"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Iran dan AS Pilih Pakistan, Indonesia Terpinggir? Ini Analisis Pakar

Shehbaz Sharif Tawarkan Pakistan sebagai Mediator Konflik Iran dan AS

Shehbaz Sharif, Perdana Menteri Pakistan, mengumumkan bahwa negaranya siap menjadi mediator dalam konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Bahkan, ia menawarkan lokasi perundingan di Pakistan untuk memfasilitasi dialog antara kedua belah pihak. Pernyataan ini disambut positif oleh keduanya, yang memberikan sinyal bahwa mereka terbuka untuk berdiskusi.

Pengamat internasional menilai bahwa Pakistan lebih dipilih dibanding Indonesia karena beberapa faktor penting. Pertama, Pakistan memiliki hubungan historis dan sosio-kultural yang kuat dengan Iran. Kedua, diplomasi aktif yang dilakukan Pakistan membuatnya lebih diterima oleh kedua pihak. Ketiga, posisi Pakistan yang dinilai tidak terlalu condong ke AS, sehingga lebih netral dalam konflik ini.

Sinyal Positif dari Iran dan AS

Menurut laporan dari Associated Press (AP), Shehbaz Sharif menyatakan bahwa Pakistan sepenuhnya mendukung upaya dialog antara AS dan Iran. Di sisi lain, Iran juga memberikan isyarat positif terhadap peran Pakistan sebagai mediator. Utusan Khusus AS, Steve Witkoff, bahkan mengonfirmasi bahwa Pakistan bertindak sebagai mediator dalam diskusi antara ketiga pihak.

Witkoff menyebut bahwa pertemuan antara Iran, AS, dan Pakistan akan digelar pekan ini. Selain itu, dirinya juga menyampaikan bahwa AS telah mengirimkan 15 poin tindakan kepada Iran untuk negosiasi mengakhiri konflik. “Kita akan lihat ke mana arahnya, dan apakah kita bisa meyakinkan Iran bahwa ini adalah titik balik di mana tidak ada alternatif yang baik bagi mereka selain kematian dan kehancuran yang lebih parah,” ujarnya.

Indonesia Tersisih Meski Awalnya Siap Memediasi

Meski belum ada pernyataan resmi bahwa Pakistan menjadi mediator, pernyataan dari Shehbaz Sharif dan Witkoff seakan menutup peluang Indonesia untuk menjadi penengah. Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Indonesia sempat menyatakan kesiapannya untuk menjadi mediator saat konflik Iran dan AS pertama kali meletus pada 28 Februari 2026 lalu. Bahkan, Presiden Prabowo Subianto disebut mau terbang ke Tehran untuk memediasi kedua belah pihak.

Namun, pengamatan para ahli menunjukkan bahwa Indonesia kurang diminati sebagai mediator. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk kurangnya kedekatan historis dengan Iran dan sikap politik luar negeri yang dinilai condong ke AS.

Mengapa Pakistan Lebih Dipilih?

Yulius Purwadi Hermawan, pengamat hubungan internasional dari Universitas Parahyangan (Unpar), menjelaskan bahwa Pakistan lebih dipilih karena memiliki kedekatan historis dan sosio-kultural dengan Iran. Selain itu, Pakistan tetap mengkritik serangan AS meskipun masuk sebagai anggota Board of Peace (BoP). Hal ini tidak dimiliki oleh Indonesia.

Yulius juga mengkritik langkah-langkah politik luar negeri Indonesia dalam konteks konflik Iran. Menurutnya, Indonesia terlihat condong membela AS, seperti masuk BoP, tidak mengutuk serangan AS dan Israel ke Iran, serta tidak mengucapkan duka cita atas wafatnya Pemimpin Tinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei.

Diplomasi yang Proaktif dan Emphatik

Selain itu, Yulius menilai bahwa Pakistan jauh lebih proaktif dan cerdas dalam melakukan diplomasi multilevel dibanding Indonesia. Ia menilai bahwa Pakistan mampu berkomunikasi secara empatik dengan kedua belah pihak, sehingga AS dan Iran merasa bahwa kepentingan mereka dapat diamankan.

Sementara itu, komunikasi Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono, dinilai tidak luwes ketika berkomunikasi dengan Menlu Iran, Abbas Araghchi. Hal ini membuat Menlu Iran merasa tidak nyaman dan akhirnya tidak percaya.

Hubungan Panjang AS-Pakistan hingga Kedekatan Personal Pejabat

Ferdiansyah Rivai, dosen Fakultas Hubungan Internasional dari Universitas Sriwijaya (Unsri), menjelaskan bahwa pejabat Indonesia tidak memiliki kedekatan personal dengan tokoh AS. Berbeda dengan Pakistan yang memiliki sejarah panjang bersama AS. Rivai juga menilai bahwa tidak adanya pangkalan militer di Pakistan merupakan bukti bahwa negara tersebut dihormati oleh AS.

Ia menambahkan bahwa hubungan antara AS dan Pakistan tidak hanya terbatas pada masalah ekonomi, tetapi juga keamanan, seperti isu Afghanistan dan China. Hal ini tidak dimiliki oleh Indonesia.

Peluang Damai yang Masih 50:50

Meski Pakistan memiliki sejumlah keunggulan, Rivai mengatakan bahwa peluang damai antara AS dan Iran tidak bisa terealisasi secara mudah. Pasalnya, Pakistan juga memiliki kepentingan dalam upaya mendamaikan kedua negara tersebut. Misalnya, Pakistan bergantung pada pasokan energi dari negara-negara Timur Tengah dan khawatir eskalasi di Iran akan berdampak pada keamanan dan migrasi pengungsi.

Rivai juga mengatakan bahwa Pakistan berada di bawah pengaruh besar AS terkait sektor ekonomi. Oleh karena itu, peluang damai antara AS dan Iran masih 50:50.

Harapan untuk Solusi Win-Win

Akhirnya, Rivai berharap bahwa konflik antara AS dan Iran akan selesai ketika keduanya sama-sama frustrasi akibat kerugian yang dialami. “Ini (perdamaian) akan bergantung dari seberapa frustrasi Iran dalam menghadapi kerusakan-kerusakan infrastruktur dan ekonomi yang dialami selama perang,” katanya.

Ia juga menyoroti tekanan hebat yang dialami AS dari dalam negeri serta ongkos perang yang sangat mahal. Dengan kondisi ini, ia berharap kedua negara dapat menemukan solusi win-win yang bisa mengakhiri konflik.

Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *