Tekanan Industri Petrokimia Akibat Konflik Timur Tengah
Industri petrokimia nasional kini menghadapi tekanan berat akibat konflik di kawasan Timur Tengah yang terus berlangsung. Hal ini menyebabkan gangguan pada rantai pasok, sehingga stok bahan baku semakin menipis. Sementara itu, jalur alternatif pengiriman membutuhkan waktu yang jauh lebih lama, hingga tiga kali lipat dari biasanya.
Pada awal Maret 2026, penutupan Selat Hormuz memaksa para pengusaha plastik dalam negeri untuk mencari sumber bahan baku seperti Nafta ke Afrika guna menjaga kelancaran produksi. Sebelumnya, industri plastik domestik sangat bergantung pada pasokan dari kawasan Timur Tengah, dengan porsi mencapai 70% dari total kebutuhan bahan baku.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas), Fajar Budiono, menjelaskan bahwa eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran telah memutus rantai pasok konvensional. Untuk mengatasi hal ini, pelaku usaha mulai mencari pasar alternatif, meskipun dengan risiko waktu tempuh yang lebih lama.
“Saat ini, pasokan Nafta yang selama ini bergantung pada Timur Tengah harus dialihkan ke sumber alternatif seperti Afrika, Asia Tengah, hingga Amerika Serikat,” ujar Fajar kepada Bisnis, Minggu (5/4/2026). Ia menambahkan bahwa pengalihan rute pasokan ke luar kawasan Timur Tengah memicu pembengkakan waktu pengiriman yang signifikan.
Berdasarkan kalkulasi Inaplas, jika pengiriman dari Timur Tengah biasanya hanya memakan waktu 10 hingga 15 hari, pasokan dari Afrika atau Amerika Serikat membutuhkan waktu minimal 50 hari untuk sampai ke pelabuhan Indonesia. Selisih waktu lebih dari satu bulan ini menuntut ketahanan stok bahan baku yang lebih kuat di dalam negeri.
“Kita sudah mengantisipasi hal tersebut sampai dengan 50 hari ke depan untuk mendapatkan alternatif pasokan. Bahan baku yang tersisa sekarang harus benar-benar direncanakan agar suplai ke lokal tidak terganggu,” tambahnya.
Di tengah ketidakpastian ini, Fajar memaparkan bahwa industri plastik saat ini beroperasi pada level kapasitas terendah. Langkah ini diambil secara sengaja sebagai bagian dari strategi bertahan agar perusahaan tetap mampu menjaga nilai ekonomi di tengah mahalnya biaya logistik dan keterbatasan bahan baku.
Situasi ini kian pelik karena disrupsi terjadi tepat saat industri sedang fokus pada distribusi produk jadi untuk kebutuhan Lebaran. Momentum gejolak harga minyak mentah global yang melonjak sejak pekan kedua Maret 2026 pun langsung memberikan tekanan pada struktur biaya produksi.

Mitigasi dan Inovasi Bahan Baku
Fajar juga mendorong para pelaku industri untuk melakukan inovasi pada komposisi bahan baku. Salah satu langkah konkretnya adalah meningkatkan porsi konten daur ulang (recycled content) dari sebelumnya hanya 5%—10% menjadi 10%—30%. Dia menjelaskan langkah mitigasi ini mendesak dilakukan untuk menyiasati “harga normal baru” yang dipicu oleh ketegangan geopolitik.
Selain daur ulang, industri juga disarankan menggunakan material pengisi (filler) seperti kapur, kalsium karbonat, talek, hingga silika untuk menekan biaya tanpa menghilangkan fungsi utama plastik.
“Kita harus bisa mengontrol apa yang bisa kita lakukan agar barang jadi plastik ini tetap terjangkau. Caranya adalah dengan inovasi, termasuk melakukan down-gauging atau pengurangan ketebalan dan dimensi produk,” ujar Fajar.
Kondisi pasar saat ini, menurut Fajar, mulai menunjukkan pola anomali yang menyerupai krisis hebat pada tahun 1998 dan 2008. Meski saat ini selisih harga terendah dan tertinggi bahan baku mulai menyempit ke level US$400 per ton, tren fluktuasi ekstrem tetap membayangi.
Sebagai gambaran, pada krisis 2008, harga bahan baku melonjak dari US$800 ke level ekstrem US$2.100 per ton sebelum akhirnya mendarat di titik keseimbangan baru US$1.000 per ton. Fajar memproyeksikan, meskipun perang di Timur Tengah mereda, harga plastik tidak akan kembali ke level semula, melainkan akan menetap di angka yang lebih tinggi.
Lonjakan harga yang menekan industri ini berhulu dari konflik bersenjata antara Iran dan Israel yang melibatkan Amerika Serikat. Ketegangan di Jazirah Arab tersebut memicu harga minyak mentah jenis Brent menembus level US$100 per barel.

Dampak paling signifikan terasa pada jalur logistik Selat Hormuz. Sebagai urat nadi yang menopang 70% pasokan minyak global, pembatasan di jalur ini menghambat distribusi sekitar 102 juta barel per hari. Akibatnya, harga komoditas turunan seperti polypropylene telah meroket hingga 250% sejak awal tahun.
Di sektor hulu, pengusaha kini mulai melirik alternatif Nafta dengan memanfaatkan kondensat, LPG, atau propan. Inaplas juga mendesak pemerintah melakukan kajian ulang terhadap pasokan impor dari negara non-Timur Tengah, termasuk melirik China yang saat ini tengah mengalami surplus pasokan.
“Pemerintah tidak bisa mengintervensi dinamika global ini secara langsung. Jadi yang bisa kita kontrol adalah mitigasi alternatif pasokan dan bahan baku. Itu yang perlu dikaji bersama,” pungkas Fajar.
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”











