Kehilangan dan Kesadaran: Dampak Bencana di Aceh
Sejak 26 November 2025 lalu, Aceh kembali berduka. Bencana banjir bandang dan tanah longsor melanda sejumlah kabupaten, meninggalkan luka yang dalam. Data yang terhimpun menyebutkan ratusan nyawa melayang, banyak orang masih dinyatakan hilang, ribuan rumah hanyut atau rusak berat, dan puluhan ribu keluarga harus mengungsi, kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian.
Di antara mereka, ada anak-anak kita yang polos. Mereka tak hanya kehilangan tempat bermain, tetapi juga menyaksikan ketakutan, kepanikan, dan kesedihan yang mendalam. Trauma ini adalah warisan kelam yang kita tinggalkan untuk generasi penerus. Di balik tangis mereka, ada pertanyaan besar: mengapa ini terjadi?
Para ahli cuaca menunjuk pada “Siklon Tropis Senyar” di Utara dan Timur Aceh sebagai biang hujan ekstrem. Secara ilmiah, wilayah ekuatorial seperti Indonesia memang bukan “rumah” bagi siklon tropis. Namun, analisis terbaru BMKG dan peneliti iklim mengungkap fakta mengerikan: panasnya suhu muka laut akibat pemanasan global bertemu dengan daratan Aceh yang memanas akibat hilangnya tutupan hutan. Kombinasi ini menciptakan “mesin panas” yang luar biasa. Hutan yang gundul tidak lagi berfungsi sebagai penyerap karbon dan pengatur suhu; ia justru melepaskan panas tersimpan. Daratan yang terpanggang itu kemudian menjadi “kompor” yang menyuplai energi tambahan bagi sistem awan, memperkuat pusaran siklon dan memproduksi hujan dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dengan kata lain, deforestasi di gunung-gunung Aceh secara tidak langsung “memanggil” badai untuk menghantam anak cucu kita sendiri.
Peran Hutan dalam Mengurangi Bencana
Di antara seluruh mata rantai bencana ini, hilangnya pohon di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) dan kawasan hutan lindung adalah mata rantai terlemah yang paling menentukan. Logika alamiahnya sederhana namun fundamental. Akar pohon, terutama dari spesies hutan alam yang dalam dan menjalar, berfungsi sebagai jaring pengikat tanah dan pipa kapiler raksasa. Jaringan akar ini menciptakan rongga-rongga di dalam tanah, menjadikannya seperti spons raksasa yang mampu menyerap hingga 90 persen air hujan. Air kemudian disimpan dan dialirkan perlahan ke mata air dan sungai sepanjang tahun.
Ketika pohon ditebang, tanah kehilangan pengikatnya. Permukaannya menjadi padat dan kedap. Air hujan tidak lagi diserap, tetapi langsung meluncur deras di permukaan, menggerus lapisan tanah atas, menghanyutkannya, dan akhirnya membanjiri dataran rendah dengan kekuatan yang menghancurkan. Banjir bandang dan longsor bukanlah “bencana alam” murni, melainkan “bencana ekologis” akibat kita mencabut paku-paku pengunci tanah itu.
Penyebab Hilangnya Tutupan Hutan Aceh
Lantas, mengapa tutupan hutan Aceh hilang sedemikian masif? Setidaknya ada 5 penyebab. Pertama, dan terbesar, adalah ekspansi pertambangan, baik legal maupun ilegal. Aktivitas ini tidak hanya membuka lahan secara luas, tetapi juga meracuni tanah dan air. Kedua, konversi hutan alam menjadi perkebunan monokultur skala besar, terutama kelapa sawit. Kanopi sawit yang seragam tidak dapat meniru kompleksitas hutan alam dalam hal penyerapan air, penyimpanan karbon, dan penopang biodiversitas. Ketiga, penebangan liar untuk kayu komersial yang masih marak. Keempat, fragmentasi hutan akibat pembangunan infrastruktur tanpa kajian lingkungan yang matang. Kelima, tekanan permukiman dan pertanian tradisional yang diperparah oleh ketiadaan batas kawasan yang jelas. Kelima faktor ini saling bertaut, mengikis benteng hijau Aceh sedikit demi sedikit.
