembangunan bangsa,” ujarnya.

Ia menambahkan, kepengurusan IISIA periode 2026–2030 akan mengusung visi pengembangan ekosistem industri baja yang “Blue-Green”, yaitu berbasis inovasi sekaligus berorientasi pada keberlanjutan lingkungan. Selain itu, IISIA juga berkomitmen untuk memperkuat solidaritas antaranggota dan meningkatkan daya saing industri baja Indonesia di tingkat global.

“Kami percaya, dengan sinergi yang kuat antara pemerintah dan pelaku industri, industri baja nasional tidak hanya mampu berjaya di dalam negeri, tetapi juga disegani di pasar internasional,” ungkapnya.

Melalui pengukuhan ini, Kementerian Perindustrian berharap IISIA dapat terus memperkuat kolaborasi lintas pemangku kepentingan, meningkatkan utilisasi kapasitas produksi dalam negeri, serta mendorong substitusi impor guna memperkokoh kemandirian industri nasional.

Tantangan dan Strategi untuk Masa Depan

Meskipun ada banyak peluang, tantangan-tantangan struktural seperti utilisasi kapasitas yang rendah dan ketergantungan pada impor bahan baku tetap menjadi isu utama. Untuk menghadapi hal ini, pemerintah dan pelaku industri harus bekerja sama secara intensif.

Strategi penguatan industri baja nasional mencakup beberapa aspek penting, seperti:

  • Perlindungan pasar untuk memastikan keseimbangan antara produksi lokal dan impor.
  • Penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib agar kualitas produk bisa bersaing di pasar internasional.
  • Kebijakan energi melalui Harga Gas Bumi Terbatas (HGBT) untuk mengurangi biaya produksi.
  • Penguatan hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah dari produk baja.
  • Pemberian insentif fiskal untuk menarik investasi dan pengembangan teknologi.

Dengan langkah-langkah ini, diharapkan industri baja nasional dapat berkembang lebih pesat dan menjadi bagian penting dari perekonomian Indonesia yang lebih mandiri dan berkelanjutan.


Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *