"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Ekor dan Jendela Pesawat ATR 42-500 Ditemukan, Nasib 10 Penumpang Masih Mencurigakan

Pencarian dan Evakuasi Korban Pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung

Kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel), menjadi lokasi jatuhnya pesawat ATR 42-500 yang menyebabkan kekacauan dan upaya pencarian yang terus berlangsung. Serpihan pesawat seperti bagian ekor dan jendela telah ditemukan di area tersebut. Namun, lokasi kejadian ini sangat sulit dijangkau karena medannya yang ekstrem.

Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XIV/Hasanuddin, Mayjen TNI Bangun Nawoko, menjelaskan bahwa proses evakuasi korban akan dilakukan dengan menggunakan helikopter jika kondisi cuaca memungkinkan. Ia mengatakan bahwa tim Basarnas telah menemukan dua bagian besar dari badan pesawat, termasuk bagian ekor dan jendela. Temuan ini menjadi petunjuk penting dalam proses pencarian korban.

Namun, upaya pencarian dan evakuasi masih menghadapi kendala cuaca dan medan yang tidak bersahabat. Cuaca di daerah tempat kejadian saat ini cukup berkabut, sehingga membatasi kemampuan operasional helikopter. Meskipun demikian, puncak Gunung Bulusaraung memiliki area yang cukup memadai untuk pendaratan helikopter. Dengan demikian, jika korban sudah ditemukan, evakuasi akan dilakukan melalui udara dengan tetap mengedepankan keselamatan.

Jika kondisi cuaca dan medan tidak memungkinkan penggunaan helikopter, proses evakuasi akan dilakukan melalui jalur pendakian biasa. Korban akan dibawa menuju posko induk pencarian pesawat yang berada di Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep. Di sana, sudah ada pos gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, dan pemerintah daerah.

Pesawat dengan rute Yogyakarta–Makassar tersebut sebelumnya disewa Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk patroli udara di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara RI 712. Ada 7 kru serta 3 penumpang di dalamnya. Tiga penumpang itu merupakan staf KKP, yakni tim air surveillance dari Direktorat Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP).

Kepala Basarnas, Marsdya Mohammad Syafii, juga membenarkan bahwa pesawat ATR 42-500 sedang dalam misi patroli udara. Misi tersebut tidak terkait dengan angkutan penumpang dari Aerodrome Jogja ke Makassar.

Saksi Mata Detik-Detik Kecelakaan

Sebelum kejadian, dua pendaki muda, Reski (20) dan Muslimin (18), menjadi saksi mata langsung detik-detik kecelakaan pesawat. Saat kejadian, mereka berada di puncak Bulusaraung. Tanpa peringatan, sebuah pesawat melintas rendah di hadapan mereka. Pesawat itu dikikis oleh gunung, lalu meledak dan terbakar. Ledakan disertai api membuat Reski dan Muslimin terpaku ketakutan.

Reski mengatakan bahwa jaraknya dengan lokasi ledakan hanya sekitar 100 meter. Setelah ledakan terjadi, dia menemukan sejumlah serpihan badan pesawat yang memuat logo Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta beberapa dokumen yang ikut terhambur. Penemuan itu sempat direkam Reski menggunakan ponselnya sebagai bukti awal.

Setelah kejadian, mereka memutuskan untuk turun gunung dan kembali ke wilayah Balocci setelah salat Ashar. Mereka membawa kabar duka dan serpihan dari tragedi kecelakaan pertama di dunia aviasi Tanah Air awal 2026.

Kronologi Kecelakaan

Pesawat dengan registrasi PK-THT itu dilaporkan kehilangan komunikasi setelah menerima arahan terakhir dari Air Traffic Control (ATC) Makassar Area Terminal Service Center (MATSC). Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa, menjelaskan bahwa pesawat jenis ATR 42-500 buatan tahun 2000 tersebut dipiloti oleh Capt Andy Dahananto dan sedang melakukan pendekatan ke Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar.

Dalam proses pendekatan, pesawat teridentifikasi tidak berada pada jalur pendekatan yang seharusnya. ATC memberikan arahan koreksi posisi. Namun, setelah penyampaian arahan terakhir, komunikasi dengan pesawat terputus dan dinyatakan loss contact. Menindaklanjuti kejadian tersebut, ATC Makassar langsung mendeklarasikan fase darurat DETRESFA (Distress Phase) dan berkoordinasi dengan Basarnas serta aparat kepolisian.

AirNav Indonesia Cabang MATSC juga segera menghubungi Rescue Coordination Center (RCC) Basarnas Pusat dan Polres Maros untuk mendukung proses pencarian dan pertolongan.

Daftar Korban

Termasuk 3 staf KKP, berikut adalah daftar lengkap korban jatuhnya Pesawat ATR 42-500:

  • Tim air surveillance dari Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP):
  • Ferry Irrawan, Penata Muda Tingkat I, jabatan Analis Kapal Pengawas
  • Deden Mulyana, Penata Muda Tingkat I, jabatan Pengelola Barang Milik Negara
  • Yoga Nauval, Operator Foto Udara

  • 7 kru yang berada di dalam pesawat:

  • Capt. Andy Dahananto
  • Yudha Mahardika
  • Hariadi
  • Franky D Tanamal
  • Junaidi
  • Florencia Lolita
  • Esther Aprilita S

Wahyudi

Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *