Keracunan Massal Akibat Soto MBG di Kabupaten Muaro Jambi
Lebih dari seratus siswa menjadi korban keracunan setelah mengonsumsi soto dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Muaro Jambi. Kejadian ini terjadi pada Jumat (30/1/2026) sore dan berdampak hingga hari berikutnya.
Informasi yang diperoleh menunjukkan bahwa sejumlah siswa kembali merasakan gejala seperti mual, pusing, muntah, dan diare pada Sabtu (31/1/2026) pagi. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Muaro Jambi, dr Aang Hambali, membenarkan adanya penambahan pasien. Ia menyatakan bahwa jumlah pasien belum diketahui pasti, tetapi ada penambahan dari jumlah sebelumnya.
Pada hari sebelumnya hingga malam, sebanyak 130 siswa mengalami keracunan. Sebagian dari mereka sudah diperbolehkan pulang, sementara sisanya masih menjalani perawatan inap. Pasien yang dirawat inap tersebar di beberapa ruangan, yaitu Bangsal Obgyn dengan 35 orang, Bangsal Bedah dengan 41 orang, serta Bangsal Interna dengan 6 orang. Total keseluruhan korban mencapai 130-an orang, dengan 82 orang yang menjalani perawatan inap.
Bupati Muaro Jambi Bambang Bayu Suseno (BBS) langsung turun ke lokasi untuk memantau situasi. Ia didampingi Wakil Bupati Junaidi Mahir, Sekda Budhi Hartono, Kadinkes Aang Hambali, serta sejumlah kepala OPD. BBS memastikan bahwa seluruh biaya perawatan para korban akan ditanggung pemerintah daerah. Ia menegaskan bahwa kesehatan anak-anak menjadi prioritas utama dan pengobatan akan diberikan secara gratis kepada seluruh korban.
Sementara itu, Gubernur Jambi Al Haris juga menyampaikan keprihatinannya atas kejadian tersebut. Ia meminta dilakukan penyelidikan secara menyeluruh untuk mengetahui penyebab keracunan. Al Haris menekankan bahwa aspek keselamatan dan kesehatan anak harus menjadi fokus utama dalam pelaksanaan program MBG. Ia meminta seluruh pihak yang terlibat bertanggung jawab serta memperketat standar keamanan pangan.
Pemerintah Provinsi Jambi akan menjalin koordinasi dengan instansi terkait guna memastikan evaluasi dilakukan secara objektif, termasuk pemeriksaan terhadap makanan dan sistem distribusinya. Hasil investigasi harus menjadi dasar perbaikan agar kejadian serupa tidak terulang.
Dampak Luas Terhadap Korban
Dampak kasus keracunan massal ternyata meluas dari perkiraan awal. Hingga Jumat (30/1/2026) malam, ratusan orang dilaporkan terdampak dalam peristiwa tersebut. Korban tidak hanya berasal dari kalangan siswa, tetapi juga mencakup guru, orang tua murid, hingga balita.
Direktur RSUD Ahmad Ripin Sengeti, dr Aang Hambali, membenarkan adanya tiga guru yang dilarikan ke rumah sakit. Pihak Admisi IGD menyampaikan bahwa pada Jumat (30/1), korban terdiri dari siswa, guru, serta orang tua murid. Sedangkan pada hari berikutnya, pasien yang datang berasal dari kalangan siswa.
Terkait informasi adanya balita yang turut menjadi korban, pihak rumah sakit juga membenarkannya. Saat ini balita tersebut masih menjalani perawatan di rumah sakit untuk mendapatkan penanganan intensif.
Hingga saat ini, tampak para keluarga pasien menunggu di area teras IGD. Kondisi IGD terlihat ramai dan diduga sebagian besar pasien berasal dari kasus MBG. Pasien yang masuk sejak Jumat lalu masih dirawat untuk mendapatkan perawatan lanjutan. Mereka terlihat didampingi oleh keluarga dan kerabat yang menjenguk.
Penanganan Di Rumah Sakit
Pasien keracunan MBG itu dirawat di tiga ruangan berbeda di RSUD Ahmad Ripin Sengeti, Muaro Jambi. Ketiga ruangan tersebut yakni Ruang Kebidanan dan Anak, Ruang Bedah, serta Ruang Penyakit Dalam (Interne).
Kepala Ruangan Kebidanan dan Anak, Nelly, menyampaikan bahwa terdapat 17 pasien anak yang menjalani rawat inap di ruangan tersebut. “17 dirawat inap di ruang kebidanan dan anak. Ada 20 orang sudah pulang di pagi ini,” katanya, Sabtu (31/01/2026). Ia menuturkan bahwa pihaknya masih bersiaga di ruangan tersebut karena masih ada pasien yang menjalani pemeriksaan di IGD.
Hal serupa disampaikan pihak Ruang Bedah dan Ruang Penyakit Dalam. Pihak Ruang Bedah menyebutkan jumlah pasien anak yang dirawat di ruangan itu pada pagi hari mencapai sekitar 42 orang. “Tadi malam sekira tujuh orang pulang, sementara siang ini yang pulang sekira 12 orang. Total keseluruhan yang pulang masih dalam proses penghitungan,” ucapnya.
Sementara itu, pihak Ruang Penyakit Dalam menjelaskan bahwa terdapat empat pasien dewasa yang dirawat inap. Keempat pasien tersebut masih dalam tahap pemantauan. “Pasien MBG tidak muntah lagi, masih kita pantau. Rata-rata kondisinya mulai membaik,” jelasnya.
Di sisi lain, orang tua siswa SD 01 Sengeti bernama Linda mengungkapkan bahwa anaknya telah membaik. Dengan demikian, ia bersama anak dan keluarganya meninggalkan ruang perawatan. “Sudah pulang, kalau ada gejala lagi, disuruh balek lagi,” pungkasnya.
Saat ini, kondisi rumah sakit mulai berangsur kondusif. Para orang tua korban yang telah pulih, didampingi keluarga, mulai meninggalkan area RSUD Ahmad Ripin.
Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."











