Film “Aku Harus Mati” Mengangkat Isu Hutang dan Pesugihan
Film terbaru yang berjudul Aku Harus Mati menjadi perhatian publik, khususnya karena isu-isu yang diangkat dalam ceritanya. Film ini dibintangi oleh Hana Saraswati, seorang bintang sinetron dan film ternama. Dalam film ini, ia memerankan tokoh bernama Mala, seorang wanita yang terlilit hutang dan dikejar-kejar oleh para debt collector. Untuk memainkan peran tersebut, Hana mengambil langkah besar dengan membuka mata batinnya, yang akhirnya menyebabkan gangguan selama setahun.
Film yang diproduksi oleh Rollink Action ini tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga menjadi kritik sosial terhadap obsesi masyarakat terhadap status dan jalan instan menuju kekayaan. Hana Saraswati mengatakan bahwa film ini sangat relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini, terutama mengenai isu hutang dan pesugihan. Ia menilai bahwa banyak orang yang terjebak dalam utang, baik melalui Pinjaman Online (Pinjol) maupun cara-cara lain, demi meningkatkan status hidup mereka.
Peran yang Menantang dan Pengaruhnya
Hana Saraswati mengaku sangat senang mendapatkan tawaran dari sutradara Hestu Saputra untuk terlibat dalam film horor ini. Ia merasa bahwa cerita yang disampaikan dalam film ini sangat dekat dengan kehidupan nyata. Menurutnya, isu hutang dan pesugihan adalah hal yang sering diabaikan oleh masyarakat, padahal bisa berdampak besar pada kehidupan seseorang.
Menurut Hana, perilaku seperti menjual jiwa demi harta adalah konotasi dari kehilangan ketenangan batin. Ia menjelaskan bahwa banyak orang kini lebih memilih jalan instan, seperti pinjaman online atau hubungan yang tidak sehat, demi mendapatkan status sosial yang lebih tinggi. Namun, ia menegaskan bahwa hal tersebut justru membuat kehidupan menjadi tidak tenang dan penuh tekanan.
Film ini juga menjadi pesan bagi masyarakat agar tidak mudah terjebak dalam hutang atau penggunaan Pinjol. Hana menekankan bahwa kesuksesan tidak bisa dicapai secara instan. Jika seseorang mencoba jalur singkat, seperti berhutang atau meminjam uang, maka risiko yang dihadapi akan sangat besar. Ia mengingatkan bahwa siapa pun bisa ditagih di masa depan, tanpa diketahui pasti siapa yang akan menagih.
Pengalaman Pribadi Saat Syuting
Di balik layar, Hana Saraswati mengalami pengalaman tak terduga saat menjalani proses syuting film Aku Harus Mati. Ia memutuskan untuk membuka mata batinnya demi mendalami perannya sebagai Mala. Akibatnya, ia bisa melihat makhluk astral di sekelilingnya. Meski menurutnya itu adalah pengalaman yang mengesankan, namun setelah syuting, hidupnya menjadi tidak nyaman dan menakutkan.
Hana mengungkapkan bahwa setelah syuting, ia tidak bisa menutup mata batinnya selama satu tahun. Hal ini membuat kehidupannya menjadi tidak stabil. Ia mengaku bahwa dirinya menjadi lebih sensitif terhadap makhluk ghaib dan sering melihat bayangan yang mengganggunya. Bahkan, ia mengatakan bahwa ada beberapa bagian di mana ia melihat sesuatu yang menakutkan di sekitarnya.
Untuk mengatasi kondisi ini, Hana melakukan konsultasi dengan pakar dan ritual tertentu. Namun, meskipun begitu, mata batinnya tetap terbuka. Ia mengakui bahwa pengalaman ini memberinya wawasan baru tentang dunia spiritual, meskipun terkadang menyulitkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan Sosial yang Disampaikan
Irsan Yapto, eksekutif produser dari Rollink Action, menyampaikan bahwa tujuan dari film ini adalah memberikan pesan baik kepada masyarakat tentang bahaya berhutang. Ia menilai bahwa saat ini, berhutang telah menjadi budaya yang diterima masyarakat, terutama demi meningkatkan status sosial. Dengan tema “jual jiwa demi harta”, film ini ingin menyampaikan pesan bahwa kesuksesan tidak bisa dicapai dengan cara instan.
Film Aku Harus Mati juga dibintangi oleh Amara Sophie, Prasetya Agni, dan aktor-aktor lainnya. Dengan alur cerita yang kuat dan pesan sosial yang jelas, film ini diharapkan bisa menjadi pembelajaran bagi penonton tentang pentingnya menjaga ketenangan batin dan tidak terjebak dalam kebiasaan buruk seperti berhutang atau menggunakan Pinjol.











