Jamu kapsul adalah salah satu inovasi yang mengubah cara masyarakat mengonsumsi jamu. Produk ini dirancang untuk memudahkan pengguna dalam mengonsumsinya tanpa harus repot-repot menyiapkan bahan-bahan tradisional. Seperti yang dialami oleh Rahma, ketika ia mencoba menyeduh jamu kapsul merek All About Ginger Acaraki. Saat kapsul dibuka, buliran rempah yang ada di dalamnya langsung keluar dan membawa aroma khas produk jamu. “Wangi dan ternyata harum banget,” ujarnya.
Meski menyisakan sedikit ampas dan harus disaring dulu sebelum diminum, menurut Rahma rasa rempah jamu kapsul itu tak kalah dari jamu segar yang dijual di tukang jamu. Ada multi rasa, baik pahit maupun rasa pedas dari jahe. Usai diminum, ada rasa hangatnya seperti tertinggal di tenggorokan. Maka itu Rahma berkesimpulan, jamu ini cocok diminum saat udara dingin atau saat musim penghujan.
Inovasi Jamu di Indonesia
Jamu kapsul merupakan salah satu inovasi yang diusung oleh industri jamu di Tanah Air. Inovasi itu mengubah persepsi lama terkait bisnis jamu, yang kerap identik dengan produk tradisional. Dengan inovasi itulah, jamu bisa tampil selayaknya produk kopi. Bahkan, jamu sudah menjadi minuman alternatif untuk nongkrong bersama relasi. Tengok saja, kafe jamu modern yang belakangan mulai bermunculan. Interiornya pun seperti coffee shop. Jauh dari kesan toko jamu yang tradisional yang kerap bau rempah.
Salah satu perusahaan jamu inovatif itu adalah PT Acaraski Nusantara Persada, yang baru-baru ini menambah gerai kafe jamu ke-6 di kawasan Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. “Jamu di Acaraki bukan sekadar produk minuman, tetapi juga pengalaman dan budaya,” ujar Jony Yuwono, Founder & Director PT Acaraki Nusantara Persada. Di gerai anyarnya ini, Jony terang-terangan mengincar turis mancanegara sebagai target pasar. Dengan lokasi dekat bandara, harapannya akan banyak pelanggan bule yang datang.
Bukan tanpa alasan, pengalamannya di gerai pertamanya di kawasan Kota Tua, 70% pelanggan mereka adalah tamu asing. Dengan begini, wisatawan bisa membeli jamu sebagai oleh-oleh untuk kembali ke negaranya atau mampir terlebih dulu saat tiba di Indonesia. Jony meyakini dengan tren gaya hidup sehat yang berkembang, jamu bisa menjadi alternatif minuman bebas kafein. Jony berambisi menjadikan kedai jamu bisa bersaing dengan coffee shop sebagai kompetitor utama.
“Jika coffee shop bisa berkembang mengapa jamu tidak? Tekniknya bisa serupa, bahannya saja yang berbeda,” ujarnya. Di Acaraki, Jony memadukan berbagai rempah dengan berbagai bahan dan metode yang sering digunakan di coffee shop. Misalnya, menu Vanilla Twilight yang konsepnya menyerupai Affogato. Bedanya, Affogato menggunakan kopi dan es krim, tetapi ini menggunakan kunyit asam dan es krim. Gayung bersambut. Setidaknya dengan cara ini, Acaraki berhasil masuk ke kalangan anak muda.
Pemain Lain dalam Bisnis Jamu Modern
Sejak berdiri 2018 lalu, pengunjungnya didominasi anak muda usia 20-30 tahun. Tak dipungkiri, harga jamu di gerainya memang lebih mahal dari produk jamu di gerai konvensional. Untuk jamu kunyit asam disajikan dengan teknik saring, tubruk atau pekat dihargai Rp 30.000 per gelasnya. “Kami melakukan kurasi, sortasi hingga penggunaan bahan organik. Bahan segar yang dikeringkan bisa menyusut sampai 90%, jadi biaya produksinya berbeda,” terangnya.
Apalagi Acaraki memiliki perkebunan tanaman jamu sendiri yang bekerja sama dengan petani di Cinagara, Bogor. Berbekal bibit unggul dari Kementerian Pertanian, lalu dikembangkan dengan cara yang baik dan benar. Pemain lain yang mengembangkan bisnis jamu modern dan inovatif adalah Suwe Ora Jamu. Nova Dewi, Founder Suwe Ora Jamu, membuka gerai pertama pada tahun 2013 di Jl Petogogan, Jakarta Selatan. Kala itu konsep yang diusungnya adalah jamu dan kopi untuk membidik anak-anak muda.
