"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Pencarian Remaja Tenggelam di Pantai Abudenok Malaka Dihentikan

Penutupan Operasi Pencarian yang Penuh Duka

Setelah tujuh hari pencarian tanjang dan intensif, operasi pencarian terhadap Georgio Christian Faot (15), seorang pelajar SMP Negeri Fatukoan asal Desa Niti, Kecamatan Rinhat, Kabupaten Malaka, akhirnya resmi dihentikan. Remaja tersebut diduga tenggelam di Pantai Abudenok, Desa Umatoos, Kecamatan Malaka Barat.

Penghentian operasi ini tidak hanya menjadi akhir dari prosedur standar pencarian yang dilakukan oleh Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), tetapi juga menjadi titik akhir dari harapan keluarga dan masyarakat setempat untuk menemukan korban dalam keadaan apa pun. Meski demikian, rasa duka masih menyelimuti seluruh pihak yang terlibat dalam proses pencarian.

Upaya Maksimal Selama Tujuh Hari

Selama tujuh hari pencarian, berbagai pihak bekerja sama untuk menyisir laut dan pantai. Tim SAR Gabungan, aparat keamanan, pemerintah desa, tokoh adat, serta masyarakat turut serta dalam upaya mencari korban. Mereka menggunakan perahu nelayan, perahu karet, serta drone milik Polres Malaka untuk memantau area yang luas, mulai dari Pantai Abudenok hingga Pantai Taberek, Desa Alkani, Kecamatan Wewiku.

“Sejak hari pertama kejadian, semua pihak bekerja tanpa lelah. Laut disisir, pantai dipantau, bahkan ritual adat juga dilakukan sebagai bagian dari kearifan lokal masyarakat setempat,” ujar Fransiskus Xaverius Fahik, Pelaksana Harian Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Malaka, kepada POS-KUPANG.COM.

Operasi pencarian juga melibatkan berbagai unit perahu nelayan dan satu unit perahu karet milik Basarnas. Namun, hingga hari ketujuh, tidak ada petunjuk mengenai keberadaan korban. Meskipun operasi telah dihentikan secara prosedural, Tim SAR tetap membuka ruang pemantauan lanjutan jika ada informasi baru.

Ritual Adat dan Harapan yang Tak Pernah Berakhir

Hari terakhir pencarian ditutup dengan upacara adat pendinginan yang dipimpin oleh tokoh adat setempat. Ritual tersebut dilakukan sebagai ungkapan doa dan harapan agar keluarga korban, para petugas, serta masyarakat yang terlibat dalam pencarian diberikan kekuatan dan dijauhkan dari musibah serupa di masa mendatang.

Fransiskus menegaskan bahwa meskipun operasi dihentikan secara administratif, pihaknya tetap siaga 24 jam sehari. “Tim Basarnas sudah kembali ke Kefamenanu, namun mereka tetap siaga 1×24 jam apabila ada informasi atau tanda-tanda yang mengarah pada korban,” tambahnya.

Keluarga korban, yang masih tinggal di sekitar Pantai Cemara Abudenok, tetap berharap agar anak mereka dapat ditemukan. Mereka juga mengungkapkan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu proses pencarian.

Kronologi Kejadian dan Rasa Guncang

Menurut informasi yang diperoleh, kejadian bermula saat korban bersama teman-temannya datang ke pantai untuk berekreasi. Setelah makan siang, sebagian dari mereka meminta izin untuk mandi di laut. Korban disebut menjadi orang pertama yang turun ke pantai, disusul oleh adiknya dari belakang. Namun, tak lama kemudian, peristiwa naas terjadi.

Mama angkat korban, Etelia Bani, mengaku menerima kabar tentang tenggelamnya korban dari teman-temannya. Ia mengatakan bahwa saat itu ia sedang di kebun dan langsung pulang setelah menerima telepon tersebut. Di jalan, ia terus berharap anaknya bisa ditemukan.

Di lokasi, tampak ibu kandung korban bersama adiknya berlutut dan terus menangis sambil meneriakkan nama Dito. Tangisan mereka membuat suasana semakin haru, bahkan sejumlah warga yang berada di sekitar lokasi tampak ikut meneteskan air mata.

Prosesi Ritual Adat dan Kebersamaan Masyarakat

Prosesi ritual adat juga dilakukan di kawasan pesisir pantai oleh para tokoh adat setempat bersama keluarga besar korban, sebagai bentuk doa dan harapan agar pencarian segera membuahkan hasil. Tenda berwarna merah marun bertuliskan ‘Kemensos Selalu Ada’ juga didirikan sebagai tempat berteduh dan pusat koordinasi selama proses pencarian berlangsung.

Meski operasi pencarian telah dihentikan, rasa duka dan harapan tetap menyelimuti keluarga dan masyarakat. Mereka tetap berharap agar korban dapat segera ditemukan, baik dalam keadaan apa pun.

Dina Nabila

Penulis yang mengamati perkembangan gaya hidup sehat dan tren olahraga ringan. Ia suka jogging sore, membaca artikel kesehatan mental, dan mencoba menu makanan sehat. Menurutnya, menulis adalah cara menjaga keseimbangan pikirannya. Motto: “Sehat dalam pikiran, kuat dalam tulisan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *