Pengembangan Energi Terbarukan di Lampung
PT United Tractors Tbk (UNTR) melalui anak perusahaan PT Energia Prima Nusantara (EPN) terus memperkuat produksi listrik berbasis energi terbarukan. Salah satu proyek yang menjadi fokus adalah Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) Besai Kemu di Kabupaten Way Kanan, Lampung.
PLTM yang memiliki kapasitas 2 × 3,5 Megawatt (MW) ini berada di bawah naungan entitas anak EPN, yakni PT Uway Energi Perdana (UEP). Presiden Direktur UEP Asep Iwan Gunawan menjelaskan bahwa PLTM Besai Kemu secara konsisten mampu menghasilkan pasokan listrik sebesar 33,4 Gigawatt (GWh) per tahun yang disalurkan kepada PT PLN (Persero).
Dengan curah hujan yang tinggi pada tahun ini, produksi listrik dari PLTM Besai Kemu diprediksi akan melampaui level 40 GWh. Asep memperkirakan bahwa pada akhir tahun 2025, produksi listrik hijau dari PLTM Besai Kemu bisa mencapai 44,5 GWh – 45 GWh.
“Secara target ke PLN sudah terlewati, karena dalam perencanaan kami menjanjikan bisa sekitar 39 GWh untuk tahun ini, dan kami sudah melewatinya,” ungkap Asep dalam Media Visit ke PLTM Besai Kemu – Lampung pada Kamis (20/11/2025).
Faktor Pendukung Produksi Optimal
Selain karena faktor cuaca yang membuat debit air terjaga dengan baik, produksi optimal dari PLTM Besai Kemu juga didongkrak oleh sejumlah program yang dijalankan oleh UEP. Salah satunya adalah mekanisasi pembersihan sampah, sehingga aliran sungai menjadi lebih optimal.
“Kami melakukan improvement penanganan sampah, yang tadinya manual, sekarang sudah dikembangkan menjadi mekanis untuk bisa mengangkut sampah jadi lebih cepat. Baru di-install bulan lalu, sehingga di dua bulan bulan ini (produksi listrik) akan sangat optimal,” terang Asep.
Kontribusi PLTM Besai Kemu
Sebagai informasi, PLTM Besai Kemu mampu menyediakan listrik setara kebutuhan sekitar 16.000 hingga 22.000 rumah tangga per tahun. PLTM yang beroperasi secara komersial atau Commercial Operation Date (COD) pada 8 Januari 2024 ini memiliki perjanjian kerja sama dengan PT PLN (Persero) untuk periode operasi selama 20 tahun.
Pembangunan proyek ini dimulai sejak Februari 2021, dengan skema Build, Own, and Operate (BOO). Asep mengatakan bahwa nilai investasi untuk pembangunan PLTM Besai Kemu mencapai sekitar Rp 250 miliar – Rp 300 miliar.
Skema Operasional dan Dampak Lingkungan
Pada kesempatan yang sama, Direktur Energia Prima Nusantara Boy Gemino Kalauserang menjelaskan bahwa PLTM Besai Kemu merupakan pembangkit listrik tenaga air (hydro power) tipe aliran sungai langsung (run-of-river). Dengan skema ini, pembangkit listrik hanya “meminjam” air dari aliran sungai.
Setelah menghasilkan listrik, air akan dialirkan kembali ke sungai, sehingga dampak terhadap lingkungan atau ekosistem sungai akan sangat minim. Boy mengatakan bahwa PLTM Besai Kemu merupakan bagian dari implementasi strategi transformasi United Tractors Group.
Transformasi tersebut berkomitmen untuk mendukung program transisi energi nasional menuju masa depan rendah karbon.
“Melalui pasokan listrik yang stabil dan ramah lingkungan, pembangkit ini tidak hanya memperkuat ketahanan energi daerah, tetapi juga berkontribusi mengurangi emisi karbon melalui pemanfaatan sumber daya air secara berkelanjutan,” ujar Boy.
Kontribusi Lingkungan dan Sosial
Kontribusi PLTM Besai Kemu terhadap upaya pengurangan emisi karbon diestimasikan mencapai 41.023 ton CO? per tahun, atau setara dengan menanam sekitar 1,86 juta pohon. Selain itu, EPN dan UEP juga menggandeng masyarakat sekitar, termasuk Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) untuk mengembangkan ekonomi sirkular sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Dalam rangkaian media visit, EPN dan UEP melakukan penanaman pohon di area operasional Besai Kemu serta pembagian 100 bibit pohon buah bernilai ekonomis. Terdiri dari bibit pohon mangga dan durian kepada masyarakat sekitar, termasuk warga Desa Kemu dan desa-desa lain di wilayah operasional.
“Energi terbarukan tidak hanya berbicara tentang teknologi, tetapi juga membangun hubungan jangka panjang dengan masyarakat sekitar. Melalui program penanaman pohon dan pembagian bibit tanaman produktif ini, kami berharap manfaat operasional pembangkit dapat memperkuat ekonomi lokal, serta menjaga kelestarian lingkungan di sekitar wilayah operasi,” tutup Asep.