“Awalnya enggak segampang itu, tapi pelan-pelan secara organik kami punya komunitas,” ungkapnya. Di luar dugaan, meski menjual kopi dan beragam jamu kekinian, ternyata yang menjadi best seller masih jamu klasik. Rupanya kalangan muda sudah memiliki kesadaran akan gaya hidup sehat. Yang membedakan dengan pemain lain, Suwe Ora Jamu mempertahankan cara penyajian yang dilakukan ala mbok jamu gendong. Konsumen diberi panduan mencampur jamu yang diinginkan.
Tantangan dan Strategi Bisnis
Sekarang Suwe Ora Jamu punya satu gerai di Jogja, 5 gerai di Jakarta dan beberapa pop up store yang berpindah setiap 6 bulan sekali. Nova bilang, meski tahun 2025 terjadi penurunan daya beli, tak berdampak ke bisnis jamunya. Walau hanya tumbuh single digit, setidaknya usahanya masih tumbuh, baik itu penjualan offline maupun di marketplace. Nova yakin, bisnis jamu masih menjanjikan. Apalagi saat ini awareness orang terhadap jamu kian meningkat.
Agak berbeda dari pemain lain, Djampi Jawi lebih memilih menghadirkan gerai jamu dengan paket komplit yang menjadi destinasi wisata di Solo. Bukan sekadar menyajikan makanan dan minuman, tetapi juga memberikan experience dan tur tentang jamu. Konsumen yang datang diberi kesempatan mengikuti games jamu detektif untuk menebak jenis-jenis rempah. Kemudian juga ada kelas membuat jamu, mulai dari mempelajari khasiat hingga siap diminum.
Ekspansi dan Pengembangan Bisnis
Djampi Jawi bersiap membuka cabang baru di Boyolali. Jika tak ada aral melintang, gerai baru itu akan dibuka pada kuartal II nanti. Manajemen berharap, bisnis ini bisa berkembang menjadi jaringan waralaba yang bisa menjangkau daerah-daerah lain. Apalagi di daerah Jawa Tengah, yang mengusung konsep jamu masih belum banyak.
Ragam tantangan Walaupun sudah mulai menemukan pasarnya sendiri, menurut Tedjo tantangan bisnis ini adalah bagaimana menghadapi gempuran coffee shop yang semakin menjamur. Ditambah lagi edukasi mengenai jamu sampai kini masih minim. “Bukan persaingan antar perusahaan, tetapi bagaimana menghadirkan jamu di tengah coffee shop yang menjamur,” ujarnya. Segendang sepenarian, Nova pun mengamininya. Ia membeberkan sulitnya mencari tenaga kerja yang menguasai bidang jamu. Bagi anak muda sekarang, menjadi barista kopi jauh lebih keren ketimbang menjadi barista jamu.
Solusinya, Suwe Ora Jamu selalu memberikan training selama kurang lebih 3 bulan bagi karyawan yang belum memiliki latar belakang pengetahuan tentang jamu. Bagaimanapun, sumber daya manusia (SDM) memegang peranan penting dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya manfaat jamu. Di sisi lain, Sunita Bhagcandani, pemilik gerai Jamu Mbak Suni justru senang melihat banyaknya pelaku usaha yang mulai mengembangkan konsep jamu modern yang inovatif.
Menurutnya, semakin banyak yang mengembangkan bisnis jamu modern, maka akan mengedukasi pasar. “Kue bisnis jamu ini besar tapi tidak seperti kopi. Kalau konsumen kopi kan relatif sudah paham, tak perlu edukasi,” tutur Sunita. Menurut Sunita, selama ini yang menjadi persoalan besar dan tantangan bisnis jamu ada pada edukasinya. Maka itu, jika ada semakin banyak orang yang teredukasi untuk kembali minum jamu, pada akhirnya akan menguntungkan semua pebisnis di sektor jamu tersebut. Toh antara satu dan yang lain target pasarnya beda, lokasinya pun tak sama. Kini, untuk menghadapi persaingan, Sunita lebih memilih ekspansi dengan mengembangkan produk jamu seduh artisan. Bubuk jamu ini dibuat tanpa campuran dan dikerjakan manual. Per hari, 1 orang pegawai hanya bisa mengerjakan 5 jamu saja.