Pendidikan Lingkungan sebagai Solusi
Lihatlah konsekuensi kejahatan terstruktur ini. Penderitaan tidak hanya dirasakan oleh pelaku, tetapi ditimpakan kepada petani kecil, nelayan, anak-anak sekolah, dan orang tua renta yang bahkan tidak tahu di mana lokasi tambang atau konsesi sawit itu. Sungguh sebuah ketidakadilan ekologis yang nyata. Para pemegang kuasa dan modal itu mengambil keuntungan sesaat, lalu seringkali menghilang ketika bencana datang. Mereka tidak pernah hadir di pengungsian untuk meminta maaf, apalagi menanggung biaya pemulihan trauma anak-anak yang ketakutan. Mereka merampas hak generasi atas lingkungan yang sehat dan aman—sebuah dosa kolektif yang tercatat di langit dan bumi.
Namun, dari puing reruntuhan ini, kita harus bangkit membangun masa depan. Salah satu strategi paling mendasar adalah dengan membekali generasi muda—yang hari ini menyaksikan langsung akibatnya—dengan pemahaman holistik tentang hutan. Pengetahuan ini penting karena lima alasan mendasar: (1) Mereka adalah ahli waris sah Aceh yang akan menentukan nasib tanah ini 20 tahun mendatang; (2) Pemahaman ekologis akan membentuk ecological citizenship—konsep warga negara yang bertanggung jawab terhadap lingkungan; (3) Mereka dapat menjadi “agen sensor” di keluarga dan komunitas, mengingatkan orang tua tentang bahaya pembakaran hutan atau pembuangan sampah sembarangan; (4) Dalam perspektif keislaman, menjaga hutan adalah bagian dari khalifah fil ardh (pemelihara bumi) dan mencegah kerusakan (ifsād) yang dilarang Allah; (5) Hutan Aceh adalah bank keanekaragaman hayati terakhir di Sumatera, rumah bagi orangutan, harimau, dan flora endemik yang tak ternilai.
Program Satu Siswa Satu Pohon
Sebagai guru, momentum ini adalah “teachable moment” yang sangat berharga. Misalnya, Ketika mulai belajar, kelas dibuka dengan doa seperti biasa dan ditambahkan mendoakan saudara-saudara yang sedang musibah; dilanjutkan dalam motivasi dan materi pemantik belajar, disinilah mulai mengaitkan Materi-Hutan-Bencana. Lakukan dengan empat pendekatan. Pertama, Integrasi Transversal. Dalam pelajaran Fiqih, kaitkan konsep ḥifẓ al-bi’ah (menjaga lingkungan) dengan dalil-dalil syar’i. Dalam IPA, jelaskan mekanisme infiltrasi air oleh akar pohon. Dalam Pelajaran Bahasa Indonesia, minta siswa menulis surat keprihatinan atau puisi tentang hutan. Kedua, Belajar dari Realitas. Ajak siswa menganalisis berita bencana, mencari hubungan sebab-akibat antara gambar hutan gundul di media sosial dengan banjir di desanya. Ketiga, Kognisi ke Afeksi. Tidak cukup hanya tahu; siswa harus merasa. Ajak mereka mengunjungi (jika memungkinkan) atau melihat dokumentasi hutan yang masih perawan, lalu bandingkan dengan landscape tambang yang gersang. Tumbuhkan rasa cinta, takjub, dan tanggung jawab. Keempat, Dari Afeksi ke Aksi. Bimbing mereka untuk bergerak, sekecil apa pun. Ingatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, “Jika hari kiamat tiba, dan di tangan salah seorang dari kalian ada bibit pohon kurma, maka jika dia mampu menanamnya sebelum berdiri, maka tanamlah.” (HR. Ahmad).
Mari wujudkan dalam aksi nyata: Program Satu Siswa Satu Pohon. Setiap siswa menanam dan merawat satu pohon di lingkungan sekolah atau rumah. Pilih jenis pohon yang adaptif dan multifungsi: trembesi untuk peneduh, buah-buahan untuk ketahanan pangan keluarga, atau kayu keras lokal untuk konservasi jangka panjang. Jadikan kegiatan menanam sebagai proyek ilmu sekaligus ibadah. Setiap daun yang tumbuh adalah saksi bisu bahwa generasi ini memilih untuk memulihkan, bukan merusak.
Seorang penulis berita online yang mengutamakan kecepatan dan ketelitian dalam menyampaikan informasi terkini kepada pembaca. Aktif mengikuti perkembangan isu sosial dan digital. Memiliki hobi membaca artikel sejarah, bersepeda pagi, serta memotret momen sederhana yang menarik. Baginya, proses menulis adalah ruang untuk melihat dunia lebih dekat. Motto hidupnya: "Informasi yang jujur adalah fondasi kepercayaan."











