Keluarga Korban Minta Transparansi dan Keadilan atas Kematian Pratu Farkhan Syauqi Marpaung
Keluarga dari Prajurit Satu (Pratu) Farkhan Syauqi Marpaung, yang meninggal dalam dugaan penganiayaan oleh senior TNI, berencana untuk membuka peti jenazah dan melakukan visum mandiri. Langkah ini dilakukan demi memastikan bahwa luka-luka yang dialami korban benar-benar disebabkan oleh tindakan kekerasan yang diduga dilakukan oleh oknum senior berpangkat Kopral saat tugas di perbatasan Indonesia-Papua Nugini.
Pihak keluarga juga akan menunggu kedatangan ambulans pembawa jenazah Pratu Farkhan di exit Tol Kisaran sebelum diarahkan ke rumah sakit terdekat untuk proses autopsi. Ayah korban, Zakaria Marpaung, menyatakan bahwa mereka ingin memastikan bahwa jenazah yang ada di dalam peti adalah putranya sendiri, serta melihat secara langsung kondisi tubuhnya setelah kematian mendadak tersebut.
Proses Pemeriksaan Medis Ulang
Zakaria mengungkapkan bahwa pihak keluarga telah sepakat untuk melakukan pemeriksaan medis ulang terhadap jenazah Pratu Farkhan. Rencananya, rombongan keluarga akan menunggu di pintu keluar Tol Kisaran, Sei Renggas, sambil menunggu kedatangan ambulans. Setelah itu, jenazah akan dibawa ke Rumah Sakit Umum Abdul Manan Simatupang untuk proses autopsi.
“Kami ada rencana mau melakukan visum, kami di rumah ini sudah berencana akan menunggu di exit Tol Kisaran, Sei Renggas,” ujar Zakaria pada Jumat (2/1/2026).
Selain itu, ia juga menyatakan niatnya untuk membuka peti jenazah meskipun pihak TNI mungkin memiliki aturan ketat yang bisa menghambat hal tersebut. Bagi keluarga, melihat wajah almarhum untuk terakhir kalinya adalah hak emosional yang tidak bisa ditawar.
“Kemudian yang kedua, aku akan buka sendiri peti itu. Kalaupun pihak TNI tidak mengizinkan, aku bermohon. Karena itu anakku,” kata Zakaria dengan nada emosional.
Tuntutan Keadilan dan Transparansi
Pihak keluarga menuntut adanya keadilan dan transparansi penuh atas kematian anggota keluarga mereka. Zakaria secara terbuka meminta Panglima TNI Jenderal Agus Subianto dan Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal Maruli Simanjuntak untuk mengusut tuntas kasus ini hingga ke akar-akarnya.
Menurutnya, ada kejanggalan dalam penyebab kematian Pratu Farkhan yang harus diketahui secara pasti sebelum jenazah dikebumikan di kampung halaman. Ia juga berharap proses hukum di militer berjalan seadil-adilnya tanpa ada yang ditutup-tupi agar almarhum bisa pergi dengan tenang dan keluarga mendapatkan kepastian hukum atas tindakan oknum yang tidak bertanggung jawab.
Di tengah duka yang mendalam, Zakaria tidak dapat menyembunyikan amarahnya terhadap sosok senior yang diduga menjadi penyebab hilangnya nyawa sang anak yang tengah mengabdi kepada negara.
“Kalau bisa memang di dalam peti itu ada Kopral kurang ajar itu, ku suruh mereka berdua, dua-dua mereka di dalam peti, biar berduel mereka berdua di dalam itu,” pungkasnya menutup pernyataan terkait tuntutan keadilan bagi putranya.
Latar Belakang Pratu Farkhan Syauqi Marpaung
Pratu Farkhan Syauqi Marpaung merupakan anggota Batalyon Infanteri 113/Jaya Sakti Aceh. Dari kepangkatannya, kemungkinan besar ia lulus Sekolah Calon Tamtama (Secaba) sekitar 2023-2024. Batalyon Infanteri 113/Jaya Sakti (Yonif 113/JS) tempat Pratu Farkhan berdinas, merupakan satuan militer TNI AD di bawah Kodam Iskandar Muda (Kodam IM) wilayah Aceh.
Sementara itu, Kisaran merupakan ibu kota Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara. Kawasan ini dikenal sebagai pusat pemerintahan, ekonomi, serta perdagangan di wilayah tersebut. Aktivitas masyarakat di wilayah ini didominasi oleh sektor perdagangan, jasa, serta perkebunan, khususnya kelapa sawit dan karet.











