Komnas PA Mendorong Penanganan Psikologis Terhadap Terduga Pelaku Ledakan di SMAN 72 Jakarta
Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menyoroti pentingnya penanganan psikologis terhadap terduga pelaku ledakan di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 72 Jakarta. Ketua Komnas PA, Agustinus Sirait menekankan bahwa penanganan psikologis diperlukan untuk memastikan kondisi mental dan emosional anak-anak yang terlibat dalam kasus ini.
Menurut Sirait, langkah tersebut sejalan dengan Undang-undang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA) Nomor 11 Tahun 2022 yang menjunjung hak-hak anak dalam proses hukum. Ia mengatakan bahwa penanganan psikologis merupakan prioritas utama agar anak-anak dapat direhabilitasi secara efektif.
“Ketika anak berhadapan dengan hukum, penanganan psikolog yang paling penting untuk bisa merehabilitasi anak-anak ini,” ujar Sirait di Pasar Rebo, Jakarta Timur, Selasa (11/11/2025).
Berdasarkan informasi sementara, Komnas PA menyimpulkan bahwa anak terduga pelaku ledakan di SMAN 72 Jakarta telah mengalami pengaruh negatif dari lingkungan sekitarnya. Hal ini bisa dipengaruhi oleh kondisi keluarga maupun lingkungan sekolah. Oleh karena itu, penanganan psikologis diperlukan untuk memahami penyebab tindakan terduga pelaku.
“Kita harapkan bisa pulih dari pengaruh-pengaruh yang tidak baik. Pastinya penanganan psikolog dibutuhkan, pemerintah harus hadir untuk membantu anak-anak,” tambah Sirait.
Upaya Pencegahan Kasus Serupa
Untuk mencegah kejadian serupa, Sirait mendukung rencana pemerintah dalam membatasi akses anak-anak terhadap gim dan konten media sosial yang mengandung kekerasan. Ia menilai banyak gim dan konten media sosial yang dapat mempengaruhi perilaku anak, terutama jika pengawasan orang tua minim.
“Kita tidak ada kata terlambat. Ini jadi PR kita bersama bagaimana cara membatasi supaya anak-anak terhindar dari efek negatif di sosial media. Dimulai dari siapa, dari orangtua,” ujarnya.
Motif Pelaku Terungkap
Polisi mengungkap motif pelaku ledakan di SMAN 72 Jakarta. Pelaku, yang dikenal sebagai siswa aktif di sekolah tersebut, merasa kesepian dan tidak memiliki tempat untuk menyampaikan keluh kesahnya. Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Iman Imanuddin menjelaskan bahwa dorongan pelaku berasal dari perasaan sendiri dan kurangnya dukungan dari lingkungan sekitar.
“Dorongannya di mana yang bersangkutan merasa sendiri, kemudian merasa tidak ada yang menjadi tempat untuk menyampaikan keluh kesahnya, baik itu di lingkungan keluarga kemudian di lingkungannya itu sendiri, maupun di lingkungan sekolah,” ujar Iman, Senin (11/11/2025).
Selain itu, PPID Densus 88 Antiteror Polri AKBP Mayndra Eka Wardhana mengungkapkan bahwa pelaku juga memiliki dendam atas perlakuan buruk yang dialaminya selama ini.
“Yang bersangkutan juga memiliki motivasi dendam, dendam terhadap beberapa perlakuan-perlakuan kepada yang bersangkutan,” ungkap Mayndra.
Penemuan Bahan Bom dan Lokasi Ledakan
Dansat Brimob Polda Metro Jaya Kombes Henik Maryanto menjelaskan bahwa ada dua bom yang diledakkan di area masjid. Ditemukan dua kawah ledak yang menunjukkan adanya dua bom yang meledak.
“Di sana ada dua crater, artinya ada dua kawah ledak yang kami temukan di TKP. Berarti kemungkinan diduga memang ada dua bom yang diledakkan di dalam masjid,” ujar Henik di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Selasa (11/11/2025).
Henik juga mengungkapkan bahwa bom di masjid dikendalikan melalui remote yang ditemukan polisi di taman baca. Sementara itu, bom di bank sampah dan taman baca diledakkan menggunakan sumbu bakar.
Secara keseluruhan, polisi menemukan tujuh bom, empat di antaranya telah meledak. Tiga bom lainnya masih aktif dan sudah diamankan di Markas Gegana Satbrimob Polda Metro Jaya.
Rekaman CCTV Mengungkap Gerak-Gerik Pelaku
Gerak-gerik pelaku sebelum meledakkan bom di SMAN 72 Jakarta terekam CCTV di sekolah tersebut. Dalam kasus ini, polisi menyita dan menganalisis dua DVR CCTV yang merekam kejadian pada Jumat (7/11/2025).
Pada pukul 07.28 waktu CCTV atau 06.28 secara real time, pelaku terlihat memasuki gerbang sekolah mengenakan seragam serta menggendong tas ransel dan menenteng tas jinjing. Tak lama kemudian, pelaku berpapasan dengan seorang wanita yang diduga salah satu guru di SMAN 72.
Pada pukul 11.44 WIB, pelaku terlihat memasuki masjid sambil membawa tas berwarna merah. Sekitar 20 menit kemudian, bom meledak dan pelaku berganti pakaian, terlihat menenteng senjata mainan.

Rekaman CCTV lainnya menampilkan para siswa berhamburan keluar meninggalkan area masjid untuk menyelamatkan diri. Adapun polisi menemukan dua tempat kejadian perkara (TKP) ledakan di SMAN 72 Jakarta.
TKP pertama berada di dalam masjid, di lokasi ini, tim Gegana Brimob Polda Metro Jaya menemukan beberapa barang bukti berupa serpihan plastik, potongan tas, dan paku.
Dansat Brimob Polda Metro Jaya Kombes Henik Maryanto mengatakan, ada dua bom yang diledakkan di area masjid. “Di sana ada dua crater, artinya ada dua kawah ledak yang kami temukan di TKP. Berarti kemungkinan diduga memang ada dua bom yang diledakkan di dalam masjid,” katanya.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”











