"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Intip Kehidupan Santri di Pesantren Abdurrahman Basuri: 4 Kali Setoran Hafalan Harian

Suasana Tenang di Pesantren Tahfiz Abdurrahman Basuri

Di tengah kebisingan dunia modern, suasana tenang langsung terasa saat memasuki kompleks Pesantren Tahfiz Abdurrahman Basuri yang terletak di Jalan MT Haryono, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu. Deretan pohon rindang dari mulai gerbang hingga asrama santri seolah tidak hanya menyambut, tetapi juga menjadi penyejuk bagi siapa pun yang datang ke pesantren ini.

Pesantren Tahfiz Abdurrahman Basuri dikenal sebagai lembaga pendidikan Islam yang memiliki program unggulan dalam hafalan 30 juz Alquran dalam tiga tahun. Hal ini membuat pesantren ini mencetak puluhan hafiz Alquran setiap tahunnya. Bahkan, hampir 200-an santriwan-santriwati di pesantren tersebut tampaknya tidak memulai hari dengan kebisingan dunia, melainkan melalui lantunan ayat-ayat suci Alquran.

Setiap harinya, para santri harus menyetorkan hafalan Alquran saat dinginnya subuh masih mendekap badan, kemudian kembali setoran di tengah hangatnya matahari pagi. Selain itu, setoran hafalan juga dilakukan di tengah syahdunya senja selepas ashar, dan dalam keheningan malam setelah isya, sehingga dalam sehari para santri menyetorkan hafalan Alquran sebanyak empat kali.

Di balik dinding-dinding asrama pesantren yang sejuk, ada perjuangan melawan kantuk dan jenuh demi beberapa baris hafalan yang kelak akan menjadi penolong di hari akhir.

“Kami menggunakan metode Yanbu’a, yakni membaca berulang-ulang hingga tanpa sadar ayat-ayat Alquran menyatu dengan detak jantung para santri,” kata Pimpinan Pesantren Tahfiz Abdurrahman Basuri, Ustaz Sofiyan.

Melalui metode tersebut, Alquran seperti menghafal dirinya sendiri di dalam ingatan para santri yang juga menempuh jenjang pendidikan SMP Tahfiz Abdurrahman Basuri di kompleks pesantren.

Sofiyan menjelaskan bahwa setiap santri baru di Pesantren Tahfiz Abdurrahman Basuri juga harus menjalani serangkaian tes termasuk hafalan dadakan, sehingga bukan hafalan yang dimiliki calon santri baru tersebut. “Jadi, calon santri baru akan diminta menghafalkan Alquran dalam waktu 30 menit, dan kalau bisa menghafal empat hingga lima baris, insyaallah bisa masuk, tetapi apabila hanya dua atau tiga baris terkadang enggak masuk.”

Pihaknya mengakui, metode ujian semacam itu diterapkan, karena para santri harus menghafal ayat-ayat Alquran setiap hari selama menempuh pendidikan di pesantren, sehingga harus memiliki kemampuan untuk menghafal yang mumpuni.

Pesantren Tahfiz Abdurrahman Basuri juga memiliki fasilitas yang sangat memadai, antara lain asrama santri yang telah dilengkapi AC atau pendingin ruangan, laundry, makan sehari tiga kali, BLK, hingga ruang kelas dan sejumlah laboratorium untuk pembelajaran di SMP.

“Iuran bulanannya hanya Rp 1 juta persantri, dan sudah mengcover semuanya baik untuk pendidikan di pesantren maupun sekolahnya, sehingga sangat terjangkau, karena kami menyiapkan fasilitas yang lengkap,” kata Sofiyan.

Terjangkaunya biaya pendidikan bagi para santri tampaknya membuat jumlah peminat pesantren cukup banyak, bahkan cenderung bertambah setiap tahunnya. Padahal, pesantren hanya menerima kira-kira 80-an santri baru yang terdiri dari 40 putra dan 40 putri setiap tahunnya, sehingga proses seleksinya cukup ketat, dan tidak semua pendaftar dapat diterima.

Sofiyan menyampaikan, alasan utama pesantren hanya menerima puluhan santri baru dari ratusan peminat yang mendaftar ialah untuk menjaga kualitas lulusan, karena mereka ditargetkan harus hafal 30 juz Alquran dalam tiga tahun. “Kami menjaga kualitas alumni agar dipercaya masyarakat, karena apabila terlalu banyak dikhawatirkan kualitasnya kurang, sehingga menerapkan proses seleksi calon santri baru yang cukup ketat.”

Pihaknya pun kerap memberikan rekomendasi kepada orang tua santri mengenai jenjang pendidikan berikutnya bagi anak-anaknya setelah lulus dari pesantren. Pasalnya, ia menginginkan para alumni pesantren tersebut tetap menjaga hafalannya setelah lulus, sehingga disarankan untuk melanjutkan pendidikan ke pesantren tahfiz jenjang SMA, karena pesantren hanya memiliki pendidikan tingkat SMP.

“Beberapa opsi rekomendasinya dari mulai Pesantren Al-Ihya dan As-Syifa di Subang, kemudian Santi Asromo di Majalengka, dan lainnya. Pokoknya, yang terpenting masih ada program hafalan Alqurannya, karena jangan sampai tidak ada setoran sama sekali, hafalannya bisa lupa,” kata Sofiyan.

Dalam kesempatan itu, Sofiyan juga sempat bercerita mengenai awal mula didirikannya Pesantren Tahfiz Abdurrahman Basuri pada 2018. Kala itu, ia masih bertugas sebagai imam Masjid Abdurrahman Basuri, kemudian pemilik masjid mengungkapkan kegelisahannya mengenai kondisi masjid yang relatif sepi, sehingga berdiskusi untuk meramaikannya.

Sofiyan yang juga merupakan hafiz Alquran mengusulkan untuk membangun pesantren tahfiz, karena merasa memiliki sedikit kemampuan untuk membantu membimbing para santri dalam menghafal Alquran. “Setelah diskusi itu tiba-tiba pesantrennya langsung dibangun, dan saya langsung diminta menjadi pengasuh sekaligus pimpinannya. Alhamdulillah, sampai sekarang Pesantren Tahfiz Abdurrahman Basuri ini sudah berjalan kira-kira tujuh tahun.”

Hana Zahra

Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *