"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Vaksinasi Cegah Stunting pada Anak, Ini Penjelasan Dokter

JAKARTA,

Dalam pembahasan tentang stunting, kebanyakan orangtua lebih fokus pada pemberian gizi seimbang. Namun, vaksinasi juga memiliki peran penting dalam mencegah anak mengalami stunting.

“Vaksinasi bisa mencegah anak dari sakit berulang, terutama penyakit infeksi yang dapat dicegah dengan imunisasi,” ujar dr. Yuni Astria, Sp.A dalam konferensi pers Parenthood Institute 2025 di Jakarta Selatan pada Selasa (18/10/2025).

Stunting adalah kondisi gagal pertumbuhan yang terjadi pada anak di bawah lima tahun. Kondisi ini ditandai dengan pertambahan tinggi dan berat badan yang tidak sesuai dengan usia.

Pentingnya Vaksinasi dalam Pencegahan Stunting

Menurut dr. Yuni, ada beberapa komponen penting yang harus diperhatikan oleh ayah dan ibu untuk mencegah stunting. Beberapa komponen tersebut mencakup asupan gizi, stimulasi, serta pola asuh yang penuh kasih sayang, apresiasi, sandang, pangan, dan papan, serta vaksinasi.

“Vaksinasi akan mencegah anak mengalami infeksi berat atau komplikasi dari suatu penyakit,” jelas dr. Yuni yang berpraktik di Klinik AGP Arthakes, Jakarta Selatan.

Selain itu, vaksinasi juga membantu mencegah anak sakit berulang, yang dapat memengaruhi tumbuh kembang mereka sehingga menjadi kurang optimal. Menurut dr. Yuni, mencegah komplikasi berat dan sakit berulang saling berkaitan dalam menjaga agar si kecil tidak mengalami stunting.

“Anak sehat bisa lebih optimal dalam bereksplorasi dan tumbuh kembangnya optimal. Jika anak sakit, tumbuh kembang tidak optimal. Maka, ada risiko stunting pada anak tersebut,” tambah dr. Yuni.

“Jadi vaksinasi adalah fondasi yang sangat penting bagi tumbuh kembang anak ke depannya. Dengan anak tidak sering sakit, tentu dia bisa berkembang sesuai potensinya,” lanjut dia.

Perubahan Perilaku dan Komunikasi yang Dekat dengan Kesehatan

Salah satu faktor penting dalam pencegahan stunting adalah perubahan perilaku dan komunikasi yang lebih dekat dengan kesehatan. Sejumlah gerakan seperti Gerakan Genting di Timor Tengah Selatan telah dilakukan sebagai upaya mencegah stunting.

Namun, meskipun ada banyak upaya, masih ada sebagian orangtua yang meragukan vaksinasi. Beberapa tahun belakangan, semakin banyak ayah dan ibu menyuarakan keraguan mereka dalam memvaksinasi anaknya di media sosial.

Beberapa alasan yang membuat orangtua meragukan vaksin antara lain perbedaan pendapat tentang kesehatan anak, khawatir akan efek sampingnya, hingga bingung vaksin apa saja yang diperlukan.

Saat ini, dr. Yuni dan rekan-rekannya yang bergabung dalam Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sedang menggencarkan penyuluhan terkait stunting melalui Parenthood Institute 2025.

Parenthood Institute 2025: Ruang Belajar Orangtua

Parenthood Institute 2025 adalah ruang bagi ayah dan ibu untuk belajar seputar tumbuh kembang anak melalui artikel dan video pendek melalui aplikasi PrimaKu. Dalam acara tersebut, ada SuperClass yang merupakan kelas berbayar bersama dokter spesialis anak dan pakar di bidangnya.

Salah satu kelas yang bisa dihadiri adalah seputar vaksinasi, dengan dr. Yuni sebagai narasumber. Ia sengaja mengangkat topik tersebut sebagai upaya untuk meyakinkan para orangtua agar memvaksinasi si kecil.

“Di sinilah peran Parenthood Institute dengan kelasnya untuk mendampingi orangtua, memberikan informasi secara komprehensif dan tentunya berbasis ilmu kedokteran yang valid,” jelas dr. Yuni.

Ia berharap, kelasnya bisa memberi orangtua pengetahuan yang mumpuni, dan membuat mereka menjadi lebih yakin dalam memilih keputusan yang tepat bagi anak untuk melakukan vaksinasi.

Kenapa Stunting Harus Dicegah?

Berdasarkan informasi dalam booklet “Keluarga Bebas Stunting” dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), stunting perlu dicegah karena memiliki dampak jangka pendek dan jangka panjang.

Dampak Jangka Pendek

Dampak stunting dalam jangka pendek adalah terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, fisik, dan metabolisme anak. Lalu, pertumbuhan yang melambat, wajah tampak lebih muda dari anak seusianya, pertumbuhan gigi terlambat, performa buruk pada kemampuan fokus dan memori belajarnya, serta anak mudah terserang berbagai penyakit infeksi.

Ketika anak berusia delapan sampai 10 tahun, mereka menjadi lebih pendiam dan tidak banyak melakukan kontak mata dengan orang-orang di sekitarnya.

Dampak Jangka Panjang

Sementara itu, dampak jangka panjang pada kondisi stunting yang tidak ditangani sedini mungkin adalah terjadinya penurunan perkembangan kognitif pada otak anak. Kekebalan tubuh anak melemah sehingga mudah sakit, risiko tinggi munculnya penyakit metabolik seperti kegemukan, penyakit jantung, penyakit pembuluh darah, dan kesulitan belajar.

Saat tumbuh dewasa, anak dengan tubuh pendek akibat stunting akan memiliki tingkat produktivitas yang rendah dan sulit bersaing dalam dunia kerja. Untuk perempuan dewasa dengan tinggi badan kurang dari 145 cm, mereka bisa mengalami perlambatan aliran darah ke janin ketika hamil sehingga berdampak pada kondisi bayi yang dilahirkan.

Rafitman

Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *