Pengalaman Mardinah, Wisudawati Terbaik di Sekolah Lansia Nurani
Mardinah (62) berhasil meraih predikat terbaik dalam wisuda angkatan pertama Sekolah Lansia Nurani. Ia dikenal sebagai peserta yang disiplin dan aktif mengikuti berbagai kegiatan produktif. Program ini tidak hanya mengubah kesepian menjadi suasana kekeluargaan, tetapi juga membuat lansia kembali aktif secara sosial dan fisik.
Melalui kurikulum berjenjang (S1-S3), lansia didorong untuk terus berdaya, terampil, dan menjadi inspirasi bagi lingkungan sekitar. Program ini menawarkan berbagai aktivitas yang tidak hanya memperkuat keterampilan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan mental dan fisik para lansia.
Pengalaman Mardinah di Sekolah Lansia
Mardinah mengungkapkan bahwa ia bergabung dengan Sekolah Lansia sejak tahun 2025. Awalnya, ia hanya mengikuti kegiatan di Panti Jompo, tetapi seiring waktu, konsep tersebut berubah menjadi Sekolah Lansia. Ia menyebutkan bahwa selama masa belajarnya, ia tidak pernah terlambat dan selalu hadir dalam setiap kegiatan.
Beberapa aktivitas yang ia ikuti antara lain membuat gelang, belajar cara menanam apotek hidup, menghiasi kue donat, dan olahraga. Ia juga menyebutkan bahwa banyak momen lucu yang dialami bersama rekan-rekan seangkatannya, seperti dibully saat melakukan kegiatan tertentu. Namun, suasana penuh canda ini justru membuat kegiatan lebih menyenangkan.
Dukungan Keluarga dan Aktivitas Sosial
Mardinah mengatakan bahwa ia mendapat dukungan penuh dari keluarganya. Ia memiliki tiga anak dan empat cucu. Dari ketiga anak tersebut, dua sudah menikah dan satu belum. Menurutnya, kehadiran keluarga sangat penting dalam menjaga semangat dan motivasinya untuk terus aktif.
Selain aktivitas sosial, program ini juga memberikan penekanan pada kesehatan. Setiap sabtu, Mardinah dan rekan-rekannya melakukan olahraga sesuai jadwal yang ditentukan. Ia juga mengatakan bahwa kegiatan di Sekolah Lansia tidak membuatnya merasa lelah, karena sudah terbiasa aktif dan memiliki kesibukan.
Kurikulum Berjenjang dan Tujuan Program
Program Sekolah Lansia dirancang sebagai bentuk intervensi sosial untuk mengubah kondisi lansia yang sebelumnya mengalami disfungsi sosial agar kembali aktif dan berfungsi di tengah masyarakat. Di tingkat S1, fokusnya adalah mengubah kepedulian menjadi kebahagiaan. Lansia yang sebelumnya kurang aktivitas didorong untuk kembali aktif dan punya semangat berinteraksi.
Di tingkat S2, pendekatan yang digunakan adalah pemberdayaan melalui keterampilan produktif. Peserta diajarkan keterampilan seperti membatik dan membuat sabun. Sedangkan di tingkat S3, targetnya adalah menjadikan lansia sebagai duta lansia yang mampu berperan aktif di masyarakat.
Pendanaan dan Kolaborasi
Sekolah Lansia tidak memungut biaya dari peserta. Seluruh pendanaan berasal dari dana keumatan dan donasi masyarakat yang dikelola Yayasan Almarhamah. Dana tersebut digunakan untuk program pemberdayaan, bukan sekadar bantuan konsumtif.
Yayasan bekerja sama dengan RT, RW, dan kelurahan setempat dalam proses perekrutan peserta. Peserta harus dalam kondisi sehat dan mampu bergerak aktif. Bagi lansia yang tidak bisa bergerak aktif, yayasan tetap memberikan dukungan melalui program khusus yang disesuaikan dengan kondisi mereka.
Materi dan Kerja Sama dengan Instansi
Kurikulum Sekolah Lansia terdiri dari 12 kali pertemuan yang dilaksanakan dua minggu sekali. Materi disampaikan oleh para ahli, mulai dari dokter spesialis hingga tenaga profesional. Materi mencakup pengetahuan umum, keterampilan, keagamaan, kesehatan fisik, hingga rekreasi.
Kurikulum ini disusun melalui kerja sama dengan Indonesia Ramah Lansia (IRL) Yogyakarta dan DP3A. Yayasan Almarhamah sebelumnya dikenal sebagai panti jompo, tetapi kini berubah konsep menjadi Sekolah Lansia yang mengembalikan lansia ke lingkungan keluarga.
Program Tambahan dan Komitmen Berkelanjutan
Selain wisuda angkatan pertama, yayasan juga menghadirkan program tambahan seperti Pesantren Lansia, BBM (Belanja Barang Sembako), serta berbagai kegiatan pembinaan. Ini merupakan bagian dari komitmen pemberdayaan lansia secara berkelanjutan.
Program ini menunjukkan bahwa lansia tidak hanya bisa bertahan, tetapi juga bisa berkembang dan berkontribusi dalam masyarakat. Dengan pendekatan yang tepat, lansia dapat menjalani hidup secara mandiri dan bermakna.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."











