"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Hilangkan Stigma Epilepsi, SMC Gelar Seminar Kenali Epilepsi Resisten Obat pada Anak di Bali

Memahami Mitos dan Fakta tentang Epilepsi

Di tengah masyarakat, masih banyak mitos yang berkembang mengenai penyakit epilepsi. Hal ini menjadi fokus utama dalam seminar awam bertajuk “Kenali Epilepsi Kebal Obat pada Anak & Remaja” yang diselenggarakan oleh SMC RS Telogorejo melalui Telogorejo Neuro Center di Kuta, Bali, pada Sabtu 11 April 2026.

dr. I Gusti Ngurah Made Suwarba, Sp.A., Sp.Neuro (K) sebagai Konsultan Neurologi Anak, menjelaskan bahwa mitos-mitos tersebut sering kali mengaitkan epilepsi dengan penyakit kutukan, kerasukan roh jahat, atau penyakit roh gaib. Namun, ia menegaskan bahwa hal itu tidak benar. Faktanya, epilepsi merupakan penyakit medis biasa yang tidak menular. Meski faktor genetik memang berperan, hanya sekitar 25 persen dari kasus yang tercatat.

Pemeriksaan genetik untuk epilepsi bisa dilakukan di beberapa kota seperti Yogyakarta dan Jakarta. Namun, di Bali belum tersedia layanan tersebut. Hal ini membuat pengujian genetik lebih sulit dan mahal.

Penyebab dan Tren Kasus Epilepsi

Menurut pengalaman dr. Suwarba di RSUP Prof Ngoerah, pasien epilepsi datang dari berbagai daerah pelosok Bali. Mereka baru mulai percaya bahwa epilepsi adalah penyakit medis biasa setelah melihat teman atau keluarga mereka sembuh melalui pengobatan medis.

Tidak ada bukti bahwa epilepsi lebih sering terjadi di desa atau kota. Jumlah kasusnya sama-sama tinggi. Namun, penelitian menunjukkan bahwa penyakit ini lebih umum terjadi di negara berkembang dengan kondisi sosial ekonomi yang kurang baik. Faktor infeksi, baik dari dalam kandungan maupun infeksi toksoplasmosis, juga menjadi salah satu penyebab.

Dari laporan dan jurnal, angka kejadian epilepsi di Bali mencapai sekitar 7 hingga 8 per 100 ribu penduduk, terutama pada anak-anak. Dari jumlah tersebut, sekitar 30 persen mengalami epilepsi yang kebal obat, yaitu kondisi di mana pasien tetap mengalami kejang meskipun mengonsumsi dua jenis obat anti-epilepsi atau lebih.

Pengobatan dan Terapi untuk Epilepsi Kebal Obat

Untuk kasus epilepsi kebal obat, pilihan pengobatan termasuk terapi teratogenik, terapi musik, pemasangan alat listrik, serta terapi pembedahan. Terapi pembedahan memiliki potensi yang cukup menjanjikan, terutama jika ada fokus epileptogenik di otak yang dapat dioperasi.

Namun, tidak semua pasien dengan epilepsi kebal obat boleh dioperasi. Pasien harus dipilih secara selektif. Jika ada bekas cedera, pendarahan, atau kelainan di otak, operasi bisa dilakukan.

Di Bali, dokter bedah saraf cukup banyak, tetapi yang spesialisasi dalam pembedahan epilepsi masih jarang. Ini menjadi tantangan dalam menghadapi tren peningkatan kasus epilepsi.

Penyebab Peningkatan Kasus Epilepsi

Penyebab peningkatan kasus epilepsi antara lain kesadaran masyarakat yang meningkat terhadap pentingnya berobat. Dahulu, pasien epilepsi sering disembunyikan karena malu, tetapi kini mereka lebih terbuka untuk mencari pengobatan. Selain itu, kemajuan teknologi di bidang perinatologi juga turut berkontribusi. Bayi prematur atau berat badan rendah dulu sering meninggal, tetapi kini sebagian dari mereka hidup dan mengalami komplikasi jangka panjang seperti epilepsi.

Upaya Menghapus Stigma dan Menyebarkan Kesadaran

Sosialisasi mengenai epilepsi dilakukan untuk menghapus stigma yang masih melekat di masyarakat. Salah satu narasumber, Adhitia Budi dari Yayasan Kesehatan Telogorejo, menyatakan bahwa masyarakat masih melihat epilepsi sebagai kutukan. Padahal, penyakit ini bisa dipelajari dan diobati.

Bali dipilih sebagai tempat sosialisasi karena menjadi hub bagi NTB, Lombok, dan NTT. Seminar ini juga mengundang para guru sekolah agar mereka lebih siap menghadapi anak dengan epilepsi saat terjadi serangan.

Selain itu, seminar ini juga menjadi bagian dari upaya untuk mengubah pandangan masyarakat. Epilepsi dapat diobati baik melalui metode medis maupun non-medical, asalkan dilakukan secara paralel dan sesuai dengan kebutuhan pasien.


Daliyah Ghaidaq

Jurnalis yang membahas isu anak muda, dunia komunitas, dan tren karier modern. Ia suka membaca blog produktivitas, mencoba teknik manajemen waktu, serta membuat jurnal harian. Motto: “Pemuda yang tahu informasi adalah pemuda yang kuat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *