Perundingan Iran dan Amerika Serikat Memasuki Fase Kritis
Perundingan antara Iran dan Amerika Serikat telah berlangsung selama 8 jam sejak dimulai pada Sabtu (11/4/2026). Kedua negara masih terus berdiskusi mengenai berbagai aspek, termasuk keamanan, diplomasi, dan ekonomi. Sementara itu, Pakistan, sebagai pihak ketiga yang menjadi mediator, terus berusaha membangun kepercayaan di antara kedua belah pihak.
Perundingan saat ini memasuki fase kritis. Pihak Iran tampaknya menganggap Amerika Serikat kurang fleksibel dalam beberapa isu penting. Meski begitu, Amerika Serikat bersedia mengalah pada beberapa hal, tetapi masih cukup alot terkait tuntutan Iran soal Selat Hormuz. Sumber-sumber dari Pakistan menyatakan optimisme mereka bahwa sesuatu akan dihasilkan dari pembicaraan antara AS dan Iran. Namun, hasil akhirnya masih perlu dinanti, apakah berupa perpanjangan gencatan senjata, kelanjutan pergerakan bebas melalui Selat Hormuz, atau sesuatu yang lebih substansial mengenai program nuklir.
Dalam laporan Al Jazeera, diplomat yang berbicara menegaskan bahwa diplomasi terbaik dilakukan secara tertutup. Jika dilakukan melalui media, kemungkinan besar tidak akan berhasil. Setelah delapan jam, informasi mulai terungkap sedikit demi sedikit, tetapi hal-hal substansial masih bersifat spekulasi dan sensitif. Selain itu, para politisi Pakistan juga diminta untuk tidak berbicara, sehingga pihak tuan rumah belum memberikan komentar apa pun.
Sebelumnya, AS dan Iran telah memulai negosiasi di Islamabad, Pakistan, pada Sabtu (11/4/2026). Wakil Presiden JD Vance mewakili AS, sedangkan delegasi Iran dipimpin oleh Ketua Parlemen Bagher Ghalibaf.
Situasi di Selat Hormuz Mulai Berubah
Sementara itu, situasi di Selat Hormuz mulai berubah sejak menjelang perundingan Iran dan Amerika Serikat. Menurut situs MarineTraffic, sejumlah kapal yang kebanyakan dari China, telah melintasi selat tersebut atau sedang dalam perjalanan dari Teluk Persia menuju ke sana.

Menurut laporan CNN, Sabtu (11/4/2026), sebuah kapal pengangkut barang asal China telah melintas tadi malam usai berangkat dari pelabuhan Umm Qasr di Irak hampir sebulan yang lalu. Dua kapal tanker minyak mentah China, masing-masing berkapasitas sekitar 300.000 ton, sedang menuju Selat Hormuz pada Sabtu (11/4/2026). Keduanya tampak terisi penuh dan berlayar dekat dengan pantai Iran.
Kemudian, sebuah kapal tanker gas alam cair berbendera Botswana tampaknya melakukan upaya kedua untuk meninggalkan Teluk setelah berbalik arah pada Jumat (10/4/2026) pagi. Meski demikian, kondisi lalu lintas kapal di Selat Hormuz masih jauh lebih kecil dari biasanya, sekitar 100 kapal per hari.
Menurut kantor berita Iran Tasnim, kondisi saat ini untuk transit kapal tanker melalui Selat Hormuz merupakan tanggapan atas apa yang diklaim Teheran sebagai pelanggaran perjanjian gencatan senjata oleh AS. Hal ini termasuk serangan berkelanjutan Israel terhadap Hizbullah di Lebanon. Iran menegaskan, kapal hanya dapat melewati selat tersebut dengan persetujuannya.
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”











