Klarifikasi Riski Nur Fadhil dan Kontroversi di Balik Kasus TPPO
Riski Nur Fadhilah, kiper muda asal Bojongsoang, Kabupaten Bandung, kini menjadi sorotan setelah mengungkapkan klarifikasi terkait kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang menimpanya. Namun, pernyataannya justru memicu keraguan dari warganet.
Dalam video klarifikasinya, Riski menyampaikan bahwa dirinya tidak dianiaya selama bekerja di Kamboja. Ia juga menyangkal adanya pemaksaan untuk pergi ke negara tersebut. “Nama saya Rizki Nurfadhilah, saya ingin meluruskan fakta terkait isu yang sedang beredar, dikarenakan itu tidak benar, itu kemauan saya sendiri tidak ada paksaan,” ujarnya dalam video.
Namun, pernyataan Riski ini bertentangan dengan keterangan keluarganya. Ia mengaku bahwa dirinya diperlakukan baik selama di Kamboja dan bahkan diberi makan. “Kondisi saya aman, tadi saya sudah dikasih makan. Itu bikin cerita karena saya ingin pulang cepat,” katanya.
Riski membuat dua klarifikasi di akun media sosialnya. Dalam klarifikasi kedua, ia mengakui bahwa dirinya sengaja berbohong kepada orang tua agar bisa pulang lebih cepat. “Saya ingin meluruskan masalah yang terkait viral di Indonesia, saya sebenarnya tidak di siksa dan tidak diapa-apain, cuma saya pengin pulang aja karena saya tidak betah,” ujarnya.
Ia juga mengungkap bahwa dirinya harus membayar uang tebusan sebesar 42 juta rupiah jika ingin pulang ke Indonesia. Uang tersebut digunakan untuk tiket, ongkos taksi, makan, serta biaya lainnya. “Pihak perusahaan tidak meminta uang sedikit pun,” tambahnya.
Sayangnya, video klarifikasi Riski dinilai janggal oleh warganet. Banyak netizen merasa curiga dengan pernyataannya. Beberapa komentar seperti:
- “+62 nggak semudah itu percaya bang, up aja kalo emang bener ada tindakan intimidasi.”
- “Itu tangan nya di borgol woyyy.”
- “Keinginan dia sendiri tetapi diakhir dia bilang ‘itu alasan karena saya ingin pulang cepat’ wahh ada kejanggalan.”
- “Kek diancam ini, dengarkan baik baik ‘cambuk’ akhir video dengan nada tinggi kaya bilang ‘Cukup’ koreksi atau salah. Dalam gerak gerik mata pun kaya di ancam untuk terus ngomong yang di inginkan.”
- “Sudah di kasih makan? Berarti sebelumnya ga pernah dikasih makan apa gimana?”
Awal Mula Kejadian
Imas Siti Rohana, nenek korban, mengungkapkan awal mula cucunya tertipu oleh seseorang yang mengaku sebagai manajer klub profesional asal Sumatera Utara. Riski diiming-imingi akan mengikuti seleksi pemain bola untuk klub profesional di Medan. “Jadi awalnya itu, orang tuanya bilang kalau anaknya mau ikut seleksi pemain bola untuk klub di Medan, PSMS Medan. Katanya mau ikut seleksi ke Jakarta dulu, lalu langsung ke Medan. Itu dapet informasi dari Facebook,” ujarnya.
Namun, setelah berangkat dari Kabupaten Bandung ke Jakarta, Imas terkejut mengetahui bahwa cucunya sudah berada di Kamboja. “Berangkat dari Bandung ke Jakarta itu sendiri, dijemput oleh travel. Tanggal 26 Oktober. Tanggal 27 Oktober itu ada unggahan tiket pesawat dari Fadil rute Jakarta-Medan-Kualanamu. Tapi pada 4 November, anaknya bilang ada di Kamboja,” ucapnya.
Selama proses keberangkatan cucunya, Imas masih bisa berkomunikasi dengan Riski. Bahkan saat cucunya berada di Jakarta, komunikasi dengan pihak yang mengaku sebagai manajer klub profesional itu masih berjalan baik. Namun, rasa curiga muncul setelah beberapa kejanggalan terjadi.
“Saya masih komunikasi dengan orang itu. Dia juga sempat menelfon dan memberikan kabar kalau Fadil sedang makan atau sedang berada di suatu tempat. Yang mulai saya jadi heran itu, orang itu WA-an sama saya tapi tidak memberikan kabar kalau Fadil ada di Medan. Baru ketika Fadil bilang ada di Kamboja, orang itu hilang,” ujarnya.
Kondisi Riski di Kamboja
Menurut Imas, Riski dipaksa untuk bekerja mencari orang yang bisa ditipu melalui platform percintaan. “Dia (Fadhil) bilang kerjaannya ‘menipu orang-orang Cina’ lewat komputer. Padahal dia tidak bisa komputer. Tapi kalau komunikasi dengan keluarga, dia sembunyi-sembunyi di kamar mandi,” ujarnya.
Lebih lanjut, kata Imas, Riski sering mendapat hukuman selama bekerja di Kamboja. Ia sering di suruh push-up, hingga mendapatkan kekerasan fisik dari pimpinan tempatnya bekerja. “Katanya kondisinya mengkhawatirkan. Dia sering disiksa. Disiksanya seperti disuruh push-up ratusan kali, disuruh membawa galon ke lantai sepuluh. Padahal anak sekecil itu jelas tidak terbiasa kerja seperti itu,” ujarnya.
Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."











