Penyebab Pesawat ATR 42-500 Milik Indonesia Air Transport Menghancurkan Gunung Bulusaraung
Kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport yang menabrak Gunung Bulusaraung kini menjadi teka-teki besar. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) sedang melakukan investigasi untuk menentukan apakah insiden maut tersebut disebabkan oleh kegagalan teknis atau kesalahan pilot.
Pihak navigasi udara telah memastikan bahwa tidak ada arahan dari petugas yang menyuruh pesawat terbang ke arah pegunungan. Hal ini diungkapkan oleh Direktur Utama AirNav Indonesia, Avirianto, dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI, Selasa (20/1/2026). Avirianto menjelaskan bahwa pesawat seharusnya sudah berbelok untuk melakukan pendaratan di runway 21 Bandara Sultan Hasanuddin. Namun, pesawat justru terus melaju lurus melampaui batas jalur aman pendaratan hingga masuk ke zona berbahaya di pegunungan Maros-Pangkep.
“Kalau kita mengikuti prosedurnya, tidak sampai ke situ (gunung), Pak,” tegas Avirianto.
Sesuai instruksi Air Traffic Control (ATC), pesawat diarahkan menuju runway 21 dari sisi selatan karena pertimbangan arah angin. Jalur pendaratan tersebut sebenarnya merupakan rute rutin yang sering dilalui dan dianggap aman jika prosedur dipatuhi.
Insiden yang terjadi pada Sabtu (18/1/2026) lalu itu pun menyisakan pertanyaan besar mengenai apa yang terjadi di dalam kokpit.
Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus, mempertanyakan mengenai siapa yang bertanggung jawab atas posisi pesawat di gunung tersebut. Ia ingin memastikan apakah manuver berbahaya itu merupakan arahan navigasi atau murni tindakan di luar prosedur.
“Berarti mengambil dari posisi gunung itu bukan arahan dari ATC? Itu kesimpulan dulu,” tanya Lasarus memastikan.
“Bukan, Pak,” jawab Avirianto.
Avirianto menjelaskan, pihaknya memang mengarahkan ke runway 21 karena faktor cuaca dan angin yang mempengaruhi performa pesawat. Namun, ia menegaskan bahwa pengalihan jalur menuju landasan seharusnya sudah dilakukan jauh sebelum mencapai area pegunungan.
“Iya, Pak. Sebenarnya kalau memang kita… karena kan kita sudah sering, Pak, datang dari situ. Kalau kita mengikuti prosedurnya, tidak sampai ke situ (gunung), Pak,” kata Avirianto.
Maka dari itu, Avirianto menyebutkan, KNKT akan mencari tahu, apakah letak kesalahan berada di pesawatnya, atau justru pilotnya.
“Kan sudah dibikin dan sudah banyak memang kita selalu kalau malam kan lewat situ pun aman, Pak. Tapi nanti dari KNKT yang akan menginvestigasi ada apa pesawat ini atau pilotnya, Pak. Karena kalau peleset ya pasti ke situ (gunung),” jelasnya.
“Makanya kita untuk ke depan kita akan lihat lagi, Pak, prosedur ini. Saya akan rubah nantinya, Pak, untuk evaluasi,” sambung Avirianto.
Selanjutnya, Lasarus menyoroti kenapa pesawat ATR 42-500 diarahkan mendarat lewat runway 21, bukan yang lainnya. Kalaupun mengubah runway pendaratan dari ATR 42-500, maka itu artinya bandara harus mengubah seluruh rencana, di mana pasti masih ada pesawat yang ada di belakang mereka.
“Sebentar, Pak, sebentar. Karena ini masih domain kita sipil, menurut saya belum masuk ke teknis. Kan khawatir mendaratnya panjang. Pesawat ini kan ATR 42 seri 500, itu butuh runway pendek, Pak. Ini tidak butuh runway panjang. Sementara runway di sana kan panjang banget, Pak,” tukas Lasarus.
“Iya, Pak. Kita antre, Pak. Di belakangnya ada Boeing, Pak. Kan di sini kan tidak cuma ATR, Pak, ada beberapa traffic yang sudah menggunakan runway dari sana, Pak. Sehingga kalau kita mengubah runway, berarti mengubah semuanya, Pak,” jelas Avirianto.
“Baik. Saya rasa ini tidak untuk berdebat, tetapi pilihan menggunakan jalur yang sekarang, itulah yang terjadi hari ini,” kata Lasarus.
Sementara itu, terkait cuaca buruk di area Bandara Sultan Hasanuddin ketika ATR 42-500 hendak mendarat, Lasarus heran kenapa ATC tidak memerintahkan pesawat tersebut berputar-putar di laut dulu saja.
“Kalau ATC punya pilihan yang lain, ini bukan pilihan yang harus dipilih, Pak. Apalagi dalam kondisi cuaca buruk. Kalau cuaca bagus, ya sudah, Pak, Bapak tidak perlu jelasin ke kita, pasti aman,” kata dia.
“Karena cuaca buruk lah tidak boleh disentuh wilayah ini. Harusnya, loh. Harusnya ATC tidak boleh mengarahkan ke situ harusnya. Harusnya ATC suruh mengarahkan saja muter-muter di laut sana gitu lho,” kata Lasarus.
“Iya, Pak,” ucap Avirianto.
“Pasti aman dia. Ini yang ngomong sama saya ini pilot lho, Pak. Saya bicara di sini, saya tanya dulu banyak orang, Pak, sampai saya bosan. Saya nanya banyak orang baru saya bicara di mic ini. Orang yang ngerti yang bicara sama saya, Pak. Bapak kan pilot juga ini? Kapten,” kata Lasarus.
“Iya, Pak,” ucap Avirianto.
“Ini kan Kepala Direktur Utama AirNav ini kapten, jam terbang tinggi. Saya tanya pilot juga, teman-temannya Bapak, ‘Pak, dalam cuaca buruk itu bukan pilihan dari situ’. Singkat ceritanya, Pak. Kalau cuaca buruk bukan ke gunung,” kata Lasarus.











