Identifikasi dan Evakuasi Prajurit Marinir yang Gugur Akibat Bencana Longsor
Tujuh prajurit TNI AL dari Korps Marinir telah berhasil dievakuasi dan diidentifikasi setelah terjebak dalam bencana tanah longsor yang terjadi di wilayah Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Salah satu dari mereka adalah Serda Marinir Rein Pasaike, asal Gorontalo, yang menjadi perhatian khusus masyarakat daerahnya.
Tim SAR gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, Basarnas, serta relawan terus berupaya keras untuk menemukan korban lain yang masih tertimbun di bawah material longsor. Upaya ini dilakukan dengan memanfaatkan anjing pelacak, ekskavator, dan drone untuk mempercepat proses pencarian.
Operasi pencarian telah diperpanjang selama tujuh hari ke depan, dengan status tanggap darurat yang berlangsung selama 14 hari. Hal ini dilakukan karena masih ada 16 prajurit dan sejumlah warga sipil yang dilaporkan hilang dan diduga tertimbun di bawah lapisan tanah yang tebal.
Penemuan Jasad Prajurit dan Kehadiran Serda Rein Pasaike
Sebanyak tujuh prajurit terbaik bangsa yang sedang menjalankan tugas di wilayah Cisarua dikonfirmasi gugur akibat bencana tanah longsor pada Sabtu (24/1/2026). Penemuan jasad para prajurit ini menjadi titik terang bagi keluarga yang ditinggalkan, namun juga menyisakan kesedihan mendalam.
Dari tujuh nama yang berhasil diidentifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI), salah satu di antaranya adalah Serda Marinir Rein Pasaike, putra daerah Gorontalo yang dikenal sebagai sosok berdedikasi tinggi. Nama Rein kini menjadi simbol patriotisme bagi warga Gorontalo yang merasa kehilangan sosok pemuda tangguh yang rela berkorban demi negara.
Rein Pasaike bersama rekannya, Koptu Marinir Edi Haryono, merupakan dua nama terakhir yang berhasil diidentifikasi dari kloter evakuasi tersebut. Kehadiran identitas Rein dalam daftar korban gugur membuat masyarakat di Bumi Serambi Madinah terhenyak, mengingat ia merupakan salah satu representasi pemuda Gorontalo di kancah militer nasional.
Pemerintah Provinsi Gorontalo dan jajaran Lanal Gorontalo dikabarkan tengah mempersiapkan prosesi penyambutan jenazah jika nantinya keluarga memutuskan untuk memakamkan almarhum di kampung halaman. Kabar ini menjadi pengingat bagi publik akan risiko tinggi yang dihadapi setiap prajurit TNI dalam menjalankan tugas di medan bencana.
Daftar Lengkap 7 Prajurit Marinir yang Dievakuasi
Berikut adalah daftar nama prajurit Korps Marinir yang telah ditemukan:
* Serda Marinir Sidiq Hariyanto
Praka Marinir Muhammad Kori
Praka Marinir Andre Nicky Olga Suwita
Praka Marinir Ari Kurniawan
Pratu Marinir Febry Bramantio
Serda Marinir Rein Pasaike
Koptu Marinir Edi Haryono
Kadispenal TNI AL, Laksamana Pertama TNI Tunggul, menyampaikan bahwa keberhasilan evakuasi ketujuh prajurit ini adalah hasil kerja sama sinergis antarinstansi. Proses identifikasi dilakukan secara cepat namun tetap mengedepankan akurasi agar tidak terjadi kesalahan dalam penyerahan jenazah kepada pihak keluarga.
Perjuangan Tim SAR di Medan Berat
Pencarian korban di Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua bukanlah perkara mudah. Material longsor yang terdiri dari tanah liat basah, bebatuan besar, hingga reruntuhan bangunan menjadi tantangan utama bagi 3.675 personel yang diterjunkan ke lokasi.
Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, secara resmi telah memperpanjang masa operasi SAR. Keputusan ini diambil mengingat masih adanya 16 prajurit TNI AL lainnya dan beberapa warga sipil yang dilaporkan hilang dan diduga tertimbun di bawah lapisan tanah yang tebal.
Penggunaan Teknologi dan Anjing Pelacak
Untuk mempercepat pencarian, tim SAR tidak hanya mengandalkan tenaga manusia. Sebanyak 22 ekor anjing pelacak K9 dikerahkan untuk mendeteksi keberadaan korban melalui aroma tubuh di bawah timbunan tanah setinggi beberapa meter. Selain itu, alat berat berupa 17 unit ekskavator dioperasikan dengan sangat hati-hati. Alat berat ini berfungsi membuka akses jalan dan memindahkan batu-batu besar yang tidak mungkin diangkat secara manual oleh personel di lapangan.
Pemanfaatan teknologi udara juga menjadi kunci dalam memetakan pergerakan tanah. Sebanyak 22 unit drone diterjunkan untuk memantau area dari ketinggian, memastikan keselamatan tim evakuasi dari ancaman longsor susulan yang masih mungkin terjadi jika hujan kembali turun.
Sektor Pencarian yang Terbagi
Kepala Kantor SAR Bandung, Ade Dian Permana, menjelaskan bahwa area longsor dibagi menjadi beberapa sektor pencarian. Penemuan jenazah terjadi di titik-titik yang berbeda, menunjukkan betapa kuatnya daya dorong material longsor saat kejadian berlangsung.
“Kami menemukan korban di Worksite A dan Worksite B. Jarak antar penemuan menunjukkan bahwa sebaran material longsor ini cukup luas,” kata Ade. Hingga Sabtu siang, total kantong jenazah yang telah dievakuasi mencapai angka 63, yang mencakup korban militer dan sipil.
Tim DVI Polri bekerja tanpa henti di posko kesehatan untuk melakukan pencocokan data antemortem dan postmortem. Hal ini sangat penting karena kondisi jenazah yang terkena tekanan material berat memerlukan ketelitian medis untuk memastikan identitas yang benar sebelum diserahkan ke keluarga.
Status Tanggap Darurat dan Harapan Masyarakat
Pemerintah Kabupaten Bandung Barat sendiri telah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari. Hal ini memungkinkan alokasi dana darurat dan pengerahan sumber daya yang lebih besar untuk menangani dampak bencana hidrologi ini.
Marsekal Madya Syafii berharap seluruh korban dapat ditemukan sebelum masa tanggap darurat berakhir pada 6 Februari 2026. “Mohon doanya dari seluruh masyarakat agar cuaca mendukung dan kami bisa membawa pulang semua korban ke pangkuan keluarga,” tambahnya.

Seorang penulis berita online yang mengutamakan kecepatan dan ketelitian dalam menyampaikan informasi terkini kepada pembaca. Aktif mengikuti perkembangan isu sosial dan digital. Memiliki hobi membaca artikel sejarah, bersepeda pagi, serta memotret momen sederhana yang menarik. Baginya, proses menulis adalah ruang untuk melihat dunia lebih dekat. Motto hidupnya: "Informasi yang jujur adalah fondasi kepercayaan."











