Negeri Manusela, Kecamatan Seram Utara: Semangat Gotong Royong Membangun Sekolah Darurat
Di tengah pegunungan yang mengelilingi Negeri Manusela, terletak sebuah daerah terpencil yang memiliki tantangan akses transportasi yang sangat berat. Wilayah ini dikelilingi oleh gunung-gunung tinggi seperti Gunung Binaya dan Gunung Murkele, sehingga perjalanan ke sini membutuhkan waktu berhari-hari dengan jalan kaki. Meski begitu, masyarakat setempat menunjukkan semangat luar biasa dalam upaya membangun akses pendidikan bagi generasi muda.
Warga Negeri Manusela secara swadaya membangun sekolah darurat untuk SD Negeri 356 Maluku Tengah (Malteng), yang menjadi sekolah negeri pertama di wilayah tersebut. Langkah ini merupakan bukti nyata dari semangat gotong royong masyarakat di daerah terpencil demi menyediakan fasilitas pendidikan yang layak.
Pembangunan sekolah darurat ini dimulai sejak Maret 2026 dan mulai direalisasikan pada April. Saat ini, warga terlihat berdatangan sambil membawa material seperti atap yang telah dianyam secara sukarela. Material tersebut dikumpulkan sebagai bagian dari pembangunan sekolah darurat.
Sekretaris Negeri Manusela, Jhemz Eyale, menjelaskan bahwa seluruh pembangunan murni dari swadaya masyarakat. Mulai dari lahan hingga infrastruktur sementara. Lahan seluas kurang lebih 1 hektar dihibahkan oleh matarumah atau marga Etalo untuk pembangunan sekolah. Ini menunjukkan komitmen masyarakat dalam menjemput kelayakan akses pendidikan khususnya di daerah pegunungan Seram Utara.
Sekolah darurat ini direncanakan untuk menampung sekitar 26 siswa yang telah mendaftarkan diri di tahun ajaran baru nantinya. Warga berharap agar sekolah darurat ini tidak bertahan lama dan pemerintah dapat segera membangun sekolah permanen untuk keberlanjutan akses pendidikan yang lebih layak.
Di Negeri Manusela sendiri, tidak terdapat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Untuk melanjutkan pendidikan SMP, warga harus menuju ke negeri tetangga, yakni Maraina. Sementara itu, pembangunan SMA di Manusela masih dalam tahap perencanaan.
Saat ini masyarakat Manusela bergantung pada SMA di Hatu, Kecamatan Tehoru atau di Unit M, Maluku Tengah. Sekdes juga menyampaikan bahwa penggunaan sekolah darurat ditargetkan mulai tahun ajaran baru 2026, atau paling lambat 2027.
Namun, terkait tenaga pendidik, pihaknya masih menunggu kepastian dari Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah. Jika terkendala, Negerinya dapat membantu hal tersebut. Tenaga pendidik yang berkompeten sangat dibutuhkan.
Ketua Panitia Pembangunan Sekolah Darurat, Felmi Etalo, menyebutkan bahwa rencana pembangunan telah dimulai sejak Maret 2026 dan mulai direalisasikan pada April. Ia optimis pembangunan dapat segera rampung.
Mudah-mudahan sekolah darurat ini bisa diselesaikan bulan ini, ujarnya. Pembangunan sekolah darurat ini menjadi simbol perjuangan masyarakat pedalaman dalam menjemput pendidikan, meskipun harus menghadapi keterbatasan dan tantangan alam yang berat.











