Temuan KPK terkait Proyek Whoosh
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menemukan indikasi adanya jual beli lahan milik negara untuk proyek Whoosh, kereta cepat Jakarta-Bandung. Hal ini menjadi perhatian serius karena lahan negara seharusnya tidak boleh dijual untuk proyek pemerintah. Adanya dugaan jual beli tersebut menunjukkan kemungkinan adanya oknum yang memperoleh keuntungan ilegal dari pengadaan lahan.
Selain itu, KPK juga menemukan indikasi mark-up atau penggelembungan harga tanah untuk proyek utang senilai Rp 118 triliun yang kini menjadi beban negara. Proyek Whoosh, yang mulai digarap pada 2016 dan resmi beroperasi pada Oktober 2023, kini sedang didalami oleh KPK.
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid mengaku tidak tahu tentang indikasi lahan negara dijual oleh oknum dalam pengadaan lahan untuk proyek Whoosh. Ia menyatakan bahwa Kementerian ATR/BPN siap memberikan seluruh data yang dibutuhkan jika diminta lembaga antirasuah tersebut. Ia meyakini bahwa proses pengadaan tanah pasti sudah melalui prosedur yang ketat.
Penjelasan dari KPK
Plt Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu menjelaskan bahwa fokus penyelidikan bukan pada operasional proyek, melainkan pada dugaan tindak pidana korupsi dalam proses pembebasan lahannya. Ia menegaskan bahwa operasional kereta cepat dapat terus berjalan, namun KPK mendalami adanya dugaan oknum yang memanfaatkan proyek strategis nasional ini untuk mengambil keuntungan tidak sah.
Modus korupsi yang didalami adalah penggelembungan harga tanah jauh di atas harga wajar. Misalnya, pengadaan lahan yang seharusnya di harga wajarnya 10 lalu menjadi 100, yang membuat negara rugi. Selain itu, ada indikasi serius bahwa ada tanah milik negara yang justru diperjualbelikan kembali kepada negara dalam proses pengadaan lahan untuk proyek Whoosh.
Proyek Whoosh Jadi Beban Negara
Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung yang diberi nama Whoosh sedang menuai sorotan. Utangnya yang mencapai Rp 116 triliun menjadi beban berat bagi BUMN Indonesia, terutama PT Kereta Api Indonesia (KAI) sebagai pemimpin konsorsium PSBI. Utang proyek Whoosh dinilai bagai bom waktu dan menjadi beban yang membuat PT KAI dan konsorsium BUMN kewalahan menanggung kerugian.
Proyek yang resmi beroperasi sejak 2 Oktober 2023 ini mengalami pembengkangan biaya (cost overrun) sebesar 1,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp 19,54 triliun, dari biaya awal yang direncanakan 6,07 miliar dollar AS. Sehingga, total investasi proyek Whoosh mencapai 7,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp 116 triliun.
Untuk membiayai investasi 7,2 miliar dollar AS pada proyek ini, 75 persen di antaranya didapat dari pinjaman China Development Bank. Sementara sisanya berasal dari setoran modal pemegang saham, yaitu PT KCIC yang merupakan gabungan dari PSBI (60 persen) dan Beijing Yawan HSR Co Ltd (40 persen).
Dugaan Penggelembungan Anggaran
Sebelumnya, eks Menko Polhukam Mahfud MD mengungkapkan adanya dugaan penggelembungan anggaran atau mark up di proyek ini melalui kanal YouTube pribadinya. Mahfud menyebut, biaya per kilometer kereta Whoosh di Indonesia mencapai 52 juta dollar AS, atau jauh lebih tinggi dari perhitungan di China yang hanya sekitar 17-18 juta dollar AS. “Naik tiga kali lipat, ini siapa yang menaikkan? Uangnya ke mana?” kata Mahfud dalam kanal YouTubenya pada 14 Oktober lalu.
Proyek Whoosh: Awal Mula dan Perkembangan
Whoosh adalah sistem kereta api berkecepatan tinggi pertama di Indonesia dan Asia Tenggara. Kereta api ini memiliki kecepatan operasional hingga 350 km/h dan memiliki relasi Tegalluar Summarecon—Halim. Proyek Whoosh yang mulai beroperasi 2 Oktober 2023 atau 2 tahun lalu, membentang antara Jakarta dan Bandung sejauh sekitar 142,3 km. Jalur kereta ini melintasi empat stasiun utama: Halim (Jakarta), Karawang, Padalarang, dan Tegalluar (Bandung).
Harga yang dipatok untuk menaiki kereta cepat Whoosh adalah Rp 250.000-Rp 300.000 untuk sekali perjalanan. Kereta cepat Whoosh memiliki tiga kelas, yakni VIP dengan total 18 penumpang, kelas 1 dengan 28 penumpang, dan kelas 2 dengan 555 penumpang.
Proyek Whoosh digagas sejak era Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 2011, dengan Jepang sebagai mitra utama melalui JICA. Namun, pada 2015, Jokowi memilih China sebagai mitra untuk membangun Whoosh. Keputusan ini dinilai kontroversial dan menyebabkan Jepang marah.











