Perjalanan Akademik yang Menginspirasi
Nurul Indarti, dosen Universitas Gadjah Mada (UGM), telah mencapai puncak karier akademiknya dengan diangkat sebagai guru besar. Proses ini tidak mudah, namun ia berhasil melalui berbagai tantangan dan pengalaman hidup yang membentuk dirinya menjadi sosok yang tangguh.
Awal Kehidupan Akademik yang Tidak Terduga
Nurul lahir di Yogyakarta pada tahun 1976. Ia menghabiskan masa kecilnya di kota tersebut dan menempuh pendidikan di SMAN 8 Yogyakarta. Meskipun berasal dari jurusan IPA, ia memilih untuk kuliah di bidang IPS. Namun, hal ini ternyata tidak membuatnya mudah. Pada semester pertama, IPK Nurul hanya mencapai 2,97, yang berada di bawah angka 3,00.
Pengalaman ini membuatnya sadar bahwa perkuliahan tidak bisa dianggap remeh. Ia juga aktif dalam kegiatan kepemudaan sejak SMA, termasuk Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Aktivitas ini membuatnya terlalu sibuk hingga sering kali menyepelekan studi.
Perubahan yang Berdampak Besar
Setelah menyadari kesalahan, Nurul memutuskan untuk fokus pada studi. Ia mundur dari kegiatan organisasi dan mulai menjalani perkuliahan dengan lebih serius. Hasilnya, IPKnya meningkat dan ia lulus dengan predikat cumlaude pada tahun 1998.
Setelah lulus, ia langsung bergabung sebagai dosen di FEB UGM. Dari situ, ia terus berkembang dengan melanjutkan studi S2 dan S3 di Norwegia serta Belanda. Gelar Master of Business Administration (Sivilokonom) diperolehnya pada tahun 2002, sedangkan gelar Master of Science in Strategic and Operations Management diperoleh pada tahun 2003. Pada tahun 2010, ia meraih gelar Doktor (Ph.D) dalam bidang Knowledge Management and Innovation dari University of Groningen, The Netherlands.
Perjalanan Menuju Jabatan Guru Besar
Proses pengukuhan sebagai guru besar tidak instan. Nurul mengajukan usulan pada tahun 2017, namun belum lolos. Ia kembali mengajukan usulan pada tahun 2019 dan akhirnya resmi mendapatkan SK guru besar pada tahun 2020.
Menurut Nurul, jabatan guru besar bukanlah tujuan utama, tetapi konsekuensi dari menjalankan tanggung jawab sebagai dosen. Ia menekankan pentingnya tridharma perguruan tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Fokus pada Kewirausahaan Kelompok Marjinal
Nurul dikenal sebagai dosen yang memiliki fokus khusus pada kewirausahaan kelompok marjinal. Ia percaya bahwa kewirausahaan tidak hanya tentang bisnis, tetapi juga tentang pemberdayaan sosial dan ekonomi bagi kelompok-kelompok yang kurang terwakili.
Dalam pidatonya saat pengukuhan sebagai guru besar, ia menyampaikan tema “Melihat Kewirausahaan dari Pinggiran: Perspektif Etnis, Perempuan, dan Sosial”. Ia mengajak para akademisi untuk melihat kewirausahaan dari perspektif yang jarang digunakan.
Tantangan yang Dihadapi Wirausaha Termarginalisasi
Wirausaha termarginalisasi, seperti perempuan, minoritas etnis, dan penyandang disabilitas, sering kali menghadapi berbagai hambatan. Misalnya, perempuan wirausaha mungkin menghadapi bias gender yang menghalangi akses ke jejaring bisnis dan mentor.
Demikian pula, wirausaha minoritas etnis mungkin menghadapi tantangan dalam berintegrasi ke pasar utama karena hambatan budaya dan bahasa. Nurul menekankan bahwa kewirausahaan yang termarginalisasi bukan hanya tentang penciptaan usaha baru, tetapi juga tentang pemberdayaan sosial dan ekonomi.
Kontribusi dalam Pendidikan dan Penelitian
Nurul telah berkontribusi dalam pengembangan kurikulum kewirausahaan. Pada tahun 2004, ia mengembangkan kurikulum kewirausahaan menjadi wajib bagi mahasiswa program sarjana prodi manajemen. Di Magister Manajemen UGM, ia mengembangkan konsentrasi kewirausahaan pada 2011 dan menginisiasi kurikulum keberlanjutan pada program Master in Sustainability Development and Management (MASUDEM).
Tanggung Jawab Seorang Guru Besar
Sebagai guru besar, Nurul menegaskan bahwa tanggung jawab untuk berkontribusi di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat semakin besar. Ia berharap dapat menjadi teladan bagi mahasiswa dan memberikan nilai bagi dunia akademik.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











