Inovasi Edukasi untuk Remaja: Maprasi
Maprasi, sebuah kegiatan inovatif yang berfokus pada pengembangan kemampuan berpikir kritis dan public speaking di kalangan remaja, kembali diselenggarakan oleh organisasi remaja Al-Huffadz. Organisasi ini dikenal dengan nama Gerah (Gerakan Remaja Al-Huffadzh). Al-Huffadzh adalah Lembaga Tahfidz yang beralamat di Jalan Cisalak Gang Purimukti Kelurahan Sukamanah Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya.
Kegiatan ini merupakan simulasi sidang pleno yang memfasilitasi debat dan diskusi terbuka mengenai isu-isu terkini. Tujuan dari ‘Maprasi’ adalah untuk mengatasi kelemahan para anggota dalam berbicara di depan umum (public speaking) dan mengolah kata. Awalnya idenya muncul karena pengurus melihat anggota mereka masih kurang dalam public speaking.
“Kami ingin mereka berpikir kritis. Jadi, ‘Maprasi’ hadir untuk melatih anggota saling bertukar pikiran dan menemukan solusi,” jelas Muhammad Fathi Nashrullah Syamsuddin, pembina di komunitas ‘Maprasi’. Ia sedang menempuh pendidikan tinggi di Universitas Bakti Tunas Husada, mengambil jurusan Bisnis Digital di bawah Fakultas Teknologi Bisnis.
Format Diskusi dan Etika Berdebat
‘Maprasi’ dilaksanakan dengan format pemaparan materi, diikuti dengan diskusi yang intensif. Peserta didorong untuk saling bertukar pikiran dan mempertahankan pendapat, namun dengan batasan etika yang kuat.
“Kami tidak saling menjatuhkan satu sama lain. Kami harus saling menghargai dan menjaga keterbukaan,” ungkap Fathi. Setiap anggota berhak memaparkan pandangannya, dan proses diskusi memastikan bahwa tidak ada satu pun pendapat yang diabaikan.
Isu Sosial dan Tantangan Digital Jadi Sorotan
Meskipun pesertanya tidak dibatasi usia secara ketat, mayoritas adalah remaja setingkat SMP dan SMA. Kegiatan ini telah diadakan sebanyak dua kali tahun lalu dan tahun ini dengan respon yang sangat antusias dari para anggota.
Isu-isu yang diangkat dalam ‘Maprasi’ berfokus pada hal-hal yang sedang trending dan relevan dengan kehidupan remaja, khususnya di media sosial. Topik-topik yang telah dibahas meliputi penyalahgunaan rokok di kalangan remaja, dampak Artificial Intelligence (AI), terutama dalam kebiasaan belajar dan kecenderungan “copy-paste” tugas sekolah dan isu-isu sosial lainnya yang menjadi perbincangan.
Diskusi tidak hanya melibatkan tinjauan umum, tetapi juga mendalami topik dari berbagai perspektif, termasuk hukum Islam, pandangan ilmuwan, dan pendapat ulama. Hal ini bertujuan agar solusi yang dihasilkan komprehensif.
Fokus Utama: Menjunjung Tinggi Berpikir Kritis
Tujuan utama dari Maprasi adalah menekankan pentingnya berpikir kritis. Pengurus organisasi berharap kegiatan ini dapat mendorong otak anggota untuk selalu aktif dan tidak mudah bermalas-malasan.
“Kami sangat menekankan berpikir. Kalau otak tidak diajak berpikir, itu akan kurang. Mereka bisa jadi cenderung bermalas-malasan dan tidak mampu berpikir cepat,” ujar Fathi yang memiliki hobby Traveling dan Adventure. Proses ‘Maprasi’ akhirnya menciptakan berbagai solusi yang didapat dari pemikiran kolektif para anggota.
Program Kerja Maprasi
Senada dengan Fathi, Ketua ‘Maprasi’ yakni Widianto Nurcahya menjelaskan mengenai Program Kerja ‘Maprasi’ atau Materi Praktik Sidang, serta urgensinya bagi seluruh anggota.
“Program ini kami hadirkan dengan beberapa tujuan mendasar yang sangat vital bagi pengembangan diri dan organisasi. Pertama, kami bertujuan melatih kemampuan public speaking. Setiap anggota wajib mampu menyampaikan argumen, pendapat, ide, dan pikiran secara efektif,” ujarnya.
“Kemampuan ini adalah kunci untuk memajukan organisasi kita dan lembaga yang menaungi kita. Kedua, ‘Maprasi’ berfungsi untuk mengasah daya berpikir kritis. Kami melatih anggota untuk dapat merespons tuntutan dan tekanan secara cepat, sehingga mampu menghasilkan solusi spontan dan terpecahkan ketika menghadapi masalah atau problema,” sambung Widianto, siswa SMKN 1 Kota Tasikmalaya Kelas 11 jurusan Bisnis Digital.
“Secara keseluruhan, program ini adalah simulasi dan persiapan nyata. Ini adalah ajang kita berlatih berproses dalam sidang yang sesungguhnya, sebuah bekal penting yang akan kita gunakan saat melanjutkan studi di jenjang perkuliahan ataupun ketika terjun ke dunia profesional yang sesungguhnya,” pungkasnya.
Kesimpulan
Dengan terus digelarnya ‘Maprasi’, Komunitas Gerah tidak hanya menciptakan forum diskusi, tetapi juga membangun pabrik gagasan sebuah investasi nyata dalam mencetak generasi remaja yang tidak hanya fasih bicara, tetapi juga memiliki ketajaman analisis untuk menjawab tantangan masa depan.












