"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Kritik Saiful Mujani Boni Hargens muncul akibat ketiadaan oposisi di masa Prabowo

Penjelasan Boni Hargens Mengenai Pernyataan Saiful Mujani

Boni Hargens, seorang analis politik yang dikenal dengan pendapat-pendapatnya yang mendalam, memberikan tanggapan terhadap pernyataan Saiful Mujani yang dianggap provokatif. Perkataan tersebut berkaitan dengan upaya menggalang kekuatan untuk “menjatuhkan” pemerintahan Prabowo Subianto. Menurut Boni, pandangan terhadap pernyataan ini tidak bisa hanya dilihat dari satu sudut saja.

Ia menekankan bahwa dalam ilmu politik, setiap pernyataan harus ditinjau melalui berbagai perspektif. Dalam hal ini, Boni menjelaskan bahwa pernyataan Saiful Mujani dapat dilihat dari dua sudut pandang, yakni perspektif negara dan perspektif masyarakat sipil.

Dari perspektif negara, pernyataan tersebut bisa dikategorikan sebagai prakondisi menuju revolusi karena mengandung ide dan upaya penggalangan kekuatan. Namun, dari perspektif masyarakat sipil, itu adalah kebebasan berpendapat dan juga sebagai bentuk kekecewaan terhadap partai-partai politik yang tidak menyediakan oposisi yang kuat di tengah kekuasaan demokratis.

Menurut Boni, cara pandang negara terhadap pernyataan Saiful Mujani tidak salah karena berpotensi mengganggu kepentingan umum. Namun, ia menegaskan bahwa pemerintah ideal harus mampu menjaga keseimbangan antara perspektif negara dan perspektif masyarakat sipil.

“Sebuah pemerintahan yang ideal, itu adalah bagaimana menjaga keseimbangan di antara 2 paradigma yang bertentangan ini. Jadi, mengambil keputusan dengan tetap menjaga perspektif masyarakat sipilnya dan tetap mempertahankan kepentingan negara,” jelas Boni.

Buku Baru Boni Hargens: Ilmu Politik dari Zaman Klasik hingga Era Digital

Pada acara peluncuran dan bedah bukunya yang berjudul “Ilmu Politik dari Zaman Klasik hingga Era Digital”, Boni Hargens menjelaskan hubungan antara ilmu politik dan kajian intelijen dalam menjaga kepentingan nasional. Ia menilai bahwa keduanya saling melengkapi meski memiliki sifat yang berbeda.

“Ilmu politik tentu saja juga membahas soal kekuasaan, kepentingan negara, keamanan dan sebagainya. Jadi ilmu dan ilmu Intelijen enggak berbeda, tetapi saling melengkapi, hanya memang perdebatan di seluruh dunia bagaimana mempertemukan pendekatan intelijen yang menganut kerahasiaan dan demokrasi yang menganut keterbukaan. Di situlah penting jalan tengah,” tutur doktor lulusan Universitas Walden, Amerika Serikat tersebut.

Buku teranyar Boni Hargens ini memiliki tebal 582 halaman dan terdiri dari 10 bab. Isinya merentang dari teori politik klasik Athena hingga dampak teknologi digital dan intelijen dalam politik kontemporer.

Narasumber dan Latar Belakang Boni Hargens

Acara bedah buku ini juga menghadirkan sejumlah narasumber ahli, di antaranya Guru Besar Ilmu Politik Lili Romli, Peneliti BRIN Syafuan Rozi, dan Pengamat Politik Karyono Wibowo.

Boni Hargens sendiri merupakan intelektual muda kelahiran Manggarai, Flores, NTT. Ia sempat mengenyam pendidikan filsafat di STF Driyarkara sebelum akhirnya menempuh studi ilmu politik di Universitas Indonesia.

Boni juga mengikuti perkuliahan pascasarjana di Program Studi Asia Tenggara di Universitas Humboldt di Berlin dengan beasiswa dari KAAD sebelum akhirnya meraih gelar doktor filsafat di bidang Kebijakan Publik dan Administrasi dari Universitas Walden, Minneapolis, Amerika Serikat.

Disertasi doktoral Boni merupakan perkawinan teori kartel dan teori oligarki dalam proporsi baru yang disebut “kartelisasi oligarkis” dengan fokus pada dinamika politik Indonesia sesudah Rezim Soeharto (1966-1998).

Disertasi doktoral Boni Hargens ini terbit menjadi sebuah buku di Pennsylvania, Amerika Serikat tahun 2020 dan masih dijual terbuka di situs dunia seperti Amazon dengan judul ‘Oligarchic Cartelization in Post-Suharto Indonesia’.


Rizal Hartanto

Penulis berita dengan ketertarikan pada human interest dan kisah inspiratif. Ia senang berbincang dengan masyarakat untuk memahami realitas kehidupan. Ketika tidak menulis, ia menikmati hobi memasak dan mendengar podcast. Motto: "Menulis adalah cara merawat empati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *