Pengungkapan Fakta Baru Terkait Aksi Bom di SMAN 72
Setelah kecelakaan motor, sikap FN berubah total dan mulai menyendiri. Dugaan awal mengatakan bahwa aksi bom yang dilakukan oleh remaja berinisial FN (18) di SMAN 72 Jakarta adalah akibat perundungan. Namun, fakta baru terkini menunjukkan bahwa hal tersebut tidak sepenuhnya benar.
Terduga pelaku, FN, disebut bukan korban bullying. Informasi ini diperoleh dari kesaksian teman sekelasnya yang memberi keterangan kepada kakak salah satu korban ledakan, Putra. Menurut Putra, FN tidak memiliki alasan pribadi untuk melakukan aksi tersebut, karena motifnya lebih kompleks daripada sekadar dendam atas perlakuan buruk dari teman sekelas.
Perubahan Sikap FN Setelah Kecelakaan
Putra menjelaskan bahwa FN dulunya dikenal sebagai sosok yang ceria dan mudah bergaul dengan teman-temannya. Bahkan, di kelas 11 atau tahun lalu, FN sempat ingin mengikuti lomba menggambar karena diajak temannya. Namun, setelah mengalami kecelakaan motor pada tahun 2024, sikapnya berubah drastis.
“FN sempat jatuh dari motor, tangannya digips, dari situ dia udah mulai menyendiri, diam-diam saja di kelas,” kata Putra. Ia juga menyebut bahwa FN menjadi cuek dengan semua teman sekelasnya. Bahkan, ketika temannya mengajak ikut lomba gambar, FN menolak mentah-mentah.
Motif Pelaku Bukan Karena Bullying
Menurut penyidik, motif FN melakukan pengeboman bukan karena perundungan. Isu bullying memang sempat merebak, tetapi akhirnya terungkap bahwa FN bukanlah korban bully di sekolah. Dirreskrimum Polda Metro Jaya, Kombes Iman Imannudin, menyebut bahwa FN merasa kesepian dan tidak memiliki tempat untuk menyampaikan keluh kesahnya.
“Faktor utama yang mendorong FN melakukan tindakan nekat adalah rasa kesepian dan tidak ada yang bisa ia percayai,” ujar Kombes Iman Imannudin.
Peniruan Aksi Teroris Dunia
Selain itu, Jubir Densus 88 Antiteror, AKBP Mayndra Eka Wardhana, mengungkap bahwa FN hanya meniru aksi teroris dunia. Hal ini didasarkan pada penemuan senjata milik pelaku yang bertuliskan nama-nama teroris dunia. Namun, FN tidak tergolong dalam kelompok terorisme.
“FN hanya melakukan copycat atau peniruan saja, itu sebagai inspirasi yang bersangkutan melakukan tindakan,” ujar AKBP Mayndra Eka Wardhana. Karenanya, FN dijerat kasus kriminal umum, bukan pidana terorisme.
Kesimpulan
Dari berbagai sumber, terlihat bahwa aksi bom di SMAN 72 Jakarta bukanlah akibat bullying, melainkan hasil dari rasa kesepian dan pengaruh eksternal seperti peniruan aksi teroris. Selain itu, perubahan sikap FN setelah kecelakaan motor menjadi faktor penting dalam kemunculan perilaku ekstrem yang dilakukannya.











