"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"
Bisnis  

Pengepul Sawit di Payung Basel Terkejut Ditelepon Sopir, Harga Dexlite Melonjak

Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Membuat Pengepul Sawit Tercekik

Susanto alias Codet (35), seorang pengepul sawit di Desa Pangkalbuluh, Kecamatan Payung, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, mengaku kaget dan terpaksa berhitung ulang setelah harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi mendadak naik tinggi pada Sabtu (18/4/2026).

Codet biasa menggunakan BBM nonsubsidi jenis Dexlite untuk mengisi truk miliknya karena kesulitan memperoleh solar bersubsidi akibat antrean panjang dan keterbatasan stok di SPBU. Meskipun harganya lebih mahal dibanding BBM subsidi, ia tetap memilih membeli BBM nonsubsidi karena tidak ada pilihan lain.

Namun, kenaikan mendadak harga BBM nonsubsidi pada hari itu membuat Codet terpaksa mengubah rencana operasionalnya. Ia harus menyediakan uang berlipat jika ingin tetap menggunakan BBM nonsubsidi untuk bahan bakar truk pengangkut tandan buah segar (TBS) sawit.

“Kalau pakai subsidi sulit. Antre dari subuh, jam 9 pagi sudah habis. Sementara pekerjaan kami tidak bisa menunggu,” kata Codet saat dihubungi pada Sabtu (18/4/2026).

Codet menyoroti bahwa dampak kenaikan BBM nonsubsidi tidak hanya dirasakan kalangan tertentu, tetapi juga pelaku usaha kecil. Ia mengatakan bahwa kenaikan tersebut berpotensi memicu efek berantai dalam rantai pasok sawit.

Tekanan dari perusahaan dapat berujung pada penurunan harga beli di tingkat pengepul, yang kemudian berdampak ke petani.

“Kalau biaya kami naik, perusahaan bisa tekan harga ke kami. Kami juga terpaksa menekan harga ke petani. Akhirnya petani yang paling dirugikan,” jelasnya.

Ia menggambarkan kondisi saat ini sebagai situasi sulit yang datang bertubi-tubi. “Sudah jatuh tertimpa tangga. Kerjaan ini kelihatannya enak, tapi risikonya besar. Sekarang benar-benar terasa tercekik,” katanya.

Codet berharap pemerintah dapat meninjau kembali kebijakan harga BBM agar lebih mempertimbangkan kondisi pelaku usaha kecil di lapangan. “Harapan kami harga bisa dinormalkan. Kalau naik sedikit masih bisa dimaklumi, tapi jangan setinggi ini. Sesuaikan dengan kondisi kami,” ujarnya.

Perubahan Biaya Operasional yang Signifikan

Codet terkejut saat sang sopir truk miliknya mengabarkan kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Dexlite. “Saya kira naiknya paling seribu dua ribu, ternyata langsung melonjak hampir dua kali lipat. Saya suruh sopir balik dulu karena masih ada sisa,” ujar Codet.

Menurut Codet, lonjakan harga tersebut terjadi secara mendadak tanpa informasi yang memadai, sehingga mengacaukan perhitungan operasional yang telah disusun sebelumnya. “Perasaan pertama jelas kaget dan marah. Tidak ada pemberitahuan, tibatiba naik tinggi. Mau tidak mau semua hitungan operasional harus diubah,” katanya.

Sebelum kenaikan, harga Dexlite berada di kisaran Rp14.000 hingga Rp15.000 per liter. Dengan dana sekitar Rp350.000, ia bisa mendapatkan 25 liter BBM untuk sekali pengisian. “Biasanya sekali isi 25 liter cukup Rp350 ribu. Dalam sehari bisa habis 25 sampai 40 liter, tergantung jarak. Kalau jauh, biaya bisa sampai Rp600 ribu,” jelasnya.

Kini, harga Dexlite di Pertashop setempat mencapai sekitar Rp24.150 per liter. Dampaknya, biaya operasional harian melonjak signifikan. “Sekarang 25 liter sudah sekitar Rp600 ribu. Kalau sehari habis 40 liter, bisa tembus Rp900 ribu lebih, bahkan hampir Rp1 juta kalau antar sampai Bangka Barat. Modal BBM saja sudah dua kali lipat, jelas bikin stres,” ungkapnya.

Kenaikan Terbesar dalam Seumur Hidup

Codet menilai kenaikan kali ini merupakan yang tertinggi selama ia menjalankan usaha angkutan sawit. “Seumur hidup saya pakai truk, ini kenaikan paling besar, sampai 100 persen. Dampaknya luar biasa, terutama untuk usaha transportasi,” tegasnya.

Askanah Ratifah

Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *