Peran Pasukan Perdamaian PBB dan Kritik terhadap Tugas yang Berisiko
Presiden ke-6 Republik Indonesia, Jenderal (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menyampaikan pernyataan penting mengenai tugas pasukan perdamaian PBB. Ia menegaskan bahwa pasukan tersebut tidak memiliki senjata lengkap dan hanya bertugas menjaga perdamaian, bukan melakukan peacemaking. Hal ini diungkapkan SBY sebagai respons atas insiden yang menewaskan tiga personel TNI dari Kontingen Garuda XXIII/S dalam operasi Unifil di Lebanon.
Tugas Pasukan Perdamaian PBB
Menurut SBY, tugas utama pasukan perdamaian PBB adalah menjaga perdamaian atau peacekeeping. Hal ini berbeda dengan peacemaking, yang melibatkan tugas-tugas lebih keras seperti mengakhiri konflik. Dalam Piagam PBB, Chapter 6 mengatur tugas peacekeeping, sedangkan Chapter 7 mencakup tugas untuk “mengenakan perdamaian” atau lebih dikenal dengan peacemaking.
“Peacekeeper tidak dipersenjatai secara kuat dan tidak pula diberikan mandat untuk melaksanakan tugas-tugas pertempuran,” ujar SBY dalam akun X-nya.
SBY juga menjelaskan bahwa kontingen Indonesia saat ini tidak lagi berada di area ‘blue line’ yang memisahkan wilayah Israel dan Libanon, tetapi sudah masuk ke daerah perang atau ‘war zone’. Keadaan ini membuat para pasukan perdamaian berisiko tinggi karena terlibat langsung dalam pertempuran antara pihak Israel dan Hizbullah.
Ancaman bagi Pasukan Perdamaian
Kondisi yang terjadi saat ini sangat membahayakan bagi pasukan perdamaian. Menurut SBY, setiap saat mereka bisa menjadi korban dari pertempuran yang sedang berlangsung. Oleh karena itu, ia menyarankan agar PBB segera mengambil langkah tegas untuk menghentikan penugasan Unifil atau memindahkan markas mereka ke luar medan pertempuran.
Dewan Keamanan PBB harus segera bersidang dan mengeluarkan resolusi yang jelas dan tegas, menurut SBY. Ia juga mengingatkan bahwa PBB tidak boleh menggunakan standar ganda dalam menangani situasi serupa.
Insiden Gugurnya TNI di Lebanon
Sebelumnya, Unifil melaporkan kematian tiga personel TNI dalam insiden ledakan proyektil dan ranjau di Lebanon. Kopda Anumerta Farizal Rhomadhon gugur akibat ledakan proyektil di dekat pos Indonesia di Adchit Al Qusayr. Sementara itu, Mayor Inf Anumerta Zulmi Aditya Iskandar dan Serka Muhammad Nur Ichwan gugur akibat ledakan ranjau saat konvoi.
SBY menyampaikan duka cita atas gugurnya tentara tersebut. Sebagai purnawirawan, ia merasa pilu melihat keluarga yang ditinggalkan. “Hati saya ikut tergetar. Memang seorang prajurit disumpah untuk siap mengorbankan jiwa dan raganya ketika tugas negara memanggil. Namun, saya bisa merasakan duka yang mendalam dari keluarga mereka (istri, anak dan orang tua),” ujar SBY.
Permintaan Investigasi yang Jujur dan Adil
Mantan Kaster TNI tersebut sepakat dengan Presiden RI Prabowo Subianto agar PBB melakukan investigasi menyeluruh atas kejadian ini. SBY menekankan bahwa investigasi harus dilakukan secara serius, jujur, dan adil. Ia menegaskan bahwa pemerintah RI berhak menuntut jawaban dari PBB atas serangan-serangan yang terjadi.
“Indonesia berhak untuk itu. PBB (utamanya Unifil) dengan penuh rasa tanggung jawab, harus bisa menjelaskan mengapa sejumlah insiden beruntun yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan luka-luka ‘peacekeeper’ dari Indonesia itu terjadi,” ujar SBY.
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”











