Dugaan Motif Pembunuhan MAHM
Susno Duadji, mantan Kabareskrim Polri, menyampaikan dugaan bahwa motif pembunuhan MAHM (9), anak politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Maman Suherman, adalah balas dendam karena sakit hati. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa tidak ada barang yang hilang dari rumah korban setelah kejadian.
“Barang-barang berharga masih lengkap, tidak ada yang hilang,” kata Kasi Humas Polres Cilegon AKP Sigit Dermawan. Selain itu, sejumlah ponsel milik keluarga korban masih berada di rumah dan tidak disentuh oleh pelaku. Atas dasar ini, Susno menduga bahwa motif pelaku adalah untuk membuat keluarga korban tersakiti atas kematian anaknya.
“Tidak ada satupun barang yang hilang, berarti dugaan motif daripada perkara ini adalah banyak ke arah untuk menyakitkan keluarga korban, membuat sakit hati atau balas dendam,” ujarnya.
Polisi hingga kini masih dalam proses pendalaman kasus ini dan belum memberikan keterangan terkait motif pelaku. “Motifnya masih dalam pendalaman. Kami belum bisa menyimpulkan apakah ini murni pembunuhan atau ada motif lain,” kata AKP Sigit Dermawan.
Hingga saat ini, belum ada tersangka yang ditetapkan, tetapi polisi mengklaim telah memperoleh titik terang terkait sosok terduga pelaku. Namun, senjata atau alat yang digunakan pelaku untuk menghabisi nyawa korban belum ditemukan.
Peran CCTV dan Keamanan Rumah
Susno mengatakan bahwa kemungkinan besar pelaku adalah orang dekat yang masuk ke rumah mewah tersebut. Namun, ia juga menyatakan bahwa hal ini bisa terjadi karena kelalaian pemilik rumah sendiri.
“Rumah itu sangat aman gitu, sangat tertutup ya, bisa jadi rumah yang dianggap sangat aman, kemudian tertutup pagar, tertutup di komplek itu, si pemilik rumah abai gitu, tidak mengunci rumahnya.”
“Orang bisa masuk dengan lompat pagar dan sebagainya, atau justru mungkin pintu gerbang depannya tidak dikunci,” tambah Susno.
Sehingga, menurut Susno, untuk saat ini tidak boleh langsung disimpulkan bahwa pelakunya merupakan orang yang sudah berada di dalam rumah tersebut. “Jadi tidak boleh kita langsung mengatakan, mengambil kesimpulan ini orang yang berada di dalam rumah para pelakunya, bisa yang di luar rumah gitu.”
CCTV di rumah korban diketahui juga tidak berfungsi saat kejadian berlangsung. Bahkan disebutkan sudah rusak sejak 2 minggu lalu. Meskipun demikian, Susno menegaskan bahwa CCTV bukanlah satu-satunya alat bukti untuk mengungkap perkara ini.
“Apa saja yang bisa diungkap dari perkara ini? Alat bukti saintifik yang kita telusuri dulu, karena alat bukti saintifik itu sangat penting, sebab alat bukti saintifik tidak bisa berbohong. Kita harus cari sidik jari,” paparnya.
Selain sidik jari, polisi juga bisa mengecek alat komunikasi seperti HP para saksi hingga korban. “Di HP itu akan terlihat ada pembicaraan lewat WhatsApp, adakah pembicaraan lewat SMS, adakah pembicaraan lewat telepon dan lain-lain. Itu akan memberikan petunjuk,” imbuh Susno.
Jika sidik jari dan penelusuran melalui alat komunikasi tadi tidak juga ditemukan petunjuk, Susno mengatakan polisi masih bisa melakukan penyelidikan melalui tes DNA untuk mengidentifikasi pelaku kejahatan.
Kejanggalan Lain di Lokasi Kejadian
Selain CCTV yang rusak, sejumlah kejanggalan lainnya juga ditemukan. Di antaranya adalah rumah besar milik politikus PKS itu tidak memiliki satpam pribadi. Petugas keamanan di kompleks perumahan, Sukir, mengatakan hanya ada dua asisten rumah tangga (ART) yang bekerja di rumah Maman Suherman. Namun, kedua ART itu diketahui sudah pulang sebelum kejadian pembunuhan.
“Ada dua pembantunya (ART). Pembantunya ada yang pulang jam 11.00 (WIB). Dan katanya ada satunya lagi (ART) pulang sekitar jam 2 (14.00 WIB),” ujar Sukir.
Kronologi kejadian menunjukkan bahwa peristiwa pembunuhan itu terungkap sekitar pukul 14.20 WIB, saat Maman Suherman menerima telepon dari anak keduanya yang terdengar panik dan meminta pertolongan. Maman yang sedang bekerja langsung bergegas pulang ke rumah dan setibanya di lokasi, dia mendapati anaknya dalam kondisi tengkurap dengan luka serius dan pendarahan hebat.
Korban kemudian segera dilarikan ke Rumah Sakit Bethsaida, Kota Cilegon. Namun, nyawanya tidak tertolong. Hasil pemeriksaan awal menyebutkan bahwa korban meninggal akibat luka tusuk benda tajam.
Awalnya, muncul dugaan bahwa kematian MAHM berkaitan dengan aksi perampokan dan disebutkan pelaku panik lalu menusuk korban setelah aksinya diketahui. Namun, dugaan tersebut dibantah pihak kepolisian. Kasat Reskrim Polres Cilegon, AKP Yoga Tama, memastikan kasus ini merupakan dugaan pembunuhan, bukan perampokan.
Polisi juga menegaskan tidak ada barang berharga yang hilang dari rumah korban. “Dari Polres Cilegon sudah membuat laporan polisi dengan dugaan pembunuhan, jadi bukan perampokan,” ujar Yoga. AKP Sigit Dermawan turut menambahkan bahwa saat kejadian hanya korban dan kakaknya yang berada di rumah, sementara orang tua korban sedang bekerja di luar rumah.