“Kalau ini harganya agak lumayan, kami jual 62 gram di rentang Rp 107.000-Rp 129.000,” ujar Sunita yang memasarkan produk tersebut di website Jamu Mbak Suni dan di gerainya di Pasar Modern BSD, Tangerang Selatan. Kata dia, Jamu Mbak Suni akan tetap fokus pada pengembangan jamu tradisional dengan kemasan modern. Pengembangan produk hanya dilakukan dalam bentuk snack seperti cookies jamu. Sebenarnya, menurut Sunita, juga pernah mengembangkan menu mixology, sekitar tahun 2020 lalu dengan merek Sarasaka. Beberapa menu dalam kategori itu adalah kunyit asam yakult, fruity rosella dan kunyit latte. “Kami tidak terlalu sounding, cuma kalau weekend biasanya kita suka sisipkan di daftar menu,” ujar Sunita.
Segmen B2B dalam Bisnis Jamu
Selain Ritel, Pasal Bisnis Juga Menggiurkan. Mengembangkan bisnis jamu ternyata tidaklah mudah. Bisnisnya tidak mungkin hanya mengandalkan pasar ritel semata. Demi menjaga keberlangsungan bisnis, banyak pemain membidik pasar business to business (B2B). Seperti yang dilakukan The Jamu Bar dari PT Nona Aryanta Aryaguna. Claudia Alana, Co-Founder The Jamu Bar, bilang, sejak memutuskan memindahkan usaha dari Jakarta ke Bali, pihaknya fokus masuk produk ke kafe dan hotel.
Semula The Jamu Bar berkolaborasi membuka gerai di Mall Pacific Place Jakarta, tetapi sejak pandemi usaha ini tutup. Hingga kini, nama The Jamu Bar masih tetap digunakan untuk mengembangkan produk jamu instan tradisional yang dijual ke pasar B2B. Sedangkan untuk jamu kekinian, Claudia bersama kakaknya Vanessa Kalani mengembangkan merek jamu baru yang diberi nama Nona Kalanis. Produknya cukup beragam seperti turmeric latte dan mango & ginger. Khusus segmen B2B, The Jamu Bar dan Nona Kalanis dijual dalam kemasan 1 kg yang bisa disajikan untuk 33 cup. Harganya ditawarkan mulai dari Rp 300.000 hingga Rp 415.000. Selain produk jamu instan, Claudia juga menggarap pasar B2B dengan menawarkan pelatihan atau workshop pembuatan jamu.
Workshop ini sengaja dikembangkan untuk meningkatkan edukasi masyarakat tentang jamu. Biasanya kelas workshop ini diikuti oleh klien korporasi dan sekolah-sekolah. “Kami juga ada workshop untuk ritel tapi adanya di Bali, per pax Rp 800.000,” terangnya. Sejauh ini segmen B2B menyumbang 70%-80% ke kinerja perusahaan. Menurutnya, sejauh ini, segmen B2B lebih laku terjual dibanding ritel. Permintaan dari hotel-hotel juga positif. Sedangkan untuk pasar ritel permintaannya cenderung stabil. Nah, usaha jamu ini mulanya dirintis oleh Claudia bersama sang kakak, Vanessa Kalani. Keduanya merupakan generasi keempat jamu Nyona Meneer. “Dulu sempat di Nyonya Meneer juga tapi akhirnya memutuskan untuk mengembangkan passion sendiri,” kenangnya.
Dalam menjalankan bisnis, The Jamu Bar dan Nona Kalanis memilih lokasi produksi jamunya di Salatiga. Dari kota tersebut, jamu dipasarkan secara online maupun offline. Tak hanya bagi Claudia, segmen B2B ini juga menarik perhatian Sunita pemilik Jamu Mbak Suni. Menurutnya, setahun terakhir ia mulai serius menggarap segmen B2B ke hotel, restoran dan juga tempat pijat. Walaupun secara profit margin masih lebih tinggi di ritel, namun segmen B2B volumenya jauh lebih banyak. Kalau ditotal kurang lebih akan sama. “Enggak enaknya, B2B ini ada terms of payment yang kadang bikin cash flow agak terganggu. Kan, pembayarannya tidak langsung seperti ritel,” ungkapnya.
Sejauh ini, kinerjanya masih didominasi ritel dari gerainya di Pasar Modern BSD. Kalau dibandingkan secara porsi, kisaran 70% masuk pasar ritel dan 30% untuk pasar B2B. Pemain lain yang mengembangkan segmen B2B adalah Suwe Ora Jamu. Nova Dewi selaku Founder Suwe Ora Jamu juga memasok produknya ke hotel, kafe, restoran hingga supermarket. Hanya saja, menurutnya, saat ini konsumennya masih lebih banyak yang datang langsung ke gerai. Alhasil, porsi penjualannya masih seimbang antara B2B dan ritel. “Konsumen jamu kami itu masih gemar minum buat nongkrong,” tutupnya.










